Film “Horas Amang” Bikin Baper

 Film “Horas Amang” Bikin Baper
Saat Konferensi Pers para pemain dari kiri Jack Marpaung, Produser Dr Jufriaman Saragih, Sutradara Steve R.R Wantania, Dendi Tambunan, Vanessa Anggraeni, dan Keysara flajsova di Cinemaxx Sun Plaza Medan. (Foto: Monang Sitohang)

Jayakarta News – Horas Amang ‘Tiga Bulan Untuk Selamanya’, judul film yang bercerita tentang kisah sebuah keluarga suku batak. Film ini dimainkan beberapa aktor seperti Piet Pagau sebagai Wiliam seorang dokter yang bersifat antogonis, Jack Marpaung sebagai pengusaha, Ucok Hasyim Batubara alias Cok Simbara sebagai Amang (Ayah) yang memiliki tiga anak, yaitu Maruli (Tanta Ginting), Tarida (Novita Dewi Marpaung), dan Pardamean (Dendi Tambunan). Artis pendatang baru Vanessa Anggraeni sebagai Arta besar, Keysara Flajsova sebagai Arta kecil, dan banyak pemeran lainnya.

Film ini disutradarai Steve R.R Wantania, dan produser Dr Asye Berti Saulina Siregar dan Dr Jufriaman Saragih. Syuting film Horas Amang dilakukan di sejumlah lokasi, antara lain Desa Purba Dolok di Simalungun, kemudian di tepi Danau Toba Haranggaol, Sipiso-piso, Pulau Samosir dan di Kampung Toba. Satu lokasi di Jakarta, dipilih di kawasan Kembangan, Jakarta Barat.

“Ide cerita muncul setelah pementasan teater Legiun berjudul ‘Horas Amang’ di Taman Ismail Marzuki, Jakarta tahun 2016. Naskah teater itu luar biasa, layak diangkat ke layar lebar. Gayung bersambut, manakala Dr Asye Berti Saulina Siregar dan Dr Jufriaman Saragih siap menjadi produser. Syuting dilakuikan sejak awal  2019,” jelas Steve R.R, Kamis (26/9) di Cinemaxx Sun Plaza Medan kepada awak media saat gala premiere.

Dari kiri Sutradara Steve R.R Wantania, Produser Dr Jufriaman Saragih dan Dendi Tambunan di Cinemaxx Sun Plaza, Medan. (Foto: Monang Sitohang)
Sebelum pemutaran dimulai Sutradara, Produser, pemain film dan pengunjung berfoto di depan layar Cinemaxx Sun Plaza, Medan. (Foto: Monang Sitohang)
Para penonton saat akan menyaksikan film Horas Amang ‘Tiga Bulan Untuk Selamanya’ di Cinemaxx Sun Plaza, Medan. (Foto. Ist)

Steve mengatakan, proses pembuatan film ini sangat menarik, karena ada dua artis yang harus kental berlogat batak. Saat open casting di Pematang Siantar, diikuti tak kurang dari 300 orang, dan terpilih dua artis asli Siantar.

Sebagai sutradara, Steve mengaku sangat tertantang menangani para pemain dengan banyak karakter serta perbedaan jam terbang. “Ada pemain yang belum pernah berhadapan langsung dengan kamera, tapi saya yakin mereka adalah orang-orang yang punya talenta. Kemudian kami juga mengadakan workshop selama hampir dua bulan di Jakarta dan para pemain ikut latihan selama satu minggu tiga kali, dan yang mengajari Ibas Aragi yang juga penulis naskah film ini dan juga sutradara teater dalam pementasan sehingga hasilnya maksimal,” jelas Steve.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu produser Dr Jufriaman Saragih yang  juga turut bermain dalam film ini mengatakan ada pesan yang diberikan kepada penonton. Kisah keluarga yang menebar pesan ihwal pentingnya keharmonisan, saling menghargai dan tak kalah penting kita sebagai anak-anak menghargai orang tua dan sebaliknya orang tua juga menghargai anak-anaknya.

