Klangenan Lagu Rindu Kempot Hingga Cendol Dawet

 Klangenan Lagu Rindu Kempot Hingga Cendol Dawet

Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart.

Jayakarta News – Tembang kekinian berbahasa Jawa konstan banyak penggemarnya. Ketertarikan seseorang pada lagu tak hanya iramanya yang sahdu, namun makna syair yang dekat dengan realita pasti lebih memiliki daya pikat. Apalagi menyuarakan persoalan sehari-hari, terutama yang berporos pada pertautan asmara.

Pamer Bojo, juga  Banyu Langit yang dinyanyikan Didi Kempot bisa dibilang lagu klangenan. Lagu-lagu itu tidak hanya digandrungi para muda, melainkan juga menembus pelbagai golongan usia. Pun memasuki ruang-ruang yang selama ini kental kesan formalitasnya.

Pamer Bojo masuk kampus di saat gelar wisuda pula,  dimana civitas akademika hadir dalam uniform kebesaran. Mengenakan toga. Mulai mahasiswa/ wisudawan, para dosen hingga rektor.

Gawe rutin kampus yang kemudian diunggah di youtube itu pun di-share di laman media sosial what apps. Makin menyebar. Meski ini hanya selingan dalam prosesi wisuda, tapi paduan suara mahasiswa melantunkan Pamer Bojo di Auditorium Universitas Jember, Jawa Timur itu cukup fenomenal.     

Momen wisuda, akhir Januari lalu periode IV tahun 2019-2020 tampak  “ambyar”. Penuh suka cita, dan mendorong yang hadir luluh dalam kegembiraan. Berjoget  ria atau sekadar bertepuk-tepuk tangan.

Itu wajar-wajar saja. Sejenak istirah dari kepenatan pemikiran-pemikiran  yang senantiasa menantang logika, pun patron-patron etika yang lumrah di lingkungan cendekia kampus. Lalu memasuki suasana yang riang dalam ungkapan syair lagu yang menyiratkan kesahajaan, namun itu pun problem anak manusia yang jamak. Simak  larik-larik Pamer Bojo ini :

Kaya ngene rasane wong nandang kangen/Rino wengi atiku rasane peteng/ Tansah kelingan kepingin nyawang/ Sedela wae uwis emoh tenan

(Beginilah rasanya menanggung rindu/ Siang malam hatiku terasa gelap/ Selalu teringat ingin memandang/ (Namun ) sekejap saja tidak mau)

Cidro janji tegane kowe ngapusi/ Nganti seprene suwene aku ngenteni/ Nangis batinku nggrantes uripku/ Teles kebes netes eluh ning dadaku. (Ingkar janji teganya engkau membohongi/ Hingga sekian lama aku menunggu/ Menangis batinku merana hidupku/ Basah sekali air mata membasahi dadaku)

Dudu klambi anyar sing ning jero lemariku/ Nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku/ Dudu wangi mawar sing tak sawang ning mripatku/ Naning kowe lali/ nglarani wong koyo aku (Bukan baju baru di dalam lemariku/ tapi pasangan baru yang kau pamerkan padaku/ Bukan wangi mawar yang saya lihat/ tapi kamu lupa/ menyakiti orang seperti aku/

Konser Didi Kempot selalu dipenuhi sobat ambyar, para sadbois dan sadgirl.

Tentang genre lagu inilah yang kita bincangkan. Bukan dendang ria di acara wisuda yang disulut lantunan Pamer Bojo versi cendol dawet. Yakni menetesnya air mata yang digambarkan serupa butiran cendol-dawet. Hiperbola, untuk menyangatkan suasana. Dramatis.

Menyimak lagu-lagu Jawa Didi Kempot yang senantiasa jadi klangenan, sebenarnya narasinya tak beranjak dari yang pernah populer sebelumnya.  Yakni Stasiun Balapan maupun Terminal Tirtonadi, syair yang merepresentasikan seseorang yang rindu ditinggal kekasih. Yang pergi tak kunjung kembali. Tak ingat janji. Begitupun Sewu Kutho, nampaknya Kempot terinspirasi dengan kisah-kisah penantian atau mencari sang kekasih.

Banyu Langit juga serupa, iramanya lebih melankolik. Namun diwarnai imaji eksotika. Sementara Pamer Bojo yang condong ke irama dangdut, meski penuh baluran kerinduan diracik dalam irama riang. Hingga memicu orang untuk berdendang.

