Tentang Global Islamic School

 Tentang Global Islamic School
Buyar Winarso dan Perguruan Global Islamic School (GIS). (ist)

JAYAKARTA NEWS – Bagian tentang kiprah Buyar Winarso di bidang pendidikan, sangatlah pantas ditempatkan dalam sub judul tersendiri. Mengapa? Boleh dibilang, inilah pencapaian darma bakti seorang Buyar Winarso sekaligus tonggak dalam sejarah hidupnya.

Bisnis-bisnis sebelumnya, boleh dibilang bisnis murni. Termasuk jual-beli mobil, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, maupun bisnis material bahan bangunan. “Untuk pengiriman tenaga kerja, barangkali ada warna sosial, setidaknya dalam hal penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia yang masih menganggur. Akan tetapi untuk bidang pendidikan, memiliki dimensi sosial yang lebih besar,” katanya.

Ide mendirikan sekolah, didapat melalui kejadian unik. Masa itu, perkelahian siswa marak di Jakarta. Sepertinya tidak ada hari tanpa berita tawuran anak sekolah. Suatu ketika, saat Buyar Winarso tengah melintas di sebuah jalanan Ibu Kota, mendadak ia terjebak pada sebuah peristiwa tawuran pelajar. Dalam sekejap, ia berada di tengah-tengah ajang tawuran pelajar. Pelajar saling lempar batu, lempar apa saja, bahkan ada yang membawa senjata tajam. Buyar Winarso –dan pengemudi lain di sekitarnya—terjebak pada kondisi tak bisa maju, tak bisa mundur.

Akibat tawuran pelajar, mobilnya penyok di sana-sini terkena lemparan batu dan benda-benda keras yang berterbangan dari dua kubu pelajar yang tawuran. Pengalaman itu sontak menyadarkan Buyar Winarso tentang betapa pendidikan kita belum paralel dengan budi pekerti. Ia mengaku sedih. Bukan sedih karena mobil penyok, tetapi sedih memikirkan masa depan bangsa.

Tiba-tiba saja melintas keinginannya terjun ke bidang pendidikan. Tekadnya tiba-tiba menyeruak, untuk membantu mempersiapkan anak bangsa unggul demi masa depan yang lebih baik.

Muncullah ide mendirikan sekolah. Untuk mewujudkan, ia berkonsultasi kepada sejumlah teman. Hasilnya, bisa ditebak. Ada teman yang yang tidak setuju, ada yang setuju. Yang tidak setuju, berdalih dunia pendidikan beda dengan bisnis ketenagakerjaan, bahan bangunan, atau mobil.

“Mereka yang tidak setuju, bukan melarang, tetapi menyarankan supaya tidak menyertakan semua kekayaan saya. Alasan mereka, ‘iya kalau dapat murid… bagaimana kalau tidak ada yang mendaftar?’ Semua saran teman saya tampung,” ujarnya.

Sementara, tidak sedikit pula teman yang mendukung. Mereka mendorong dan memberi saran-saran tindak lanjut, bagaimana membangun sekolah yang benar-benar berkualitas.

Bagaimana keyakinan Buyar Winarso setelah menerima masukan pro dan kontra tadi? Ia mengisahkan, “Di dalam hati, ada keyakinan yang kuat untuk mewujudkan pendirian yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Kasarnya, walaupun setelah buka hanya mendapatkan belasan murid, saya tetap bertekad menjalankan usaha pendidikan ini.”

Di sisi lain, Buyar Winarso sadar bahwa kiprahnya kali ini adalah sesuatu yang sama sekali asing dan baru. Apalagi, dia tidak memiliki latar belakang dunia pendidikan. Namun, Winarso justru merasa tertantang. Mempelajari sesuatu yang baru dan mampu menguasainya, adalah “hobi” Buyar Winarso.

Tepat tahun 2002 ia mendirikan Perguruan Global Islamic School (GIS) di bilangan Condet, Kramatjati, Jakarta Timur. Sebagai modal awal, ia mengorbankan bisnis jual-beli mobilnya. Semua aset dijual, kemudian dananya ditanamkan untuk pendirian GIS.

Tidak mau setengah-setengah, begitu bangunan fisik selesai dibangun, GIS langsung membuka kelas baru. Ia bahkan membuka sekaligus, mulai dari Play Group, SD, SMP dan SMA. Inilah salah satu yang khas dari seorang Buyar Winarso, jika sudah yakin atas sesuatu, maka ia akan all out, terjun penuh, dan pantang baginya melangkah setengah-setengah.

Pada saat itu, ia mendengar suara-suara berseliweran di sekitar. Ada yang menyebut tindakan Buyar Winarso sebagai nekad alias kelewat berani. Yang bersuara begitu, berargumen, Buyar Winarso sama sekali tidak punya pengalaman. Ia tidak pernah bekerja di manajemen pendidikan mana pun. Betapa berat tantangan yang ia pikul pada saat itu.

Buyar Winarso sendiri membenarkan ihwal beratnya memulai sesuatu yang baru. Terlebih bidang yang baru sama sekali. Akan tetapi, yang ia pikirkan justru bagaimana mencari pembenaran atas bulatnya tekad yang ada di hati, tentang masa depan usaha sekolah yang dibangunnya. “Kembali ke tekad awal. Intinya, tekun dan kerja keras. Alhamdulillah, semua berjalan baik,” tutur pria berkacamata itu.

Tahun pertama penerimaan murid baru, Peguruan Global Islamic School menampakkan tanda-tanda positif. Di luar dugaan, pendaftar di atas target. Ia masih ingat betul, pembukaan pertama, yang mengambil formulir tercatat 870 orang. “Itu sungguh di luar perkiraan. Terlebih karena promosinya pun hanya sederhana. Saya hanya memasang beberapa spanduk dan menyebar brosur di beberapa titik strategis. Ternyata sambutannya luar biasa,” ujar Buyar Winarso.

Dengan jumlah pendaftar yang begitu banyak, tentu saja tidak semua tertampung. Sebaliknya, GIS menjadi lebih leluasa dalam “menyaring” siswa potensial. Tak heran jika tahun kedua dan seterusnya, pendaftar bukannya menyusut, tetapi terus meningkat. Sekali lagi, itu jauh di luar apa yang ia perkirakan.

Keberhasilan itu disadari tidak semata karena hasil ketekunan dan kerja keras. Lebih dari segalanya, dipengaruhi kualitas dan sistem pendidikan yang diterapkan GIS. Satu hal yang sangat dijaga oleh Buyar Winarso adalah mempertahankan kualitas pendidikan. “Ingat, usaha sekolah juga terkait erat dengan amanah dari para orangtua murid. Mereka telah mempercayakan anak-anaknya di GIS. Karena ini juga amanah, kita tidak bisa main-main,” tegasnya.

Kualitas pendidikan itu pula yang menjadi concern Buyar Winarso. Alhasil, jika di lingkungan sekolahnya acap kita lihat guru-guru berkebangsaan Timur Tengah, maka sejatinya mereka adalah para guru untuk mata pelajaran bahasa Arab. Jika terlihat beberapa orang bule di lingkungan GIS, merekalah para pengajar bahasa Inggris.

Itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan usaha pendidikan yang kini telah menjelma menjadi sebuah institusi pendidikan berkelas dan berprestasi. Bahkan untuk wilayah DKI Jakarta, perguruan Global Islamic School langganan menyabet predikat terbaik.

Seperti halnya dia menangani usaha sebelumnya, maka dalam kiprahnya di bidang pendidikan, ia berusaha meraih kepercayaan orangtua murid bahwa pendidikan yang diterapkan di sekolahnya memiliki mutu yang tak kalah dengan sekolah bagus lain, yang sudah lebih dulu bercokol. Bahkan, bisa disandingkan dengan sekolah-sekolah berlabel internasional lainnya. Bukan cuma disandingkan, tetapi bisa dibandingkan.

Salah satu strateginya adalah, di awal ia mengenakan biaya sekolah yang terjangkau. Untuk semua tingkatan, dari SD hingga SMA hanya dikenakan uang pangkal Rp 5 juta, sudah termasuk uang gedung, seragam, kegiatan ekstra kurikuler, dan lain-lain. Sedangkan uang SPP awalnya ia tetapkan di angka Rp 150 ribu.

“Yang penting jalan dulu. Saya tunjukkan kualitas pendidikan di tempat saya. Misalnya, saya datangkan pengajar dari Australia atau negara lain tanpa menaikkan uang sekolah. Nah, setelah mereka tahu, dan hasilnya kelihatan, barulah biaya sekolah saya naikkan sedikit demi sedikit untuk mengejar keseimbangan cash-flow,” paparnya.

Nyatanya, para orangtua tidak ada yang komplain ketika uang pangkal dan uang SPP dinaikkan. Jadi kesimpulan Buyar Winarso, bukan sekadar konsep, tetapi hasil nyata, real. Konsep memang harus dibuat, sebagia acuan, tapi kita harus melihat kenyataan di lapangan.

Prinsipnya itu membuahkan hasil yang membanggkan. Dalam perjalanan Global Islamic School yang sudah berusia enam belas tahun (berdiri 2002), prestasi yang dihasilkan murid-didiknya tidak kalah dengan sekolah unggulan lain yang sudah lebih dulu berdiri.

Salah satu contoh, untuk tingkat SD misalnya, Global Islamic Shool berhasil masuk ranking 10 besar tingkat DKI Jakarta untuk hasil Ujian Nasional. “Itu raihan beberapa tahun lalu, ketika GIS relatif masih baru. Prestasi itu tentu saja sangat membanggakan. Guru-guru dan staf manajemen pun menjadi lebih semangat untuk lebih giat dan tekun bekerja, mempertahankan, bahkan meningkatkan mutu,” ujarnya senang.

Selain itu, dalam berbagai ajang lomba, murid-murid GIS tidak sedikit yang menyabet predikat juara. Di antaranya, ketika Departemen Pendidikan Nasional mengadakan lomba pidato bahasa Inggris tingkat SD, SMP, dan SMA, peserta dari GIS berhasil menyabet juara satu dan dua. Berkat prestasi itu pula, GIS dipilih mewakili DKI Jakarta untuk berlomba di tingkat nasional, dan berhasil meraih juara dua.

Nyaris tak terhitung jumlah siswa GIS yang berhasil menyabet predikat juara, di berbagai ajang kegiatan atau perlombaan. Juara di kejuaraan olahraga, kesenian, dan kegiatan kreatif lainnya. “Seperti misalnya saat lomba dokter kecil tingkat nasional, murid kami berhasil menyabet gelar juara dua,” tambahnya.

Buyar Winarso pun memahami, bahwa pendidikan tidaklah identik dengan bisnis murni. Kesadaran itu tertanam di sanubarinya. Untuk itu, kepada para staf pengajar ia tak bosan-bosan menekankan, bahwa menjaga kualitas adalah sangat penting. “Konsekuensinya, saya pun mau ‘mengencangkan ikat pinggang’, sama seperti yang dilakukan para guru,” katanya, seraya menjelaskan, bahwa dalam aspek keuangan, ia mengesampingkan jauh-jauh tujuan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Sebaliknya, ia berprinsip, harus tumbuh bersama-sama para guru dan karyawan. “Kalau besar, kita besar bersama-sama. Tidak karena saya yang punya, maka saya bisa semaunya menentukan keuntungan finansial. Ya itu tadi, karena saya sadar betul, ini bukan bisnis murni, ini soal pendidikan. Soal bagaimana mencetak kader-kader unggul calon pemimpin bangsa,” tandasnya.

