Slamet Rahadjo Djarot : Hanya Masyarakat Bodoh yang Suka Film Bodoh

 Slamet Rahadjo Djarot : Hanya Masyarakat Bodoh yang Suka Film Bodoh

Slamet Rahardjo Djarot—foto istimewa

Slamet Rahaddjo Djarot—foto istimewa

JAYAKARTA NEWS—Masyarakat adalah penentu nasib film Indonesia. Karena film hanya hadir untuk menyapa penontonnya. Bahwa kehadirannya tidak mendapatkan sambutan masyarakat penontonnya, betapapun film itu luar biasa bagusnya, film itu akan hilang begitu saja dalam peredarannya.

“Karena film seperti masakan, kalau ngga digemari, ya ngga laku. Meski masakan (film) itu sebenarnya luar biasa enaknya, ya terpaksa ngga dibuat lagi. Karena masyarakat penontonnya, lebih suka masakan film yang ngga masuk logika, ” ujar Slamet Rahadjo Djarot (70) dalam Bincang Film bertema Politik Film di Gedung A, Kemdikbud, Jakarta.

Setelah itu, salah satu motor teater Populer itu, dengan teknik vokal yang tertata berpekik, “Hanya masyarakat bodoh yang suka film bodoh. Hanya negeri bodoh yang memakan film bodoh! “.

Tak syak, ratusan pengajar, dari guru SD, SMP, SMA hingga dosen, serta pelajar dari sekitar Jabodetabek yang menyesaki Gedung A Insan Berprestasi, bersorak menyambut pekikan satu dari sedikit legenda film Indonesia itu.

Melanjutkan sharing-nya, nominator terbanyak Piala Citra itu menembang Jawa, sembari menghampiri kursi sejumlah guru, sembari menembang: “Rujak… Rujak Jambu/ Sopo wani rabi Guru……/ Dibayar sewulan sewu”.

Tentu tidak semua peserta seminar yang diinisiasi Kemendikbud dan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) dalam rangkaian Perayaan Hari Film Nasional (HFN) ke 69, itu paham makna tembang Jawa itu.

“Saya akan menerangkan dalam cara yang sederhana. Intinya, tembang itu ingin mengatakan, betapa tanggung jawab guru sangat besar sekali, meski apresiasinya sedikit. Tapi Guru terus memuliakan diri dan lingkungan sekitarnya, ” katanya lagi.

Setelah itu, “Anak” kesayangan Teguh Karya itu memberikan kiat mujarab untuk membekali peserta didik atau murid ajar, dalam mengkonsumasi sebuah film. Yang dalam banyak hal, tidak selaras dengan kualifikasi usia penontonnya.

Tapi nekat tetap ditonton. Sehingga memberikan pengaruh tidak sepantasnya “Sensor yang paling mujarab bagi kita untuk menonton sebuah film bukan LSF (Lembaga Sensor Film). Sensor yang paling baik adalah pen-di-di-kan”, katanya.

Sebelumnya Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Ahmad Yani Basuki, dalam Bincang Film yang dipandu Benny Benke menjelaskan, harus ada political will yang jelas dari negara atas peran politiknya dalam memajukan dunia perfilman di Indonesia.

“Dari aspek LSF political will nya jelas, kami hadir untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif film, ” katanya.

Dia menambahkan, kehadiran negara dalam mendukung film Indonesia menjadi semakin nyata dengan adanya UU No. 33 tahun 2009, Tentang Perfilman.

“Dengan adanya UU Perfilman ini, semakin jelas peran negara dengan regulasinya,” katanya sembari menegaskan LSF telah melakukan gerakan Sensor Mandiri atau Self Sensor kepada masyarakat sebelum menonton film.

Harapannya, dengan Sensor Mandiri, masyarakat dapat mensensor dirinya sendiri, sesusai kualifikasi usianya, sebelum menonton film.  (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *