• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Jejak Freemason di Malang: Sebuah Pandangan dari Masa Kolonial Hindia Belanda

Jejak Freemason di Malang: Sebuah Pandangan dari Masa Kolonial Hindia Belanda

admin by admin
January 25, 2025
in Histori, Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAKARTA NEWS— Freemasonry, organisasi persaudaraan dengan akar di Eropa yang berasal dari abad pertengahan, memiliki jejak yang kaya di Malang, Indonesia, terutama selama era kolonial Hindia Belanda. Freemason pertama di Indonesia didirikan di Batavia pada 1762 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher, dan sejak saat itu, organisasi ini berkembang di seluruh jajahan, termasuk Malang.

Pendirian dan Pengembangan di Hindia Belanda

Freemasonry di Hindia Belanda menjadi tempat berkumpul bagi elit Eropa untuk berdiskusi tentang berbagai isu, seperti yang dicatat dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” oleh Dr. Th. Stevens. Pada 1922, Grand Orient of the Netherlands di Weltevreden (Batavia) mengendalikan 20 loji, termasuk beberapa di Jawa seperti Malang.

Freemason di Malang

Loji Freemason nomor 89 di Malang, didirikan pada 1901, menjadi pusat elite Eropa dan pribumi berpendidikan Barat. Gedung yang kini menjadi The Shalimar Boutique Hotel di Jalan Cerme No. 16, asalnya adalah Macconieke Lodge dari tahun 1930-an, menjadi bukti fisik kehadiran Freemason di kota ini. Freemason dikenal dengan semboyan “liberty, egality, dan fraternity” dan berperan dalam modernitas dan pencerahan.

Peninggalan Fisik dan Kontribusi Sosial

Beberapa bangunan bersejarah di Malang yang berhubungan dengan Freemason termasuk:

  • Lavalette Kliniek, sekarang IHC RS Lavalette, dikelola oleh Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, anggota Freemason.
  • Gedung Macconieke Lodge, kini The Shalimar Boutique Hotel, menunjukkan arsitektur dan sejarah Masonic.
  • Perpustakaan Kota, Saat itu dikenal sebagai ‘Lodegebouw” pernah memiliki koleksi buku terlengkap di Hindia Belanda. sekarang telah berubah menjadi Malang Tea Gallery bernama Cafe POP (Piece of Peace) Mason 52.

Freemason juga aktif dalam filantropi, mendukung pendidikan dan amal, terutama untuk anak-anak dan masyarakat miskin.

Literatur Belanda dan Eropa

Literatur dari Belanda dan Eropa memberikan wawasan mendalam tentang Freemason di Indonesia. Buku-buku seperti “Vrijmet selarij: Geschiedenis, Maatschapelijke Beteekenis en Doel” oleh Dr. Dirk de Visser Smith, dan “Geschiedenis van de Orde der Vrijmetselaren In Nederland Onderhoorige Kolonien en Londen” oleh H. Maarschalk, membahas pengaruh dan operasi Freemasonry di Hindia Belanda, termasuk Malang.

Pengaruh dan Kontroversi

Meskipun Freemason memberikan kontribusi positif, mereka juga tidak luput dari kontroversi dan teori konspirasi, terutama karena sifat tertutup dan ritual mereka. Namun, banyak literatur menyoroti peran mereka dalam pembangunan intelektual dan sosial.

Sejarah Freemason di Malang adalah bagian dari cerita kolonialisme dan interaksi budaya di Indonesia. Meskipun tidak lagi aktif setelah larangan pada 1961, jejak mereka masih terlihat melalui bangunan-bangunan dan makam-makam yang berisi simbol Freemasonry. Makam di Sukun, misalnya, adalah saksi dari kehadiran Freemason di Malang, dengan tokoh-tokoh seperti Dr. P.A.A.F. Eyken dan Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette dimakamkan di sana.

Jejak ini tidak hanya memberikan gambaran tentang masa lalu tetapi juga mencerminkan dinamika sosio-politik dan budaya pada zaman kolonial di Malang. (Heri)

Tags: jayakartanewsMalang RayaOrganisasi Freemasonsejarah
Previous Post

Imlek 2569 BE, Menag Tegaskan Kemerdekaan Umat Jalankan Ajaran Agama di Indonesia

Next Post

Waspada Investasi Kripto Bodong

admin

admin

Next Post
Waspada Investasi Kripto Bodong

Waspada Investasi Kripto Bodong

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version