“Film ini bisa menjadi inspirasi buat keluarga, bukan saja keluarga Batak, tetapi juga keluarga Indonesia. Ini salah satu film nasional yang bisa dibanggakan, silakan nonton pasti seru,” ujarnya.

Pantauan Jayakarta News, sore itu tampak para penonton berdatangan ke bioskop. Sebelum pemutaran film, penonton dihibur beberapa tembang lagu Batak. Para pemain film yang hadir, seperti Jack Marpaung, Dendi Tambunan, Vanessa Anggraeni, Keysara flajsova, Sutradara Steve R.R Wantania, dan produser Dr Jufriaman Saragih menjadi incaran para penonton di Cinemaxx Sun Plaza, Medan untuk berfoto bersama. Di sela itu juga ada yang menjual cinderamata, seperti baju dan gantungan kunci yang jadi incaran penonton.

Tepat  pukul 19.00 WIB para penonton memasuki studio. Sebelum pemutaran film Horas Amang ‘Tiga Bulan Untuk Selamanya’, sutradara dan produser semua berdiri di depan layar untuk foto bersama. Sebelum film diputar, serentak para penonton mengucapkan “Horas Amang”. Lupan Manager Operasional Cinemaxx Sun Plaza mengatakan, penonton tayangan pukul 19.00 berjumlah 458 orang.

Testimoni Penonton

Setelah menonton, Nova boru Hutapea bersama keluarga mengatakan, “Film ini sangat menyentuh, dan saya merasa kurang puas karena kurang panjang ceritanya, jadi rasanya besok akan menonton lagi, karena alur ceritanya bagus banget. Saya sampai menangis. Di samping itu pemainnya juga sangat watak dalam memerankan lakon, walaupun ada beberapa pemain baru. Yang jelas penonton puas dan tidak kecewa, suasana Batak dalam film ini juga terlihat jadi seperti di bonapasogit.”

Begitu juga dengan Tri Nova Tarigan DAN II Karateka Inkanas Sumut Wabendum Forki Medan saat usai menonton mengatakan film ini bagus, mengangkat budaya batak dan pengorbanan seorang bapak dalam mendidik anak sehingga mencintai sukunya, di samping itu ceritanya seru lucu dan mengharukan, sehingga banyak membuat penonton ketawa dan menangis. “Menyentuh sekali filmnya sampai aku sesenggukan bang,” ujar Nova. Dan lebih seru lagi bisa foto bareng para pemainnya.

“Enak ceritanya…menggambarkan kehidupan di zaman now dimana anak-anak sudah lupa jati diri karena sibuk dengan karier. Semua dibuat gampang, sampai-sampai salah satu anaknya mulai meninggakan adat, lupa saudara bahkan dalam kehidupan kita sendiri tetangga adalah saudara pun terkadang dilupakan karena duit… duit… duit,” ungkap Rodiah Siregar.

Sedangkan, Titik Rahayu mengatakan dalam film ini kekerabatan antara tetangga rasa kekeluargaannya kuat, adatnya pun dijunjung tinggi. Pesannya walaupun sudah di kota metropolitan tidak boleh melupakan kampung tempat kelahiran kita. Seorang Amang (ayah) memang harus tegas dalam rumah tangga, dan mendidik anak-anaknya, dan dalam perannya Cok Simbara tidak berhenti menangis saat adegan flm.

Beberapa penonton lain mengatakan hal sama, bahwa film ini sangat bagus, bikin baper. Penonton tertawa dan menangis. Kisah dalam film, terjadi dalam kehidupan sekarang. Anak dibesarkan dari kecil, tetapi ketika sudah besar, hubungan menjadi hambar seperti orang asing.

Tokoh Amang Sagala sebagai orang tua tidak pasrah begitu saja melihat sikap ketiga anaknya yang tidak menghargai. Namun sebagai Amang tetap mencari solusi untuk dapat mempersatukan kembali suasana keharmonisan keluarganya dan berhasil. “Mau tahu kelanjutannya silakan nonton,” ujarnya. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *