Timbul Raharjo si Waria Art

 Timbul Raharjo si Waria Art

Jayakarta News – Seniman gerabah Timbul Raharjo membeberkan resep suksesnya menembus pasar global. Salah satunya menjadi Waria Art, satu bentuk usaha menciptakan model baru di antara Fine Art (seni rupa murni-keindahan) dan Applied Art (seni rupa terapan-fungsional).

“Saya bayangkan, model baru saya ada di tengah-tengah antara Fine Art dan Applied Art, dan itu saya sebut sebagai Waria Art,” kata Timbul dalam Webinar Daring “Menembus Pasar Global” yang dihelat Jurusan Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa (FSR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Kamis (16/7/2020).

Timbul memaparkan penjelasannya. Sebagai seniman kriya yang telah mendunia, ia dituntut untuk selalu menciptakan model baru. “Setiap tahun saya membuat 50 desain baru,” aku Dekan FSR ISI Yogyakarta ini. Sumber ide kreativitasnya yang tiada henti itu adalah ajang pameran seni kriya rupa-rupa karya yang berhimpit jadwalnya di seluruh pasar seni dan galeri di Eropa, Amerika, Asia, dan Australia.

Setiap tahun Timbul menjadwalkan diri berkeliling ke ajang pameran seni kriya dunia itu demi menggali ide. Di acara ekhsibisi itu ia membaca tren. “Saya melihat produk apa yang mereka jual,” tutur pemilik PT Timboel yang bergerak di dunia perdagangan seni patung, suvenir, tempat penginapan dan kafe di Kasongan, Bantul, Yogyakarta ini.

Timbul tidak menjiplak, sebab, ia sadar ini itu perbuatan melawan Hak Kekayaan Intelektual. “Apa yang kita bikin, tidak harus apa yang kita lihat,” tambahnya. Dari bentuk-bentuk yang dilihatnya itu kemudian Timbul membuat terobosan untuk menciptakan karya baru. Dengan demikian kreasinya berbeda dari yang sudah ada.

Untuk membuat karya baru yang bernafaskan Waria Art itu Timbul rela tidak tidur. Benaknya tak henti berpikir tentang konsep karya dan materi apa yang mesti ia gunakan. Energinya tertumpah untuk menggali kreativitasnya agar menghasilkan desain berbeda dari yang sudah ada.

“Setelah jadi, perjalanan karya itu memasuki dunia perdagangan,” tutur Timbul. Untuk itu, ia mendirikan PT Timboel. Perusahaannya itu membuahkan karya reproduksi. Setiap model ciptaannya, bisa dipesan mulai dari 2, 3, sepuluh dan seterusnya. Timbul mengaku produk karya seninya limited edition berciri khas hand made. Tetapi ia tak memungkiri keterlibatan penggunaan mesin, semisal piranti untuk mengelas.

Pada awal usahanya di tahun 1996, Timbul mempekerjakan seorang karyawan. Perkembangan terakhir, setelah tigapuluhan tahun menggeluti dunia seni kriya Waria Art, pekerjanya mencapai 1.500 orang.

Kreasi Timbul Raharjo. (foto: IG TimbulRaharjo)

Selain kreativitas tanpa batas, resep Timbul menembus pasar global adalah mendaftarkan karya cipta. “Saya sudah mendaftarkan 187 kreasi saya,” tuturnya. Kesadaran akan kepemilikan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) ini muncul akibat pengalaman pahit yang sering menimpanya.

Timbul berkisah, beberapa kali karyanya dijiplak. Pelakunya, bisa agen, atau pembeli. Modusnya, si pelaku membeli satu atau dua karyanya, kemudian benda itu digunakan sebagai sampel untuk memesan model serupa di tempat lain. Praktek ini sangat mudah dilakukan sebab, desa wisata Kasongan bantul DIY tempatnya mukim, adalah tempat produksi aneka rupa kerajinan kriya. Dengan demikian, sangat mudah bagi siapa saja untuk mencari pengrajin yang mahir menciptakan karya sesuai contoh pesanan. “Bila karya Anda laku di pasaran, silakan di HAKI-kan agar tidak ada yang berani menjiplak,” pesan Timbul yang rajin mengikuti ajang pameran seni baik tunggal maupun keroyokan.

Selain Kreativitas tiada batas dan mendaftarkan karya cipta, Timbul juga berpesan agar siapa saja seniman yang ingin menembus pasar global untuk melakukan manajemen usaha, termasuk melegalkan bisnisnya.

Timbul pernah memiliki pengalaman tak enak. Ia dipanggil kantor pajak karena ada beban pajak terutang senilai Rp 2 miliar lebih. “Tragedi itu sampai memicu penyakit di tubuhnya. Ia menderita stroke. “Empat kali keluar masuk rumah sakit karena stroke dan sekarang jalan saya agak pincang,” kata Timbul.(Ernaningtyas)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *