• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Brang Wetan: Warisan Perlawanan dari Malang Selatan

Brang Wetan: Warisan Perlawanan dari Malang Selatan

March 28, 2026
Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

October 22, 2026
Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

October 22, 2026
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

October 21, 2026
Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

October 21, 2026
Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

October 21, 2026
Dari Batas Sungai Mississippi, Amerika “Menggambar Garis”

Dari Batas Sungai Mississippi, Amerika “Menggambar Garis”

October 21, 2026
Jagung SPHP Rp5.000 per Kilogram di Gudang, BULOG Perkuat Dukungan bagi Peternak

Jagung SPHP Rp5.000 per Kilogram di Gudang, BULOG Perkuat Dukungan bagi Peternak

October 21, 2026
Usung Filosofi Keluarga Indonesia Sejahtera, BULOG Luncurkan ‘Beras Kita Medium’

Usung Filosofi Keluarga Indonesia Sejahtera, BULOG Luncurkan ‘Beras Kita Medium’

October 20, 2026
Semester I 2026, Multiplier Effect BULOG Melesat Rp48,54 Triliun

Bantuan Beras Tahap III 2026, Bulog Siapkan 15,68 Juta Kilogram untuk Warga DIY

October 20, 2026
Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

October 20, 2026
Kardinal Suharyo Sambangi IKN, Romo Yos Tegaskan Peran Gereja dalam Masa Depan Bangsa

Kardinal Suharyo Sambangi IKN, Romo Yos Tegaskan Peran Gereja dalam Masa Depan Bangsa

October 20, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Thursday, October 22, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Brang Wetan: Warisan Perlawanan dari Malang Selatan

by Redaksi
March 28, 2026
in Kolom
0
Brang Wetan: Warisan Perlawanan dari Malang Selatan
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Heri Mulyono

Dari Kadipaten Sengguruh hingga Pertempuran Sumberpucung, Kisah Panjang Resistensi Jawa Timur terhadap Ekspansi Mataram

Di balik nama Malang yang kini identik dengan wisata dan pendidikan, tersimpan lapisan sejarah perlawanan yang panjang — bermula dari sebuah persekutuan kadipaten-kadipaten Jawa Timur yang disebut Brang Wetan, hingga pertempuran sengit melawan ekspansi Kesultanan Mataram di kawasan Malang Selatan pada awal abad ke-17.

Brang Wetan: Identitas Kawasan Timur Jawa

Brang Wetan — secara harfiah berarti ‘sebelah timur’ atau ‘kawasan timur’ dalam bahasa Jawa — adalah sebutan yang digunakan untuk merujuk pada seluruh wilayah Jawa bagian timur. Pada masa Mataram Islam, istilah ini resmi digunakan dalam konsep tata wilayah kerajaan, mencakup dua bagian utama: Pesisir Wetan (kawasan pesisir utara Jawa Timur) dan Mancanagara Wetan (wilayah pedalaman Jawa Timur).

Identitas Brang Wetan tidak lahir dalam satu malam. Ia merupakan buah dari proses peradaban panjang yang bermula dari pusat-pusat kekuasaan besar: Kerajaan Kanjuruhan di Malang pada abad ke-8, disusul Medang, Kahuripan, Daha-Janggala, Singasari, hingga Majapahit. Setiap kerajaan meninggalkan lapisan identitas yang membentuk watak masyarakat Jawa Timur — terbuka, dinamis, dan egaliter, berbeda dengan tradisi hirarkis Kejawen yang dominan di Jawa Tengah.

Pasca runtuhnya Majapahit pada awal abad ke-16, kawasan Brang Wetan tidak serta-merta menyatu di bawah satu kekuasaan baru. Sebaliknya, ia terpecah menjadi sejumlah kadipaten semi-otonom yang masing-masing mempertahankan kewenangan dan harga dirinya. Kadipaten Surabaya, Tuban, Lumajang, Pasuruan, Blitar, Ngrowo (Tulungagung), Caruban (Madiun), dan Kadipaten Malang — yang berpusat di wilayah Sengguruh — adalah simpul-simpul kekuasaan yang membentuk jaringan Brang Wetan ini.

Ketika Kesultanan Mataram di Jawa Tengah mulai menguat di bawah Panembahan Senopati (bertakhta sejak 1586), ambisi menyatukan seluruh Jawa pun terang-terangan dicanangkan. Kadipaten-kadipaten Brang Wetan yang selama ini mandiri pun mulai merasakan tekanan. Konfrontasi tidak lagi soal adat dan budaya semata, tetapi soal kedaulatan dan ketahanan hidup.

Kadipaten Sengguruh: Benteng Terakhir di Malang Selatan

Di antara kadipaten-kadipaten Brang Wetan, Kadipaten Malang — yang sering disebut Kadipaten Sengguruh — menempati posisi strategis yang luar biasa. Terletak di jalur tengah antara pesisir utara dan pegunungan selatan, ia adalah ‘pintu gerbang’ menuju jantung Jawa Timur. Siapa pun yang hendak menguasai Surabaya sebagai pusat Brang Wetan, harus lebih dulu menaklukkan Malang.

Pusat pemerintahan Kadipaten Malang diperkirakan berada di sekitar wilayah Pakisardjo — kini dikenal sebagai Kecamatan Pakisaji — yang terletak di antara aliran Sungai Brantas dan Metro, dengan Gunung Kawi di sisi baratnya.

Dua benteng utama menjaga kadipaten ini: satu di Gunung Buring (Kedung Kandang) di utara, dan satu lagi di Gunung Kendeng Malang Selatan — pegunungan kapur di Kecamatan Kalipare, yang tidak ada kaitannya dengan Pegunungan Kendeng di pesisir utara Jawa — tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Jenggolo, di selatan. Keduanya berdiri di pertemuan tiga sungai yang disebut Sungai Supit Urang — sebuah posisi pertahanan yang sulit ditembus.

Pada masa yang dikisahkan, Kadipaten Malang berada di bawah kepemimpinan Adipati Ronggo Tohjiwo. Ia adalah pemimpin yang sadar akan ancaman ekspansi Mataram, namun juga mengerti bahwa kekuatan militer kadipatennya perlu diperkuat.

Ronggo Tohjiwo memiliki seorang putri bernama Dyah Ayu Proboretno — perempuan yang dalam berbagai sumber babad digambarkan tidak hanya cantik parasnya, tetapi juga merupakan pejuang andal yang mahir ilmu kanuragan, terlatih sejak kecil di padepokan lereng Gunung Kendeng Malang Selatan (pegunungan kapur di Kecamatan Kalipare, bukan Pegunungan Kendeng di pesisir utara Jawa yang membentang di Jawa Tengah hingga Bojonegoro).

Untuk mendapatkan seorang panglima perang yang sepadan dengan Proboretno sekaligus menguatkan persekutuan dengan kadipaten lain, Ronggo Tohjiwo menggelar sayembara.

Siapa pun yang mampu menandingi kesaktian Proboretno dalam adu tanding akan berhak menjadi suaminya. Dari ribuan ksatria yang datang, hanya satu yang berhasil: Raden Panji Pulangjiwo, seorang ksatria dari tanah Sumenep yang kemudian menjadi panglima perang utama Kadipaten Malang.

Sultan Agung dan Gelombang Ekspansi ke Brang Wetan

Tahun 1613 menjadi titik balik penting dalam sejarah Jawa. Sultan Agung Hanyakrakusuma naik takhta Mataram dan langsung mencanangkan visi besar: menyatukan seluruh Pulau Jawa di bawah satu panji. Visi ini bukan sekadar ambisi politik, tetapi juga bermakna ideologis — membangun imperium Islam Jawa yang tunggal dan berwibawa.

Strategi Sultan Agung bergerak sistematis dari barat ke timur. Wilayah-wilayah Brang Wetan ditaklukkan satu per satu. Caruban (Madiun) jatuh lebih dulu setelah perlawanan panjang sejak 1586. Ngrowo (Tulungagung) menyusul. Wirasaba ditaklukkan pada 1615 dengan Sultan Agung memimpin langsung. Satu per satu pintu menuju Surabaya terbuka — dan Malang adalah pintu terakhir yang paling tangguh.

Pada tahun 1613-1614, Sultan Agung mengirim senopatinya, Tumenggung Surontani, untuk menaklukkan kawasan Malang. Surontani mendirikan basis operasinya di kawasan Mentaraman — dua wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jatiguwi dan Desa Ngebruk di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Nama ‘Mentaraman’ sendiri kelak diabadikan sebagai ingatan bahwa di tempat itulah pasukan Mataram pernah bercokol dan bertempur.

Pertempuran Malang Selatan: Api yang Tak Padam

Konflik antara Pasukan Mataram dan kekuatan Brang Wetan di Malang Selatan tidak terjadi dalam satu pertempuran tunggal, tetapi merupakan serangkaian peristiwa yang saling terkait — diplomasi yang gagal, perang tanding, siasat licik, dan pengorbanan yang membekas dalam ingatan kolektif masyarakat.

Kisah perlawanan paling dramatis bermula dari tindakan Proboretno yang secara diam-diam membentuk laskar perempuan dari rekan-rekan seperguruannya di padepokan Gunung Kendeng Malang Selatan (Kecamatan Kalipare). Langkah ini dicurigai Tumenggung Surontani sebagai bentuk makar.

Surontani menegur Proboretno, namun Proboretno justru datang ke markas Mataram di Jatiguwi untuk mengklarifikasi. Yang terjadi kemudian adalah kesalahpahaman fatal: terjadi perang tanding antara keduanya. Proboretno terjebak di suatu tempat hingga tak dapat bergerak dan gugur di sana. Tempat gugurnya Proboretno itu kemudian dikenal sebagai Cengkeg, di kawasan Desa Sumberpucung.

Kabar gugurnya Proboretno membakar amarah Raden Panji Pulangjiwo. Perang besar pun meletus. Dalam pertempuran di Jatikerto (Bedali Kulon), pasukan Brang Wetan di bawah Panji Pulangjiwo berhasil memorak-porandakan barisan Mataram hingga banyak prajurit luka dan sebagian gugur.

Tumenggung Surontani berhasil melarikan diri menyusuri tepi Kali Aksa (kini Sungai Brantas), namun Panji Pulangjiwo terus mengejarnya. Pelarian Surontani akhirnya terhenti di sebuah tempat bernama Kedung Banteng — yang kini dikenal sebagai situs Watu Tumpuk, berada di kawasan Bendungan Sutami, Karangkates. Di situlah, pada tahun 1614, Tumenggung Surontani gugur di tangan Panji Pulangjiwo.

Sisa-sisa pasukan Mataram yang kocar-kacir berlari memasuki rimba dan bersembunyi. Tempat persinggahan darurat itu kelak diabadikan dengan nama Ngebruk — yang berasal dari kata ‘bruk-brukan’, menggambarkan bagaimana jasad para prajurit Mataram yang gugur bergelimpangan di tanah.

Mataram tidak menyerah. Senopati baru ditunjuk: Tumenggung Alap-alap, seorang ahli strategi dari Caruban. Alap-alap menempuh jalan yang berbeda — bukan kekerasan frontal, melainkan tipu daya halus. Ia mendekati Panji Pulangjiwo dengan tawaran gencatan senjata dan perundingan di Dusun Sanggrahan, dekat Desa Panggungrejo.

Secara rahasia, Alap-alap menyiapkan sebuah panggung pertunjukan dengan seorang wanita yang didandani menyerupai Proboretno — sosok yang sangat dirindukan Panji Pulangjiwo sejak kepergian istrinya.

Panji Pulangjiwo yang diliputi kesedihan mendalam terpancing mendekati panggung itu. Ketika ia melangkah naik, ia terperosok ke dalam sumur maut yang telah disiapkan di bawah panggung. Para prajurit khusus Mataram menyerbu dan Panji Pulangjiwo gugur di sana. Dengan gugurnya sang panglima, perlawanan bersenjata Kadipaten Malang terhadap Mataram pun akhirnya padam.

Warisan yang Tak Terputus

Kekalahan Brang Wetan di Malang Selatan tidak berarti padamnya semangat perlawanan. Peristiwa-peristiwa ini meninggalkan jejak toponimi yang hingga kini masih terbaca di peta Kabupaten Malang: Desa Mentaraman (menandai bekas markas pasukan Mataram), Pasar Ngebruk (mengenang tempat bergelimpangannya prajurit), kawasan Cengkeg di Sumberpucung, serta kawasan Kepanjen yang namanya dipercaya berasal dari kata ‘Kepanjian’ — pusat basis Panji Pulangjiwo.

Sejarawan lokal mencatat bahwa wilayah Sengguruh — yang kini meliputi Malang Selatan, sebagian Wlingi Blitar, dan Kesamben — adalah medan tempat beberapa babak terpenting dalam sejarah perlawanan Jawa Timur berlangsung. Bahkan nama ‘Malang’ sendiri dipercaya lahir dari kesan Sultan Agung bahwa masyarakat di kawasan ini selalu ‘malang’ atau menghalangi kehendak Mataram.

Semangat Brang Wetan tidak sepenuhnya padam meski secara politik Mataram berhasil mengintegrasikan Kadipaten Malang. Perlawanan terus berlanjut dalam berbagai bentuk — dari gejolak yang dipicu Trunojoyo, keberanian Untung Surapati yang menjadikan kawasan Malang sebagai pangkalan terakhirnya, hingga api perang Diponegoro yang menjalar ke pelosok Jawa Timur. Baru pada 1830, setelah Perang Diponegoro berakhir, seluruh Bang Wetan resmi berada di bawah kekuasaan penuh Pemerintah Hindia Belanda.

Kisah Brang Wetan dan pertempurannya di Malang Selatan adalah kisah tentang harga diri sebuah peradaban yang menolak dilipat begitu saja. Di balik babad dan legenda yang mengalir dari mulut ke mulut selama berabad-abad, terdapat fakta sejarah yang tak terbantahkan: bahwa masyarakat Jawa Timur pernah berdiri tegak, memilih pertempuran daripada tunduk tanpa syarat, dan mengabadikan perlawanan itu dalam nama-nama tempat yang masih kita ucapkan hingga hari ini. (*)

Tags: jayakartanewsPerlawanan Malang Selatansejarah
Share197Tweet123
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

October 22, 2026
Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

October 22, 2026
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version