• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Menyikapi Riset Demokrasi Indonesia

Menyikapi Riset Demokrasi Indonesia

October 30, 2020
Kekalahan Trump dan Netayanhu Dorong Kemandirian Geopolitik Timur Tengah Tanpa Campur Tangan AS

Kekalahan Trump dan Netayanhu Dorong Kemandirian Geopolitik Timur Tengah Tanpa Campur Tangan AS

November 8, 2026
Dugaan Penyadapan Presiden Makin Panas! Politisi PKB Desak Pembentukan Pansus

Dugaan Penyadapan Presiden Makin Panas! Politisi PKB Desak Pembentukan Pansus

November 8, 2026
Dari PB Kecil Menuju Klub Beasiswa, Cakra Champ Canangkan Empat Pilar Pembinaan

Dari PB Kecil Menuju Klub Beasiswa, Cakra Champ Canangkan Empat Pilar Pembinaan

November 7, 2026
Kepala BNPB Letjen Kristomei Hadiri Pemakaman Prajurit yang Gugur dalam Penanganan Karhutla

Kepala BNPB Letjen Kristomei Hadiri Pemakaman Prajurit yang Gugur dalam Penanganan Karhutla

November 8, 2026
PBSI dan PB Cakra Champ Bahas Masa Depan Bulutangkis, Kurikulum dan Pencarian Bakat Jadi Fokus

PBSI dan PB Cakra Champ Bahas Masa Depan Bulutangkis, Kurikulum dan Pencarian Bakat Jadi Fokus

November 7, 2026
Pesona Bintang Real Madrid Jude Bellingham Bikin Lalu Lintas New York City Macet

Pesona Bintang Real Madrid Jude Bellingham Bikin Lalu Lintas New York City Macet

November 7, 2026
Menyimak Lansekap Hutan Kecemasan Seniman Enda Ginting

Menyimak Lansekap Hutan Kecemasan Seniman Enda Ginting

November 6, 2026
Mata Katsuko Hosoya dan Keelokan Biota Laut Kita

Mata Katsuko Hosoya dan Keelokan Biota Laut Kita

November 6, 2026
OJK Minta Perbankan Blokir Puluhan Ribu Rekening Terindikasi Judol, Cek Rekeningmu Apakah Termasuk?

OJK Minta Perbankan Blokir Puluhan Ribu Rekening Terindikasi Judol, Cek Rekeningmu Apakah Termasuk?

November 6, 2026
Teka-teki di Balik Mundurnya Cristiano Ronaldo dari Timnas Portugal, Siapa yang Mendorongnya Keluar?

Teka-teki di Balik Mundurnya Cristiano Ronaldo dari Timnas Portugal, Siapa yang Mendorongnya Keluar?

November 6, 2026
Sensasi Kuliner Unik di Medan: Makan Sambil Main Miniatur Kereta Api di Kedai Lord Train!

Sensasi Kuliner Unik di Medan: Makan Sambil Main Miniatur Kereta Api di Kedai Lord Train!

November 6, 2026
Lima Wilayah BULOG Tembus 100 Persen Target Pengadaan

Dirut BULOG Rizal Ramdhani: Stok Beras Besar tak Berarti Apa-apa jika Mutu tak Terjaga

November 6, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Monday, November 9, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Science
    • World
    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup
    Bersih-Bersih Total! Urgensi Audit Menyeluruh Log Server LIMS Pasca Skandal Penyadapan Presiden

    Bersih-Bersih Total! Urgensi Audit Menyeluruh Log Server LIMS Pasca Skandal Penyadapan Presiden

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Dimas Supartono Merambah Bisnis Properti, Siapkan Single Terbaru untuk Industri Musik Indonesia

    Dimas Supartono Merambah Bisnis Properti, Siapkan Single Terbaru untuk Industri Musik Indonesia

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel
    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Menyikapi Riset Demokrasi Indonesia

by admin
October 30, 2020
in Kabar, Kolom
0
Menyikapi Riset Demokrasi Indonesia
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Husin Yazid
Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Husin Yazid

Bukan hal mengejutkan jika Indikator Politik Indonesia (IPI) pada survei terbarunya bertajuk ‘Politik Demokrasi, dan Pilkada di Era Pandemi’, yang dirilis Minggu (25/10) menyebutkan, 36 persen responden menyatakan RI kurang demokratis.  Sebaliknya, jumlah responden yang menyatakan bahwa kondisi saat ini lebih demokratis dibandingkan sebelumnya hanya berjumlah 17,7 persen. Hasil survei IPI tersebut seolah menjustifikasi dan mengafirmasi kecendrungan resesi demokrasi Indonesia belakangan ini.

Survei IPI melibatkan 1.200 responden yang tersebar dari seluruh provinsi. Populasi laki-laki 50,3 persen dan perempuan 49,7 persen. Usia responden mulai dari 21 hingga 55 tahun. Survei yang dilakukan pada 24-30 September 2020 ini sejalan dengan apa yang terjadi beberapa waktu terakhir. IPI mengklaim, survei ini memiliki toleransi kesalahan atau margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen

Secara statistik, survei menghasilkan data sebanyak 69,6 persen responden menyatakan “setuju atau sangat setuju” bahwa sekarang “warga makin takut menyatakan pendapat.” Sebanyak 73,8 persen responden juga “setuju atau sangat setuju” bahwa “sekarang ini warga makin sulit berdemonstrasi atau melakukan protes. Mayoritas, yakni 64,9 persen responden, juga “setuju atau sangat setuju” bahwa “sekarang ini aparat makin semena-mena menangkap warga yang berbeda pilihan politiknya dengan penguasa.”

Makin Represif

Kecendrungan penurunan demokrasi ditandai oleh berbagai tindakan pemerintah ataupun aparat terhadap kalangan aktivis yang kritis dengan kebijakan pemerintah.  Antara lain melalui peretasan aplikasi pesan dan media sosial (Medsos) mkini enjadi cara makin lajim dilakukan. Medsos menjadi sasaran empuk peretasan karena media inilah yang kini banyak digunakan oleh berbagai kalangan aktivis untuk menyuarakan aspirasinya.

Menurut data Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), pada 2018 terjadi 18 kasus, lalu meningkat menjadi 9 kasus pada 2019, dan data Januari-Juni 2020 terjadi 9 kasus. Sementara menurut data Jaringan Perlindungan Berekspressi Asia Tenggara (SAFEnet), terjadi 24 pada 2019 laporan terkait peretasan: doxing, impersonisasi, pembobolan data dan mematai (spyware), dan pada 2020 terjadi 49 kasus.

Sejumlah kasus peretasan yang mencuat menjadi isu nasional. Diantaranya pada pertengahan Agustus 2020, dialami pada akun Twitter milik Pandu Riono, epidemolog Universitas Indonesia, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Fajar Adi Nugroho dan Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek Indonesia) Mirah Sumirat.  Sementara pada September 2019, sejumlah akun penggiat gerakan masyarakat sipil yang menyuarakan penolakan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi juga diretas.

Selain melalui peretasan, juga melalui tindakan represif terhadap kelompok yang menyatakan pendapat yang berseberangan dengan narasi pemerintah dengan mudah dituding telah melakukan ujaran kebencian dan hasutan.  Bahkan sebagian mereka ada yang dilakukan penangkapan. 

Saat demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker), polisi menyebut sebanyak 5.918 orang ditangkap dan hanya 240 yang dinyatakan bersalah.  Pada bulan Seprember terjadi ujuk rasa (unras) di sejumlah daerah terkait RUU Ciptaker, mengakibatkan dua orang mahasiswa Universitas Halu Oleo di Kendari, Sulawesi tenggara, tewas.

Selain itu, sejak September 2019, ketika demonstrasi terhadap sejumlah UU kontroversial dan menyatakan kritiknya merebak, banyak aktivis ditangkap usai menyampaikan pendapat. Di antaranya jurnalis dan aktivis HAM Dandhy Laksono, musisi sekaligus jurnalis Ananda Badudu, dan peneliti kebijakan publik Ravio Patra.

Penangkapan juga dilakukan terhadap sejumlah aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Setidaknya dialami oleh delapan orang tokohnya ditangkap pihak Kepolisian. Antara lain Juliana, Devi, Khairi Amri, Wahyu Rasari Putri, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan Kingkin.

Trend Resesi

Jauh sebelumnya, capaian Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) yang cenderung mengalami resesi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, Indonesia kembali menduduki peringkat ke-64 secara global dari 167 negara yang diriset oleh perusahaan riset bisnis dan ekonomi yang berbasis di Inggris, The Economist Intelligence Unit (EIU).

Dalam tiga tahun terakhir, skor IDI terus mengalami penurunan. Pada 2016, Indonesia pernah menempati peringkat ke-48 dengan skor 6,97. Sedangkan pada 2017 Indonesia menempati peringkat ke 68 dengan skor 6,39. 

Di kawasan Asia dan Australia, Indonesia harus puas menduduki peringkat ke-11. Dilihat dari posisinya, Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Timor Leste (peringkat ke-41), Malaysia (peringkat ke-43), bahkan Mongolia (peringkat ke 62). Namun, Indonesia masih dapat berbangga karena skor indeks demokrasinya lebih tinggi dibandingkan Hong Kong dan Singapura (peringkat ke 75), Myanmar (peringkat ke-122), Kamboja (peringkat ke-124), dan China (peringkat ke-153).

Perolehan indeks ini membuat Indonesia termasuk ke dalam kategori “flawed democracies” atau “cacat demokrasi”. Kategori ini untuk negara dengan indeks demokrasi 6,00 hingga 8,00. Namun, Indonesia tidak sendiri di sini. Ada 12 negara di kawasan Asia dan Australia yang turut masuk ke dalam kategori ini, termasuk di dalamnya Jepang dan Korea Selatan.

Pro Kontra

Dalam mensikapi hasil survei IPI tersebut, tak urung terjadi pro kontra. Sebagian kalangan yang pro menyatakan, survei IPI tersebut makin mempertebal hasil observasi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga sipil seperti LP3ES, Kontras, LBH, hingga Amnesty: bahwa kebebasan berpendapat di Indonesia memang tengah mengalami kemerosotan. Sekaligus juga dimaknai sebagai ancaman terhadap kebebasan berekspressi yang merupakan salah satu cita-cita reformasi dan amanat konstitusi.

Direktur Eksekutif  SAFEnet Damar Juniarto mencatat, dari Januari sampai Oktober 2020 ada 60 serangan dan mayoritas melonjak di bulan Oktober, ada 16 kasus. Paling banyak adalah kasus pengambilalihan akun dan peretasan WhatsApp. Ini semua dialami oleh jurnalis, aktivis pembela HAM, dan lingkungan. “Mereka makin jadi sasaran untuk dikriminalisasi,” tukasnya.

Sementara dari kalangan yang kontra terhadap hasil survei berpanpat kurang lebih sebaiknya. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Donny Gahral Adian misalnya menyatakan, selama ini tidak pernah melakukan upaya pembungkaman pendapat. Sementara Menkominfo Johnny G. Plate di program Mata Najwa mengatakan, “kalau pemerintah sudah bilang hoaks, ya hoaks. Kenapa membantah lagi?” saat mengomentari kontroversi penangkapan orang-orang yang dituding menyebarkan kabar bohong soal UU Ciptaker.

Pihak kepolisian juga angkat bicara. Melalui Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono, menegaskan ketika kepolisian melakukan proses penindakan atau penangkapan sudahlah pasti sesuai dengan prosedur. Yakni berdasarkan laporan polisi model A maupun B. “Jadi tentunya kita memakai dasar dan tentunya kita berproses berdasarkan konstruksi hukum yang ada,” ujar Awi saat konferensi pers di Mabes Polri, Senin (26/10).

Di sisi lain, ada sejumlah pihak yang memposisikan dirinya di tengah-tengah. Cara pandangnya mengacu kepada data-data terkait penurunan kualitas demokrasi disertai dengan fakta empirik terkait terjadinya praktik-praktik peretasan Medsos, bullying terhadap individu atau pihak yang kritis dengan penguasa, penangkan aktivis, dan lain sebagainya.

Pada saat bersamaan, kalangan ini secara objektif mencermati bahwa apa yang dilakukan oleh sejumlah kalangan tersebut sudah menjurus kepada anarkisme dan bertentangan dengan peraturan perundangan yang ada. Dan karenanya dianggap wajar manakala pemerintah dan aparat keamanan melakukan tindakan represif dan hukum guna pengendalian sosial dan ketertiban umum.

Akal Sehat

Sejatinya riset berupaya memotret fenomena politik tertentu, dalam kurun tertentu serta melalui metode tertentu pula. Sangat mungkin hasil riset tersebut menggambarkan realitas yang terjadi. Tetapi bisa saja  hanya suatu persepsi kelompok yang tidak bisa digeneralisir hasilnya.

Proses dan hasil riset sangat tergantung pada banyak aspek. Diantaranya terkait dengan independensi, objektivitas, akurasi, presisi, kesahihan survei dan sebagainya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah metodologi riset yang digunakan, dan apakah terjadi intervensi dari peneliti atau eksternal terhadap hasil survei.

Seperti yang sering diungkapkan, hasil riset boleh saja tidak atau kurang tepat atau kurang akurat. Namun yang tidak boleh dilakukan atau diharamkan oleh lembaga survei adalah melakukan pembohongan publik,  baik dengan cara memanipulasi  aspek metodologi dan terutama hasil-hasil riset.

Langkah terbaik dari pihak-pihak yang merasa dirugikan citranya—misalnya penguasa dan aparat atau siapapun—tidak perlu kebakaran jenggot. Jauh lebih baik mensikapi hasil riset dengan kepala dingin, cerdas, kritis atau dengan akal sehat. Bahkan jika perlu, dianjurkan untuk membuat riset tandingan agar publik mendapatkan informasi seimbang.

Sebaliknya jika hasil riset tersebut menggambarkan suatu kenyataan empirik yang sulit dibantah, lebih baik berlaku objektif dan jujur saja dengan cara memperbaiki diri. Itu lebih elegan, sportif,  bermartabat dan bermanfaat kelangsungan demokrasi Indonesia kini dan ke depan. (*)

Tags: husin yazidindikator politik indonesiajayakartanewsriset demokrasiriset demokrasi indonesia
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Kekalahan Trump dan Netayanhu Dorong Kemandirian Geopolitik Timur Tengah Tanpa Campur Tangan AS

Kekalahan Trump dan Netayanhu Dorong Kemandirian Geopolitik Timur Tengah Tanpa Campur Tangan AS

November 8, 2026
Dugaan Penyadapan Presiden Makin Panas! Politisi PKB Desak Pembentukan Pansus

Dugaan Penyadapan Presiden Makin Panas! Politisi PKB Desak Pembentukan Pansus

November 8, 2026
Dari PB Kecil Menuju Klub Beasiswa, Cakra Champ Canangkan Empat Pilar Pembinaan

Dari PB Kecil Menuju Klub Beasiswa, Cakra Champ Canangkan Empat Pilar Pembinaan

November 7, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version