Kolom
Sejarah dan Spiritualitas
Oleh Gde Mahesa
Dua kata di atas ibarat angka 11 dan 12, saling berkaitan juga mempengaruhi dalam wujud peradaban.
Masa sekarang banyak insan atau sebagian masyarakat, golongan, mengidamkan kembalinya jati diri suku bangsa dalam tatanan hidup lewat tradisi budaya. Namun kira-kira apakah akan mampu untuk mencapainya ?
Saya berpikir sungguh sangat sulit. Kenapa? Sebab kemurnian tradisi budaya kita telah terkontaminasi oleh paham, doktrin, aturan spiritual atau kepercayaan dari manca negara. Mohon maaf, jangan berburuk sangka lebih dulu, sebab segala hal dalam sejatinya jati diri secara tidak sadar telah terkikis sehingga membentuk peradaban hingga menjadi tatanan kehidupan.
Sejarah telah membuktikan, dan diakui bahwa kepercayaan Nusantara asli adalah Kapitayan, juga perjalanan bangsa Nusantara anggap saja dari Singosari, Medang, Majapahit, Mataram Islam dan NKRI jika mau jujur, Kerajaan-kerajaan tersebut hancur musnah dikarenakan dua hal, pertama tentunya kepentingan kekuasaan atau perebutan hak waris dalam dendam yang turun tumurun. Kedua tentunya kehancuran peradaban tsb karena spiritual atau kepercayaan. Mau tidak mau kita harus mengakui.
Leluhur memang harus kita junjung tinggi, namun tidak semua leluhur merupakan orang luhur. Kita bisa bayangkan bagaimana negeri ini bisa dikuasai atau dijajah dalam penguasaan phisik dan mental budaya sehingga menjadi susuatu yang tak dapat disadari.
Sebuah contoh perenungan menghilangkan hitungan tentang penanggalan yang sebenarnya Mataram atau tanah Jawa sudah mempunyai, lantas dikawinkan dan diubah menjadi penanggalan Islam oleh Sultan Agung pada era Mataram Islam.
Saya, semakin dalam dan menyelam maka semakin prihatin tentang sejatinya jati. Namun puji syukur, jiwa sukma ini dapat larut pada alam semesta sehingga tetap membuat senyum dari sang sejati sambil berucap : “Lucu-nya Engkau”. (*)
