Menimba Ilmu Agama Sembari Bercocok Tanam

 Menimba Ilmu Agama Sembari Bercocok Tanam
M. Ridwan, santri asal Lampung menunjukkan bawang merah hasil cocok tanamnya. Foto: Andang S

SAMBIL menikmati indahnya panorama alam di kaki bukit Pegunungan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, tampak sejumlah santri pondok pesantren Al-Anwariyah pimpinan Ustad Aan, bercocok tanam bawang merah. Ponpes yang berlokasi di Kampung Cimongkor, Desa Curugbarang, Kecamatan Cipeucang itu memang memiliki lahan yang subur lagi luas.

Ponpes di atas areal seluas 1 hektare itu, tidak hanya memberikan ilmu agama kepada para santri puttra dan santri putri, tetapi juga mengajarkan cara mengolah lahan untuk bercocok tanam bawang merah. Tanaman yang dihasilkan para santri selama ini digunakan untuk kebutuhan makan para santri sehari-hari.

“Sudah tiga tahun saya mondok di pesantren ini, alhamdulilah banyak belajar ilmu baik ilmu agama maupun ilmu pertanian. Pak ustadz menyediakan lahan untuk digarap para santri,” ujar seorang santri M Ridwan asal Lampung Selatan kepada Jayakartanews.

Lahan milik Ponpes Al-Anwariyah yang dimanfaatkan para santri untuk bercocok tanam. Foto: Andang S

Menurut Ridwan, mereka tidak melulu menanam bawang merah, melainkan berganti-ganti jenis komoditi. Sebelumnya, mereka menanam padi, jagung, kedelai, dan timun. “Kami saat ini mulai mencoba tanaman bawang merah. Untuk benihnya kami bawa sendiri dari Lampung. Setelah uji coba ternyata hasilnya lumayan, buat makan dan nambah penghasilan santri,” imbuhnya

Waktu panen bawang merah yang 50 hari sejak penyemaian benih, membuat tanaman jenis ini menarik dibudidayakan. “Yang pasti harus disiplin merawat, memberi pupuk saat usia tanam 15 hari. Setelah itu, dipupuk lagi 20 hari kemudian sampai masa panen 15 hari kemudian,” katanya.

Sementara ditemui di tempat terpisah pimpinan pondok pesantren Al-Anwariyah, Ustad Aan mengatakan, dirinya memberikan keleluasaan kepada para santrinya untuk bercocok tanam di area lahan milik pondok pesantren. Hal tersebut kata Aan untuk membina santri bagaimana cara hidup seorang perani mengolah lahan persawahannya. Selain itu, dengan bercocok tanam, mereka menjadi santi yang lebih produktif.

“Meskipun begitu  yang utama mereka tetap harus menimba ilmu mengaji untuk bekal mereka baik di kehidupan nyata maupun untuk bekal di akherat,” tutup Ustad Aan yang kini tengah berbaring karena sakit. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *