‘Abracadabra’ Komedi Surealis Penuh Kebingungan

 ‘Abracadabra’  Komedi Surealis Penuh Kebingungan

Abracadabra–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS—  Ingin nonton film nasional yang sedikit berbeda dengan film mainstream lainnya? Tonton saja ‘Abracadabra’ yang disutradarai Faozan Rizal. Film bergenre fantasi ini mengajak kita berpikir, merenung, kontemplasi namun juga menghibur.

Berdurasi 86 menit, film produksi Fourcolours Films ini memang penuh teka-teki, surealis dan absurd. “Meski penuh kebingungan, tapi intinya bagaimana kita harus percaya. Jadi mari kita rayakan kebingungan ini,”   jelas Faozan. Soal judul Abracadabra, Faozan mengemukakan alasan “Dunia magis dan dunia sinema adalah dua dunia yang bisa membuat saya hidup dalam dunia imajinasi saya sendiri. Sulap itu film. Dan film itu sebenarnya sulap, trik dan magis,” alasan Faozan.

Foto ipik tanoyo

Produser Ifa Isfansyah tertarik memproduseri film ini karena Faozan seorang yang penuh imajinasi dan mempunyai visi kreatif yang sangat kuat. “Saya memberikan Faozan ruang dan kebebasan untuk berkarya tetapi juga sekaligus menjadi partner yang bisa membuat ide-idenya visibel untuk diproduksi,” kata Ifa.

Abracadabra berkisah ihwal Lukman (Reza Rahadian), seorang grandmaster sulap yang sudah tak lagi percaya pada keajaiban. Ia berencana untuk gagal dan pamit ke teman-temannya di pertunjukan sulap terakhirnya.

Lukman mempersiapkan trik mudah dari kotak kayu Yggdrasil milik ayahnya. Yang ia tak ketahui adalah kotak itu milik banyak penyihir besar di masa lalu yang hingga akhirnya sampai ke ayahnya.

Kerumitan mulai terjadi setelah seorang anak laki-laki relawan bernama Iwan (M.Adhyat) yang masuk ke kotak kayu itu dan menghilang. Lukman berusaha memecahkan rahasia kotak kayu itu dan kembali percaya pada keajaiban.

Perjalanan Lukman untuk mulai percaya pada keajaiban kembali menjadi rumit ketika seorang perempuan misterius Sofnila (Salvita Decorte) mendadak muncul dari kotak kayu. Sofnila percaya bahwa ia salah satu asisten Lukito, ayah Lukman, yang dulu pernah hilang di kotak itu.

Datuk, seekor harimau Sumatera, juga terus menerus muncul sepanjang perjalanannya. Apakah Lukman berhasil menemukan kembali anak laki-laki yang hilang dari kotak itu dan kembali pada keajaiban? Film berakhir dengan menawarkan ending terbuka. Sebuah film yang memberikan penyegaran dan terobosan baru ini patut diapresiasi dan dibahas bersama.

Seni peran para pemain rata-rata di atas angka 7, terutama Reza Rahadian yang pertama kali jadi pesulap. Selain itu, seniman Butet Kartaredjasa dari Yogyakarta sukses unjuk kebolehan akting yang menawan. Tak boleh dilewatkan juga adalah Salvita Decorte, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Jajang C Noer dan duet Imam Darto dan Ence Bagus yang terus kocak ketika bertugas sebagai polisi. Rawit sebagai Mbok Tun, asisten Lukman, juga menyuguhkan karakter kuat, meski tampil hanya beberapa scene.

O ya, musik yang ditata indah dan ngejazz oleh Krisna Purna (yang juga menata suara) boleh diberi punten kali ini. Efek visual oleh Keliek Wicaksono berhasil menghidupkan ‘roh’ cerita Abracadabra dengan trik dan artistik memukau. Sebuah film fantasi tentang sulap (atau pertunjukan sulap tentang film) ini sukses menggiring kita untuk berpikir dan berabsurd-ria.

Selamat datang kebingungan dan yuk kita merayakan bersama kebingungan! (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *