‘Untukmu Indonesiaku’ – Balet Eropa, Material Indonesia

 ‘Untukmu Indonesiaku’ – Balet Eropa, Material Indonesia

Pertunjukan balet—foto istimewa

Foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Balet  Indonesia itu apa? Apakah seluruh gerakan kaki, tangan dan tubuh penarinya harus berkiblat ke Eropa atau harus menjunjung budaya kearifan lokal?

Karya seni itu tidak pernah selesai, itu kata Paul Valery. Pencarian identitas terus diupayakan dan diusahakan terus menerus dari dulu hingga sekarang. Dan identitas adalah karya seni paling hakiki.

Menyimak 10 nomor tari yang dibawakan oleh Indonesian Dance Company (IDCO) yang dihelat di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta, dari Jumat sampai Minggu (27 sampai 29/9) merupakan cermin pencarian identitas karya seni yang tak pernah selesai.

Foto istimewa

Karya seni IDCO terus bergerak dinamis. Ada balet klasik, balet kontemporer, jazz sampai tari tradisi. Kita sebagai penonton dan pengamat seni kemudian memberikan arti : balet Indonesia adalah talenta Eropa, material Indonesia.

Setiap bulan September, sesuai tradisinya, IDCO selalu unjuk kebolehan ke publik. ‘We Dance’ dipentaskan September 2016, lalu ‘Dance Venture’ digebrak September 2018 dan ‘It’s…Showtime’ digelar September 2018.

Dan September 2019, IDCO menghelat 10 nomor tari yang semuanya hasil koreografi asal Indonesia.Semuanya dirangkum dalam ‘Untukmu Indonesiaku’.

“Kali ini, kita kedepankan sentuhan Indonesia dengan tari daerah khas Indonesia,” kata Direktur Artistik dan pendiri IDCO, Claresta Alim kepada penulis.

Foto istimewa

Ada dua nomor yang sangat menonjol Indonesianya atau dalam bahasa anak muda kiwari : Indonesia banget. Yang pertama adalah ‘Malin Kundang’ koreografer Michael Halim dan musik oleh Ananda Sukarlan pada piano Berkisah tentang seorang anak bernama Malin Kundang dari seorang ibu yang melarat di ranah Minang. Ketika merantau, Malin memperisteri seorang puteri jelita anak seorang yang kaya raya. Ketika bertemu ibunya, Malin tak mau mengakuinya sebagai ibu kandungnya, bahkan dia menghinanya sebagai pengemis tiada guna. Si ibu yang kecewa lalu mengutuk Malin menjadi batu. Dan batu ini masih bertengger di tepi pantai kota Padang.

Ananda Sukarlan yang memperoleh Anugerah Kebudayaan tahun 2015 sangat piawai dan detil mengisi ruang-ruang kosong dalam nomor tari nan megah ini. Denting piano nan rancak sangat menghidupkan cerita Malin Kundang kedalam nafas ballet bernuansa tradisi Minang, beraroma Indonesia.

Foto istimewa

Dan yang kedua berjudul ‘Ulun Enggangku’ karya koreografi dari Frank Adam Rorimpandey yang selama ini dikenal paling aktif merangkai dan menciptakan berbagai macam gerak tari tradisi dari Sumatera Barat, Bali, Jawa, Dayak dan lain-lain. Kali ini, Frank menonjolkan tari tradisi dari suku Dayak di Kalimantan. Burung enggang adalah kendaraan khas orang Dayak menuju nirwana. Enggang bisa mewartakan kabar baik dan buruk dari Sang Penguasa kepada penduduk bumi.

Beberapa nomor tari lain juga sangat kental nuansa Indonesianya. Sebuah nomor ‘Selendang Asmara’ karya koreografer Michael Halim  Karya ini terinspirasi dari cerita Joko Tarub yang mencuri salah satu selendang milik 7 bidadari yang sedang mandi di sungai di bumi. Ternyata, selendang tersebut milik Dewi Nawangwulan yang akhirnya menikah dengan Joko Tarub. Ke 6 temannya bidadari lain kembali ke swargaloka. Dewi Nawangwulan menjadi manusia biasa dan belajar memasak dan bekerja sebagaimana halnya manusia. Dari keturunan Joko Tarub dan Nawangwulan inilah konon menghadirkan raja-raja Jawa yang kuat pribadi dan kharismanya.

Unity for One’ karya Fifi Sijangga tak kalah mengentak rasa nasionalisme dan semangat persatuan di tengah kisruh dan pertentangan nan tak kunjung usai. “Indonesia harus bersatu, itu harapan dan doa kita semua. Juga, perdamaian dan persatuan itu lebih penting dari semuanya,” ujar Fifi Sijangga.

‘Untukimu Indonesiaku’ karya Jonatha Pranadjaya dan Yuniki Salim dengan iringan musik di tangan Rfofo adalah puncak dari pergelaran ini. Indonesia adalah negara yang elok dan permai. Alam pegunungan nan sejuk, ombak pantai nan menyihir ditingkah bukit dengan semilir suara angin adalah keelokan Indonesia. Sekelumit tarian ballet tradisi Indonesia nan agung dan bernyawa layak memperoleh punten tinggi dan aplus meriah dari khalayak yang memadati GKJ.

‘Memory’ karya Michael Halim lagi disertai sebuah lagu dari Andrea Miranda, puteri musikus Purwatjaraka. Kemudian ada ‘Prison’ karya Dheidra Fadhillah dan Siti Soraya, ‘Diyanti’ dari Siko Setyanto, ‘Don Quixote’ suite Marius Petipa serta ‘Grand pas de deux from The Nutcracker’ yang merupakan adaptasi dari Lev Ivanov.

Pada akhirnya, kata sukses dan salut untuk IDCO yang tahun ini lebih meningkat bobot dan pencapaian jati dirinya. See you on September 2020 ! (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *