Roro Jonggrang Cewek Anti-Bucin

Gde Mahesa

Rata-rata semua pasti udah denger story Roro Jonggrang kan? Udah mainstream banget di buku LKS SD. Tapi please deh, versi aslinya tuh lebih chaotic dari drakor perselingkuhan.

FYI dulu biar nggak salah paham: Roro Jonggrang tidak sama dengan Prambanan.  
Candi Prambanan itu aslinya Candi Siwagrha, dibangun abad ke-9 sama Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya buat nyaingin Borobudur-nya Syailendra.

Jadi Roro Jonggrang itu cuma “branding” rakyat, bukan arsiteknya. Jangan ketuker ya, bestie!

Syahdan, di Jateng dulu ada dua kerajaan yang vibes-nya kayak Tom & Jerry: Pengging vs Prambanan yang keratonnya di Ratu Boko.

Pengging dipimpin Prabu Damar Moyo. Wilayahnya subur, ijo royo-royo, tapi tiap hari kena mental hit. Kenapa?

Rakyatnya mulu yang jadi sasaran prank tentara Prambanan. Raja Damar Moyo udah greget pengen war, tapi sadar diri: power prajuritnya nggak sebanding. Lawan Ratu Boko tuh kayak nantang final boss padahal masih level 1.

Daripada nyerah, beliau main strategi: nyuruh anaknya, Raden Bandung, buat semedi alias manifesting ke dewa minta buff kekuatan OP. Dan boom! Raden Bandung dapet cheat code: pasukan jin Bondowoso. Sejak itu namanya rebranding jadi Bandung Bondowoso.

Sejak dapet buff jin, auranya beda. Dari pangeran soft boy jadi final boss Jateng.
Bandung Bondowoso langsung gas ngeratain Prambanan. Ratu Boko tewas, istana chaos, dan doi win total.

Tapi plot twist: di puing-puing istana, dia nggak sengaja ketemu ultimate loot — Roro Jonggrang, anaknya Ratu Boko.

Visual Roro? Nggak ngotak. Cakepnya unreal, auranya princess banget. Bandung Bondowoso yang tadinya mode barbar langsung termehek-mehek. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Simping level dewa.

Skin dewi, aura ningrat, tapi matanya nyimpen dendam 1000 tahun.

Bandung Bondowoso yang biasanya barbar, tiba-tiba mode kalem. Jatuh cinta tuh emang skill issue.

Langsung nembak, nggak pake basa-basi:  “Aku wes ngasorake kratonmu, and bokapmu dah tak kirim to heaven. Saiki koe dadi ratuku yo, cah ayu?”

Roro Jonggrang keep silent. Otaknya nge-lag. Di depan dia adalah pembunuh bapaknya. Di belakang dia rakyat Prambanan yang nunggu dia jadi tumbal atau pahlawan. Nolak berarti mati. Terima as like jual harga diri.

Akhirnya dia pake jurus cewek cerdas 1000 IQ:  “Nggeh, Kanjeng. Tapi kulo nyuwun mas kawin 1000 candi lan 2 sumur jeru, harus rampung sakdurunge jago kluruk. Nek gagal, kulo mboten sido.”

Bandung Bondowoso ketawa, over-pede: “Gampang! Jin gue lebih rajin dari ojol subuh.”

Bandung Bondowoso langsung gasz jam 7 malem fondasi beres.  
Jam 10 malem 400 candi berdiri.  
Jam 1 pagi 800 candi.  
Jam 3 pagi 999. Tinggal satu lagi.

Roro Jonggrang keringet dingin. Ini cowok kok cheat banget. Jam 3.30 tak kurang akal calling tipis-tipis ke para dayang agar segera mengumandangkan lesung dan mbakar damen sak deso ! Agar mendapatkan efek suasana pagi, dan membangunkan ayam-ayam berkluruk dan berkokok.

BOOM. Sedesa Prambanan jadi alarm palsu. Lesung ditumbuk, obor nyala, ayam-ayam kena mental langsung kluruk massal. Langit jadi merah kayak fajar menyingsing.

Para crew Jin Bondowoso yang lagi pasang atap candi ke-1000 langsung panik attack:  
“Waduh Bos! Udah subuh! Kita kena azab kalo kerja siang!” Kabur. Logout. Ninggalin semen setengah kering.

Bandung Bondowoso bengong liat candi ke-1000 mangkrak. Terus dia lirik ke timur. Matahari belum nongol. Dia lirik Roro Jonggrang yang senyum tipis nahan panik.

Bandung Bondowoso tampak nggak marah karena proyek gagal justru dia merasa malu karena di Prank didepan tim 1000 jin.

Jelas hal ini membuat reputasi ancur.  Bucinnya tidak dihargai. Padahal ia sudah ngalahin se-kerajaan yang berarti apa yg ada disitu adalah rampasan perang.

Sad boy awakening “Hmmm… dari awal kelihatan dia nggak mau sama gue “

Wajahnya yang tadi ganteng jadi gelap bagai senthong tanpa senthir. Suaranya pelan tapi nusuk ke tulang: “Jadi… kowe luwih milih ngapusi aku, tinimbang dadi ratuku? Kowe rela ndelok aku isin sak jagat Prambanan… mung kanggo nolak lamaranku “

Roro Jonggrang nunduk. Nggak jawab. Karena jawabannya jelas yess.

Dan itu yang bikin Bandung Bondowoso benar-benar broken heart. Bukan cuma egonya, tapi hatinya. Cowok se-OP itu ternyata cuma badut di mata cewek yang dia kagumi.

Bandung nggak teriak, nggak ngamuk lempar batu, tetep berusaha cool, dia cuma ngangkat tangan, napasnya berat, terus menggumam baca mantra : “Yowis. Tak terima semua kejadian, dan agar sempurna mencapi 1000, maka kamulah yang menggenapinya menjadi candi nomer sewu… Jadi…jadilah sepanjang masa, melengkapi karyaku sing gagal karena kau perdaya…”
JLEB.

Roro Jonggrang mau lari, tapi kakinya langsung kaku. Dari ujung kaki, kulitnya berubah jadi batu. Naik ke dengkul, ke pinggang, ke dada. Dia mau teriak, tapi bibirnya keburu membatu. Mata meneteskan air… dan itupun jadi batu.

Bandung Bondowoso cuma diem. Nggak puas, nggak nyesel. Cuma kosong. Karena dia sadar : dia baru aja mengutuk satu-satunya cewek yang dia cinta pada first love.
Win the battle, lose the war.

Sejak itu dia ngilang. Nggak ada yang tau kemana. Ada yang bilang jadi pertapa, ada yang bilang bunuh diri di Kali Opak.

Bullll….. bullllll…. klepussss…..

Ada Leo di Antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang

Penulis (Martua Silalahi) dengan latar belakang Candi Prambanan. (foto: dok jayakartanews)

JAYAKARTA NEWS – Ingat candi Prambanan, ingat Leo Patty. Mungkin Anda menebak-nebak, siapa Leo? Dia rekan kami di Jayakarta News. Pria Ambon berkulit bule ini, nyaris babak belur dihakimi rekan-rekannya sendiri. Untung, dia selamat, karena teman-teman merasa sungkan hati kepadanya.

Bagaimana duduk persoalannya?

Ini ada kaitannya dengan cerita Jayakarta News Goes to Jogja, 1 – 4 Februari 2019. Hari kedua, kami berwisata ke Candi Prambanan yang terletak di antara dua kabupaten (Sleman dan Klaten), dan dua provinsi (DI Yogyakarta dan Jawa Tengah). Selain berfoto-foto dengan latar belakang candi, tak henti-henti decak kagum teman-teman demi melihat hamparan komplek candi dengan pelataran taman yang luas, ridang lagi hijau.

Lantas, apa kaitannya dengan Leo?

Tunggu dulu. Ini tentang keindahan Candi Prambanan yang bahkan sudah ditetapkan UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural) sebagai warisan dunia sejak tahun 1991. Komplek candi Hindu terbesar di Indonesia ini pun berbenah dari waktu ke waktu. Tidak heran jika selain megah, juga indah.

Dengan tiket masuk seharga Rp 40.000, rasanya sepadan dengan keindahan dan kepuasan yang didapat. Hari itu, Sabtu (2/2/2019) kami sudah berada di lokasi menjelang pukul 07.00. Sebenarnya masih sangat pagi, tetapi seorang rekan mengatakan, komplek candi buka pukul 06.00, dan seharusnya pukul 06.00 kami sudah masuk.

Sampai bagian ini, di mana kisah Leo Patty? Dan apa yang membuat Leo yang baik hati itu nyaris menerima nasib tragis?

Sebentar dulu. Ini juga ada kaitannya. Yakni kaitan antara kisah yang mengingatkan Prambanan dengan Leo. Terkait dengan ratusan candi berukuran besar dan tinggi yang ada komplek Candi Prambanan. Tiga bangunan candi tampak paling menonjol yakni Wisnu, Brahma, dan Siwa.

Candi Siwa adalah tempat arca legendaris Roro Jonggrang bisa dilihat. Fisik candi terbilang paling tinggi, 47 meter. Ratusan orang bergantian menapaki tangga ke atas untuk bisa masuk dan melihat penampakan arca Roro Jonggrang.

Dari kiri: Gatot, Martua Silalahi, Nina, Dini, Iswati, Katmin, Elty, Ridwan Maga, Herdi, dan Mahmud. (foto: dok jayakartanews)

Ridwan Maga, salah satu anggota rombongan Jayakarta News sangat mengagumi bangunan candi yang terbuat dari batu dan kaya akan relief simbolik. ”Lihat dan perhatikan, batu-batu itu tersusun dan saling mengikat satu sama lain dengan kokohnya,” ujarnya kagum. Belum habis memuji, ia melanjutkan, “betapa tinggi peradaban leluhur kita zaman dulu. Membangun candi seperti ini, butuh ilmu tinggi.”

Kami sekelompok rombongan Jayakarta News pun dengan antusias mengemukakan pendapat dan kekagumannya atas Candi Prambanan. Mendadak semua menjadi pengamat dan analis candi. Mendadak semua serasa arkeolog. Mendadak semua jadi sejarawan.

Ada yang mencermati relief atau motif ukiran di dinding batu candi. Ada yang berdebat perlu-tidaknya penangkal petir di bangunan candi. Yang berpendapat perlu, menganggap itu penting, agar bangunan candi tidak rusak jika tersambar petir. Sedangkan yang berpendapat sebaliknya, menganggap pemasangan penangkal petir di puncak candi, dengan bentang kawat atau kabel menjulur ke bawah sebagai arde, justru merusak orisinalitas bangunan candi.

Nah, di sinilah kisah tentang Leo bermula.

Sambil menenteng kamera SLR bak fotografer profesional, ia bergabung dengan kelompok yang sedang mendiskusikan keindahan Candi Prambanan. Seperti orang tidak berdosa, tiba-tiba Leo menyela pembicaraan dengan mengajukan sebuah pertanyaan. “Sebentar… sebentar… ada yang tahu nggak, siapa yang membangun candi Prambanan?”

Wah… sepertinya diskusi bakal makin menarik nih. Ada yang spontan menyebut, “Ditilik dari lokasinya, ini pasti dibangun oleh Raja Mataram Kuno.” Yang lain mencoba menjawab pertanyaan Leo, “Kalau tidak salah Wangsa Syailendra”…. sebuah jawaban yang sontak disanggah teman yang lain, “hussh… itu Borobudur!”

Kukira lebih dari tiga menit, kami berdiskusi tentang siapa yang membangun Candi Prambanan. Sejauh itu, Leo hanya senyum-senyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Persoalannya, mengapa tidak segera saja memberi tahu kami, siapa yang membangun candi Prambanan? Atau jangan-jangan Leo sendiri tidak tahu?

Setelah habis peluru jawaban dilontarkan dan tidak ada satu pun yang mengenai sasaran, barulah Leo berkata, “Mana mungkin raja membangun candi. Yang membangun ya kuli. Namanya kuli candi….”

Berkata begitu Leo tertawa ngakak sambil ngeloyor pergi. Kontan kami menggerutu setelah ikut tertawa lebar. “Kalau bukan Leo udah aku bikin rendang dia!”. Yang lain tak kalah bersungut, “Kalau bukan Leo sudah saya kutuk jadi patung dia.” Yang lain menimpai, “Iya benar… biar jadi 1001 candi!”

Tidak. Kami tidak benar-benar marah, dan sama sekali tidak berniat menyakiti Leo. Terlalu lucu untuk kami gebugi. Terlalu baik hati untuk kami sakiti. Oh Leooooo Leo…..!!! We love you full….

Empat di kiri: Roso D, Agus S, Gatot S, Martua S. Empat di kanan: Jumadi, Leo Patty, Katmin, dan Abah Fachrudin. (foto: dok jayakartanews)

***

Kendati menjelajahi komplek Candi Prambanan tidak ke semua area, tetapi melelahkan juga. Sepanjang berjalan dan berjalan, meski disediakan tempat istirahat di bawah teduhnya pohon rindang. Bahkan sambil istirahat, bisa juga berswafoto di sepeda gantung, ayunan, dan lan-lain.

Usai melewati pintu keluar candi, tersedia area belanja souvenir dan aneka kuliner. Komplek candi yang dibangun abad ke-9 Masehi, tetap menjadi destinasi utama bagi siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta.

Dari berbagai cerita yang dikumpulkan, legenda terbentuknya candi Prambanan bermula dari seorang pemuda bernama Bandung Bondowoso yang jatuh cinta dengan seorang gadis cantik bernama Roro Jongrang. Dikisahkan sebenarnya Roro Jonggrang tidak suka dengan Bandung Bondowoso, tapi tidak enak hati untuk menolak mentah-mentah. Ia lalu mencari akal dengan cara membuat permintaan yang mustahil bisa dipenuhi. Roro Jongrang bersedia diperistri dengan syarat dibuatkan seribu arca dalam satu malam.

Permintaan Roro Jongrang pun langsung direspons Bandung Bondowoso dengan menyatakan kesanggupannya. Malam tiba. Pekerjaan membangun seribu arca pun dilakukan. Dengan bantuan makhluk halus, maka pekerjaan membuat seribu arca bukan persoalan yang sulit.

Melihat Bandung Bondowoso memenuhi permintaannya, maka Roro Jonggrang bersiasat. Dipanggillah semua dayang-dayang. Mereka diminta menabuh lesung laiknya orang menumbuk padi di pagi hari. Mendengar lesung ditalu, ayam jantan pun berkokok sahut-menyahut. Ayam berkokok adalah patokan pagi telah datang. Malam berganti siang.

Roro Jonggrang pun menemui Bandung Bondowoso dan menghitung jumlah arca yang berhasil dibuat dalam satu malam. Hasilnya, 999 arca, alias seribu kurang satu. Dengan dalih itu pula, Roro Jonggrang menolak pinangan Bandung Bondowoso.

Kesal dengan keputusan Roro Jonggrang, dan geram ketika tahu bahwa Roro Jonggrang berbuat curang dengan menabuh lesung sebelum waktunya, murkalah Bandung Bondowoso. Dengan kesaktiannya, ia pun mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu dan menggenapi semua karyanya menjadi seribu candi.  (Martua Silalahi)