Alhamdulillah, ujarnya, para guru pun memahami sikap dan prinsipnya. Tak kurang dari 250 staf pengajar dan manejemen pun berkomitmen untuk sama-sama membangun dan mengembangkan perguruan Global Islamic School. Sekalipun tidak terucap, tetapi bisa dilihat dari capaian prestasi para siswa GIS yang tidak saja membanggakan sekolah, tetapi juga membanggakan orangtua.

Buyar Winarso boleh bangga dengan hasil kerja kerasnya yang telah membuahkan hasil positif. Prestasi ini sekaligus –untuk kesekian kalinya—membuktikan bahwa ia tidak saja memiliki insting yang tajam, tapi juga bertangan dingin.

Perguruan GIS dalam 16 tahun kiprahnya (2002 – 2018), telah mempu menyejajarkan diri dengan sekolah-sekolah papan atas Ibu Kota. Sekarang, muridnya bukan hanya warga Jakarta Timur, tetapi juga dari berbagai wilayah lain. Beberapa siswa GIS bahkan ada yang tinggal di Tanjung Priok (Jakarta Utara), Bekasi, dan Serpong. “Trend-nya positif. Promosi dari mulut ke mulut, sangat efektif. Sistem getok-tular. Mereka yang mendaftar ke GIS, biasanya mengetahui kualitas GIS dari kerabat atau saudara,” ujarnya.

Global Islamic School tidak melulu jualan tokoh atau nama besar seseorang. “Yang kami tawakan adalah kualitas pendidikan. Orang tentu tidak heran kalau ada sekolah baru, kemudian berkembang pesat karena menonjolkan ketokohan pemilik atau pengajar dan pimpinannya. Tapi di GIS tidak demikian. Di sini yang ada hanya produk pendidikan berkualitas,” tambahnya.

Bukti keberhasilan GIS juga ditunjukkan dengan makin mandirinya perguruan itu secara finansial. Subsidi dari saya pribadi, kira-kira hanya sampai tahun keempat. Pada tahun kelima, Buyar Winarso sudah tidak lagi merogoh kocek pribadinya untuk menutup defisit biaya operasional. Artinya, pada tahun kelima, perguruan GIS sudah mandiri.

Setelah mandiri secara finansial, Buyar Winarso kembali mengeluarkan ide baru. Maka, lahirlah lembaga kursus Global Education Center (GEC) tahun 2007. Lembaga ini khusus bergerak di bidang kursus bahasa Inggris, termasuk melayani training bahasa Inggris untuk karyawan secara kolektif. GIS juga mengadakan program home-stay di beberapa negara secara reguler.

Sebelum itu, tahun 2006, ia mendirikan usaha biro perjalanan, Globes Tour & Travel, yang berkantor tak jauh dari perguruan GIS di Jl Condet Raya, Kramatjati, Jakarta Timur. Usaha yang satu ini, sempat berkembang pesat, tetapi ada kalanya juga mengalami pasang-surut.

 

Catatan Prestasi

Lebih detail tentang prestasi perguruan GIS, kiranya tidak berlebihan jika kita simak nukilannya. Prestasi yang terjejer di bawah ini, hanya sebagian kecil dari sekian banyak prestasi yang telah diraih. Selain itu, catatan prestasi ini tidak saja ditorehkan oleh para siswa, tetapi juga prestasi para pengajar. Lebih dari itu, prestasi pun diraih perguruan GIS sebagai institusi.

Di bidang prestasi siswa, di antaranya Juara II English Writing Competition 2012 iB Hasanah Card BNI Syariah, atas nama siswi Amelia Rahastiyani. Kemudian November 2012, siswi Intan Aufa berhasil menyabet gelar juara I lomba pidato tingkat SMA “Lead Project 2012” yang digelar Sekolah PSKD Mandiri.

Prestasi lain diraih secara grup, yakni grup tari “saman” GIS juara I lomba Tari Saman 8 Schoolastic 2012. Penyelenggaranya SMAN 8 Jakarta. Kemudian siswa-siswi GIS kembali berprestasi di ajang lomba karya tulis. Siswa SMA GIS bernama Muhammad Rizki berhasil meraih juara III lomba karya tulis pariwisata 2012 tingkat SMA/Kejuruan/Aliyah/sederajat se-DKI Jakarta dengan tema “Kenali Negerimu, Cintai Negerimu”. Selain Rizki, tiga siswa SMA GIS lain, Geniza Ariani, Finda Arianti Putri, dan Indra Fajar Guritno meraih penghargaan 10 besar.

Prestasi kolektif lain diraih SMA GIS sebagai juara III lomba Majalah Dinding 3D Competition pada Pekan Ilmiah Fisika yang diadakan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Oktober 2012. Tim Mading SMA GIS diwakili Farin, Valentisa, dan Tias.

Grup Band SMA GIS juga menorehkan prestasi juara 2 kompetisi band yang diadakan di SMA Dwiwarna Parung, Bogor. Lomba yang digelar tanggal 10 Januari 2012 itu diikuti 11 sekolah berbagai daerah. Grup Band SMA GIS digawangi Rahmantio, Erza, Hamdani, Rakanda, dan Vadim. Di bawah binaan Ms Resa, Grup Band SMA GIS meraih penghargaan, sertifikat, dan uang pembinaan. Masih banyak prestasi lain, seperti juara futsal, otomotif, dan lain sebagainya.

 

Ekspansi ke Tangsel

Tidak berhenti sampai di situ. Tahun 2012,  Buyar  Winarso pun mengembangkan sayap lebih lebar. Ia merancang pendirian cabang Global Islamic School di tempat lain. Bergandeng tangan dengan mitranya, ia menekuni rencana pendirian Perguruan GIS di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Perguruan berkelas internasional itu dirancang terpadu, mulai dari Play-Group/TK, SD, SMP, dan SMA. Lokasinya di Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, di atas lahan seluas 7,5 hektare, dilengkapi aneka fasilitas penunjang. Semua bangunan menggunakan arsitek dalam negeri yang artistik. Penonjolan ornamen kayu, membuat gedung GIS Serpong tampak klasik dan berkelas.

Di atas lahan seluas itu, dibangun gedung SD dua lantai seluas 7.500 m2, menyusul gedung SMP dua lantai seluas 3.780 m2, gedung SMA dua lantai seluas 2.400 m2, dan gedung TK-Play Group dua lantai seluas 3.580 m2.

Sedangkan fasilitas pendukung lain adalah Gedung Olah Raga (GOR), masjid, ruang tunggu, area parkir yang luas, serta ruang terbuka hijau dengan porsi 50 persen. GIS Tangsel selsai sebelum tahun ajaran 2014. “Alhamdulillah, target itu tercapai, dan kami sudah beroperasi di Tangsel,” ujarnya.

Buyar Winarso menegaskan, Perguruan GIS Serpong – Tangsel merupakan cabang dari perguruan GIS Condet, Jakarta Timur, yang sudah bercokol sejak tahun 2002, dan sudah memiliki 1.923 siswa didukung 300 guru berkualitas, dan karyawan.

Perguruan GIS memilik visi mengoptimalkan potensi siswa sebagai anugerah Allah SWT untuk menjadi rahmatan lil’alamin dan misi membentuk cendekiawan muslim berakhlak mulia. Di samping, memiliki daya saing secara global.

Kehadiran sekolah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan dunia pendidikan khususnya di Kota Tengsel. Sedangkan bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Perguruan GIS akan memberikan subsidi silang terhadap siswa kurang mampu dengan melihat potensi siswa. Sementara untuk karyawan sekolah, pengelola akan memberikan porsi sebanyak 30 persen untuk tenaga kerja lokal, sesuai peraturan Walikota Tangsel. (Roso Daras/Bersambung)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *