Tiupan Seruling “Keramat” Waras

 Tiupan Seruling “Keramat” Waras
Waras meniup seruling bambu. (foto: poedji)

Jayakarta News – Namanya pendek saja: Waras. Tapi percayalah, jalan hidupnya sangat panjang. Berbekal seruling bambu, ia melakoni profesi sebagai pengamen menyusuri jalanan kota Surabaya.

Pagi itu, seperti biasa, ia tampak sedang melantunkan irama lagu dangdut dari seruling bambunya di lokasi pasar burung Bratang, Surabaya. “Paling sering memang di pasar burung Bratang, tapi sering juga jalan ke pasar-pasar yang lain,” ujar Waras.

Jarak satu pasar dan pasar lain bisa beberapa kilometer. Jika ia mendatangi beberapa pasar, maka puluhan kilometer jarak ia tempuh dengan berjalan kaki, sekadar untuk mengamen. “Ya beginilah saya mencari nafkah. Alhamdulillah sehari bisa dapat antara dua ratus ribu sampai tiga ratus ribu rupiah,” katanya saat dijumpai Jayakarta News di pasar burung Bratang, tadi pagi (24/9).

Di antara banyak pasar tempat ia mengais rezeki, disebutnya pasar Pucang sebagai pasar yang paling banyak mendatangkan rezeki baginya. “Kadang-kadang, melihat saya hanya lewat saja mereka langsung kasih saya uang, ha… ha… ha…,” ujar Waras sambil tertawa.

Pria paruh baya yang masih melajang itu mengaku senang menjalani profesinya sebagai pengamen dengan seruling bambu. Ia punya koleksi banyak lagu dangdut yang bisa disenandungkan lewat tiupan seruling. “Tapi ada satu lagu yang saya sangat senangi. Judulnya Keramat karya bang Rhoma Irama,” katanya fasih. Lagu yang mengajak kita semua menghormati dan menghargai sosok ibu.

Waras mengaku, tak jarang pendengar lantunan serulingnya menahan setelah satu lagu selesai dilantunkan. Mereka minta Waras melantunkan irama-irama lagu yang lain lagi. Begitu seterusnya sehingga tak jarang di salah satu pasar, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam memenuhi permintaan lagu dari orang-orang di sekitar pasar tempat ia mengamen.

Sebagai pengamen, Waras membiasakan diri mengais rezeki laiknya orang bekerja pada umumnya. Ia selalu berangkat pagi-pagi dari tempat kosnya di daerah Menur, Kecamatan Gubeng. Pulangnya pun setelah matahari terbenam. Bahkan tak jarang ia tidak pulang ke Menur, melainkan tidur di mushola. “Biasanya kalau capek, lepas sholat isya di mushola saya langsung istirahat. Tidur di mushola itu,” katanya.

Begitulah hari demi hari Waras melakoni profesi sebagai pengamen demi menghidupi adik-adiknya yang masih butuh biaya. “Ada yang masih sekolah dan ada yang sudah lulus tapi belum bekerja,” kata penggemar berat Rhoma Irama itu.

Ihwal kedekatannya dengan para pedagang di pasar burung Bratang, rupanya ada kisah tersendiri. Pada satu hari yang nahas, ia pernah tertabrak mobil di samping pom bensin tak jauh dari pasar Bratang. “Apes mas. Waktu itu saya capek banget, dan ketiduran di pinggir jalan, tiba-tiba ada mobil yang menabrak. Kepala robek, bahkan dada saya harus diberi peneng karena tulang yang patah. Bersyukur masih diberi hidup,” kata Waras. (poedji)

Waras mangkal di Pasar Burung Bratang, Surabaya. (foto: poedji)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *