• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Bahasa Ibu yang Bertingkat: Jejak Panjang Sejarah Bahasa Jawa

Bahasa Ibu yang Bertingkat: Jejak Panjang Sejarah Bahasa Jawa

August 4, 2026
Dunia yang Terbelah, Rupiah yang Diuji

Dunia yang Terbelah, Rupiah yang Diuji

October 7, 2026
MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

October 7, 2026
AWAL, Akhirnya Tiba

AWAL, Akhirnya Tiba

October 7, 2026
Sepanjang Januari-Awal Oktober KJRI Johor Bahru Deportasi 4.56 WNI/Pekerja Migran Indonesia

Sepanjang Januari-Awal Oktober KJRI Johor Bahru Deportasi 4.56 WNI/Pekerja Migran Indonesia

October 6, 2026
Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

October 7, 2026
Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

October 7, 2026
Indonesia 2–2 Thailand (4–2): Berkali-kali di Ujung Tanduk, Garuda Akhirnya Juara!

Indonesia 2–2 Thailand (4–2): Berkali-kali di Ujung Tanduk, Garuda Akhirnya Juara!

October 6, 2026
Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

October 5, 2026
Presiden Prabowo Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman

Presiden Prabowo Tegaskan TNI Harus Modern dan Adaptif Hadapi Beragam Ancaman

October 5, 2026
Film 5cm: Revolusi Hati Siap Eksplorasi Keindahan Laut Indonesia

Film 5cm: Revolusi Hati Siap Eksplorasi Keindahan Laut Indonesia

October 5, 2026
Presiden FIFA Infantino: Kemajuan Sepak Bola Indonesia Luar Biasa, Peluang Gelar Event FIFA Makin Terbuka

Presiden FIFA Infantino: Kemajuan Sepak Bola Indonesia Luar Biasa, Peluang Gelar Event FIFA Makin Terbuka

October 5, 2026
Kehadiran TNI di Tengah Masyarakat Jadi Bagian Kekuatan Gotong Royong yang Perlu Terus Dirawat

Kehadiran TNI di Tengah Masyarakat Jadi Bagian Kekuatan Gotong Royong yang Perlu Terus Dirawat

October 5, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Wednesday, October 7, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    A beginner’s guide to the legendary Tim Tam biscuit, now available in America

    India is bringing free Wi-Fi to more than 1,000 villages this year

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup

    Rap group call out publication for using their image in place of ‘gang’

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    A beginner’s guide to the legendary Tim Tam biscuit, now available in America

    India is bringing free Wi-Fi to more than 1,000 villages this year

    Betterment moves beyond robo-advising with human financial planners

    People are handing out badges at Tube stations to tackle loneliness

    Trump’s H-1B Visa Bill spooks India’s IT companies

    Oil spill off India’s southern coast leaves fisherman stranded, marine life impacted

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    A beginner’s guide to the legendary Tim Tam biscuit, now available in America

    People are handing out badges at Tube stations to tackle loneliness

    Trump’s H-1B Visa Bill spooks India’s IT companies

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    Oil spill off India’s southern coast leaves fisherman stranded, marine life impacted

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Rap group call out publication for using their image in place of ‘gang’

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    India is bringing free Wi-Fi to more than 1,000 villages this year

    Betterment moves beyond robo-advising with human financial planners

    People are handing out badges at Tube stations to tackle loneliness

    Trump’s H-1B Visa Bill spooks India’s IT companies

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Bahasa Ibu yang Bertingkat: Jejak Panjang Sejarah Bahasa Jawa

by admin
August 4, 2026
in Kolom
0
Bahasa Ibu yang Bertingkat: Jejak Panjang Sejarah Bahasa Jawa
491
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Heri Mulyono, Malang

Sebelum menjadi bahasa bertingkat kesopanan yang rumit, bahasa Jawa lahir sebagai cabang rumpun Austronesia yang sederhana. Perjalanannya melintasi lebih seribu tahun, membentuk apa yang kini disebut jutaan orang sebagai bahasa ibu: bahasa pertama yang mereka dengar dari buaian.

Setiap kali seorang ibu di Klaten membisikkan tembang dolanan pada bayinya, atau seorang nenek di Malang menegur cucunya dengan kata “kowe” yang akrab, mereka sesungguhnya sedang mewariskan jejak sejarah yang membentang dari prasasti berusia lebih dari seribu tahun hingga percakapan warung kopi hari ini.

Bahasa Jawa, sebagai anggota rumpun Austronesia cabang Melayu-Polinesia, tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh, berubah bentuk, menyerap, dan kadang kehilangan kosakatanya sendiri, mengikuti gelombang kekuasaan yang silih berganti menguasai tanah Jawa: dari kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, hingga pemerintahan kolonial.

Para ahli bahasa membagi perjalanan panjang ini ke dalam tiga babak besar. Masing-masing babak bukan sekadar penanda waktu, melainkan cermin dari perubahan sosial, keagamaan, dan politik yang dialami masyarakat penuturnya.

Ketika Sanskerta Membentuk Bahasa Kawi

Babak pertama, yang oleh para filolog disebut sebagai era Bahasa Jawa Kuno, berlangsung sekitar abad kesembilan hingga abad keempat belas. Pada masa inilah pengaruh Sanskerta meresap sangat dalam ke dalam kosakata Jawa, sejalan dengan kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di berbagai penjuru pulau.

Jejak tertulis paling awal yang kerap dirujuk para peneliti adalah prasasti dari Kediri, Jawa Timur, yang berangka tahun 804 Masehi. Prasasti semacam ini menjadi bukti bahwa bahasa Jawa telah memiliki sistem tulisan dan tata bahasa yang cukup mapan jauh sebelum era kerajaan-kerajaan besar seperti Mataram Kuno atau Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Yang menarik, bahasa Jawa Kuno pada masa itu belum mengenal sistem tingkatan halus dan kasar seperti yang dikenal orang Jawa hari ini. Ngoko dan krama, dua istilah yang kini begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari, sama sekali belum ada.

Bahasa sastra yang berkembang pada masa itu justru dikenal dengan sebutan Bahasa Kawi, yakni ragam bahasa berkarakter tinggi yang dipakai untuk menulis karya-karya besar seperti kakawin dan layang kawi. Karya-karya inilah yang kemudian menjadi rujukan para pujangga di masa-masa berikutnya, bahkan hingga sekarang masih dipelajari di sejumlah pesantren dan padepokan kebudayaan Jawa.

Bahasa Kawi bisa dibayangkan sebagai bahasa Latin bagi dunia Jawa kuno: dipakai kalangan terpelajar di lingkungan keraton dan biara, penuh serapan Sanskerta, namun tidak sepenuhnya identik dengan bahasa lisan rakyat kebanyakan. Jarak antara bahasa sastra keraton dengan bahasa tutur sehari-hari inilah yang kelak, secara perlahan, menjadi cikal bakal perbedaan strata bahasa yang dikenal di masa-masa berikutnya.

Sumber-sumber primer dari periode ini, berupa prasasti batu dan lempengan tembaga yang tersebar di berbagai situs Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi bahan utama para epigraf dan filolog dalam merekonstruksi tata bahasa Jawa Kuno. Prasasti-prasasti tersebut umumnya memuat urusan administratif kerajaan, seperti penetapan tanah perdikan atau anugerah bagi pihak yang berjasa, sehingga dari situ pula para peneliti bisa menelusuri kosakata birokrasi, gelar, dan sistem penanggalan yang dipakai masyarakat Jawa kuno.

Kombinasi antara sumber prasasti yang bersifat administratif dan naskah kakawin yang bersifat sastra memberi gambaran yang lebih utuh: bahasa Jawa Kuno bukan sekadar bahasa istana yang kaku, melainkan juga bahasa yang hidup dan dipakai mengatur urusan pertanahan, pajak, hingga sengketa di tingkat desa.

Keruntuhan Majapahit dan Masuknya Islam

Babak kedua dimulai sekitar abad keempat belas dan berlangsung hingga abad keenam belas. Ini adalah masa transisi yang penuh gejolak: Kerajaan Majapahit, yang selama berabad-abad menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan Jawa, perlahan runtuh, sementara pengaruh Islam mulai menyebar dari pesisir utara pulau.

Perubahan politik dan keagamaan yang besar ini turut mengubah wajah bahasa Jawa. Kosakata Sanskerta yang begitu dominan pada masa sebelumnya berangsur berkurang, digantikan oleh kata-kata yang lebih dekat dengan bahasa sehari-hari masyarakat. Karya sastra pada era ini banyak hadir dalam bentuk kidung, sebuah genre puisi Jawa Pertengahan yang lebih longgar dibanding kakawin klasik, baik dari segi metrum maupun pilihan kata.

Fase ini juga menjadi titik penting yang sering luput dari perhatian orang awam: cikal bakal stratifikasi sosial dalam cara berbicara mulai tumbuh, meski masih dalam bentuk yang sangat sederhana dan belum sekompleks sistem unggah-ungguh yang dikenal sekarang. Perubahan struktur masyarakat, dari kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha menuju masyarakat yang mulai bersentuhan dengan ajaran Islam, ikut menggeser cara orang Jawa memandang hierarki, kesopanan, dan relasi sosial, yang pada akhirnya tecermin pula dalam bahasa yang mereka gunakan.

Bahasa Jawa Pertengahan sering disebut sebagai fase yang paling sedikit peninggalannya dibanding dua babak lain. Naskah-naskah dari periode ini banyak yang hanya bertahan dalam bentuk salinan-salinan yang jauh lebih baru, ditulis ulang berabad-abad setelah aslinya digubah. Kondisi ini membuat sejumlah filolog berhati-hati ketika hendak menarik kesimpulan pasti mengenai bentuk asli bahasa pada masa itu, karena naskah yang tersisa telah melalui berlapis-lapis penyalinan dan kemungkinan penyesuaian oleh juru tulis di masa-masa berikutnya.

Lahirnya Tata Krama dalam Bahasa

Babak ketiga, yang berlangsung sejak abad ketujuh belas hingga hari ini, dikenal sebagai era Bahasa Jawa Modern. Periode ini lahir seiring dengan kejayaan Kesultanan Mataram Islam, kerajaan yang menyatukan kembali sebagian besar tanah Jawa setelah masa kekacauan pasca-Majapahit.

Di era inilah sistem tingkat tutur atau unggah-ungguh basa, yang begitu kompleks dan menjadi ciri khas paling dikenal dari bahasa Jawa hingga kini, benar-benar terbentuk dan mengkristal. Sistem ini secara garis besar membagi bahasa Jawa ke dalam dua tingkatan utama.

Yang pertama adalah ngoko, ragam bahasa yang dipakai ketika berbicara dengan teman sebaya, orang yang usianya lebih muda, atau siapa pun yang sudah akrab dan setara secara sosial. Ngoko terasa cair, langsung, dan hangat, mencerminkan keakraban di antara penuturnya.

Yang kedua adalah krama, ragam bahasa yang dipakai sebagai bentuk penghormatan ketika seseorang berbicara dengan orang tua, tokoh masyarakat, guru, atau siapa pun yang dianggap layak dihormati karena usia, kedudukan, atau statusnya. Berbicara dalam krama menuntut kehati-hatian memilih kata, karena hampir setiap kata dalam ngoko memiliki padanan tersendiri dalam krama, bahkan sebagian memiliki padanan ketiga dalam krama inggil, tingkatan paling halus yang biasa dipakai untuk merujuk pada tindakan atau kepunyaan orang yang dihormati.

Penciptaan sistem tingkatan bahasa yang rumit ini bukan kebetulan. Para peneliti sosiolinguistik memandangnya sebagai taktik budaya, sebuah mekanisme yang sengaja dipelihara masyarakat Jawa untuk menjaga tata krama, sopan santun, dan sekaligus menegaskan hierarki sosial di tengah kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat feodal keraton, kemampuan seseorang memilih tingkatan bahasa yang tepat sesuai lawan bicaranya menjadi penanda kehalusan budi sekaligus kesadaran akan posisinya dalam struktur sosial yang berlapis.

Sistem ini juga yang membuat bahasa Jawa menjadi salah satu bahasa dengan tingkat kompleksitas sosiolinguistik tertinggi di dunia. Anak-anak Jawa sejak kecil, sebagai bahasa ibu mereka, tidak hanya belajar kosakata dan tata bahasa, tetapi juga belajar membaca situasi sosial: kepada siapa mereka boleh berbicara ngoko, dan kepada siapa mereka wajib berbicara krama. Proses pemerolehan bahasa ibu di lingkungan Jawa, dengan kata lain, sekaligus menjadi proses pemerolehan etika sosial.

Satu Bahasa, Banyak Wajah

Sejarah bahasa Jawa tidak hanya bergerak dalam garis waktu, tetapi juga menyebar dalam ruang geografis yang luas, dari ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Penyebaran ini melahirkan berbagai dialek yang masing-masing punya karakter dan kebanggaannya sendiri.

Di wilayah barat, terutama kawasan Banyumas dan sekitarnya, berkembang dialek yang oleh masyarakatnya sendiri akrab disebut Banyumasan atau ngapak. Ciri paling menonjol dari dialek ini adalah kesetiaannya mempertahankan pengucapan vokal “a” secara tegas dan jelas, berbeda dengan dialek-dialek Jawa lain yang cenderung melunakkan bunyi “a” di akhir kata menjadi bunyi mendekati “o”. Kata “sega”, misalnya, tetap diucapkan “sega” oleh penutur ngapak, sementara di banyak wilayah Jawa lain kata yang sama justru berubah bunyi menjadi “sego”.

Di wilayah tengah, tepatnya di seputar Surakarta dan Yogyakarta, berkembang dialek yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai bentuk baku atau pakem dari bahasa Jawa. Status istimewa ini bukan tanpa alasan: kedua kota tersebut selama berabad-abad menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Mataram dan kerajaan-kerajaan pecahannya, sehingga bahasa yang dipakai di lingkungan keraton menjadi rujukan kebahasaan bagi wilayah-wilayah di sekitarnya, termasuk dalam hal kehalusan unggah-ungguh.

Sementara di wilayah timur, meliputi kawasan Surabaya, Malang, dan daerah-daerah di sekitarnya, berkembang dialek yang dikenal dengan sebutan Jawa Timuran atau dialek Wetan. Berbeda dengan kesan halus dan penuh tata krama yang melekat pada dialek Surakarta-Yogyakarta, dialek Wetan justru dikenal blak-blakan, lugas, dan egaliter. Penutur dialek ini cenderung lebih longgar dalam penerapan unggah-ungguh dibanding masyarakat di lingkungan bekas keraton, mencerminkan karakter masyarakat pesisir dan wilayah perbatasan yang secara historis lebih jauh dari pusat kekuasaan keraton.

Keragaman dialek ini menunjukkan satu hal penting: bahasa Jawa sebagai bahasa ibu tidak pernah menjadi entitas tunggal yang seragam. Ia hidup dalam banyak wajah, dituturkan dengan aksen dan rasa yang berbeda-beda di setiap daerah, namun tetap dipersatukan oleh akar sejarah dan struktur tata bahasa yang sama.

Bahasa Ibu di Tengah Zaman yang Berubah

Perjalanan panjang dari prasasti abad kesembilan hingga percakapan sehari-hari masyarakat Jawa modern menunjukkan bahwa bahasa ibu bukanlah warisan yang statis. Ia terus bergerak, menyerap pengaruh baru, sembari tetap mempertahankan inti strukturnya yang khas, terutama sistem tingkat tutur yang hingga kini masih menjadi penanda identitas kultural orang Jawa.

Bagi jutaan anak yang lahir dan besar di lingkungan berbahasa Jawa, warisan ini diteruskan bukan lewat buku pelajaran, melainkan lewat suara ibu, ayah, dan kakek-nenek mereka. Setiap kali seorang anak diajari kapan harus memakai ngoko dan kapan harus memakai krama, sesungguhnya ia sedang diperkenalkan pada jejak sejarah yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun, sebuah warisan yang terus hidup selama masih ada yang mau menuturkannya kepada generasi berikutnya.

Para peneliti bahasa daerah di berbagai kampus, dari Yogyakarta hingga Surabaya, terus memantau bagaimana bahasa Jawa sebagai bahasa ibu bertahan di tengah derasnya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam kehidupan urban. Sejumlah kajian sosiolinguistik mencatat kecenderungan menurunnya jumlah anak yang benar-benar tumbuh dengan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama mereka, terutama di kota-kota besar, meski di kawasan pedesaan dan sejumlah wilayah kantong budaya bahasa ini masih dituturkan secara aktif dalam interaksi sehari-hari.

Fenomena ini membuat upaya dokumentasi, baik lewat penelitian filologi terhadap naskah kuno maupun lewat perekaman tuturan lisan di berbagai dialek, menjadi semakin mendesak, agar jejak seribu dua ratus tahun perjalanan bahasa Jawa tidak berhenti hanya sebagai catatan sejarah, melainkan tetap menjadi bahasa yang hidup dan dituturkan generasi-generasi berikutnya.

Dari prasasti Kediri yang berusia lebih dari seribu dua ratus tahun hingga percakapan riuh di pasar tradisional Malang hari ini, bahasa Jawa telah membuktikan dirinya sebagai organisme kebudayaan yang lentur. Ia menyerap Sanskerta tanpa kehilangan jati diri, beradaptasi dengan datangnya Islam tanpa memutus akar lamanya, dan pada akhirnya melahirkan sistem tata krama berbahasa yang hingga kini dianggap sebagai salah satu warisan sosiolinguistik paling rumit di dunia. Selama masih ada ibu yang menembangkan lagu dolanan dan kakek yang menegur cucunya dengan basa krama, sejarah panjang itu akan terus ditulis ulang, generasi demi generasi. (*)

Tags: bahasa ibukongres kebudayaansejarah bahasa jawa
Share196Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Dunia yang Terbelah, Rupiah yang Diuji

Dunia yang Terbelah, Rupiah yang Diuji

October 7, 2026
MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

October 7, 2026
AWAL, Akhirnya Tiba

AWAL, Akhirnya Tiba

October 7, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2017 JNews.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2017 JNews.

Go to mobile version