Eddy Koko

Lepas dari tema yang tak berubah, Didi Kempot tetap populer di khasanah lagu-lagu syair Jawa. “Ia konsisten pada jalurnya,“ komentar Eddy Koko, praktisi media yang suka mengamati perkembangan permusikan di tanah air. Tak hanya jazz tapi juga kroncong dan genre musik lainnya. 

Ia menilai, Kempot itu punya keberanian dalam melawan arus di kala banyak orang terbius budaya luar. Kempot adalah pahlawan budaya Jawa khususnya dan Indonesia secara keseluruhan.

Menurut Koko yang juga tukang reparasi piano, pasar lagu-lagu Kempot cukup luas, tidak terbatas Jawa, juga luar Jawa karena orang Jawa dimana-mana. Di Belanda, Suriname banyak wong Jowo, serta diaspora asal Jawa di luar negeri tetap gandrung-lagu-lagu Kempot.

Secara geografi, Jawa tak seluas Kalimantan, ataupun Papua. Namun penduduk Jawa dan yang berbahasa ibu Jawa paling dominan di tanah air ini. Populasi orang Jawa sebesar 40 pesen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 95,2 juta jiwa (data BPS 2010). Pun di kancah internasional, bahasa Jawa termasuk salah satu dari 10 bahasa di dunia yang banyak digunakan.

Kempot tampaknya tak banyak pesaing. “Fisip Meraung Band” yang juga menggubah dan menyanyikan lagu Jawa, campursari, belum setenar Kempot lagu-lagunya. Boleh dikata tak jauh beda mengangkat isu tema dalam lagu-lagu Jawanya. Persoalan cinta anak-anak muda zaman sekarang. Jika kelompok band mahasiswa di Solo ini lebih progresif, tentunya bisa mengungkap isu-isu sosial saat ini. Meski di lingungan dekatnya, anak-anak kos misalnya, perjuangan orangtua agar anaknya bisa kuliah. Ini kan banyak romantikanya, konflik-konfliknya dalam kehidupan.

Khalayak perlu disuguhi tema yang lebih beragam. Kempot misalnya,  bisa kolaborasi dengan penulis geguritan yang mumpuni, guna memperluas keragaman tema, dan penggalian sublimasi makna, dan lainnya seperti yang pernah dilakukan Bimbo dengan menggandeng  penulis puisi/ sastrawan Taufik Ismail.

“Lord” Didi Kempot

Banyak ranah dari Jawa yang bisa diselami lebih jauh oleh musisi/ seniman. Perlu ditatap, digugah dan digali lagi. Piwulang atau ajaran yang relevan dengan situasi kiwari cukup bertebaran. Tinggal bagaimana mengolahnya untuk konsumsi saat ini.  Tentu inovasi dan kreativitas  tantangannya.

Suluk yang pernah dilantunkan Gus Dur dan di-share di medsos salah satu  contoh saja: Akeh kang apal Quran Haditse/ seneng ngafirke marang liyane/ Kafire dewe dak digatekke/ yen isih kotor ati akale (Banyak yang hafal Al Quran dan hadis (tapi) suka mengafirkan orang lain. Kekafirannya sendiri tidak diperhatikan. (pertanda) masih kotor hati dan akalnya.

Kang aran sholeh bagus atine/ Kerono mapan seri ngelmune/ (Yang disebut orang sholeh itu bagus hatinya. Karena sempurna seri keilmuannya.

Iri lan meri sugihe tonggo/ Mula atine peteng lan nisto . Iri dan dengki (terhadap) kekayaan tetangga. Maka hatinya gelap dan nista.

Syair Jawa bisa dibawa ke situasi penuh warna. Pilihan Kempot yang setia dengan tembang berbahasa Jawa (bukan macam macopat yang memperhitungkan guru wilangan dan guru lagu/ bunyi, ) kadang oleh penyanyi lain dilantunkan dalam irama jazz,  bossanova, dan ini memperluas pasar/ pendengar. Terasa unik dan asyik pula dinikmati.

Bagi mereka yang memahami makna bahasanya, mungkin akan lebih merasuk. Kendati irama itu sendiri sudah bersifat universal. Karena banyaknya khasanah kata bahasa Jawa yang nilai rasanya pekat/tepat menunjuk pada bangunan situasi/ kondisi yang disasar. Kalau diterjemahkan, kadang tidak pas atau masih perlu penjelasan panjang. Ada pula frase yang tak terjelaskan. Sulit dibahasakan. Ini sering dibiarkan tertulis/ terucap dalam  bahasa aslinya. Dalam hal ini bahasa Jawa.

Pilihan Kempot dengan campursarinya, juga tema yang kerap diusungnya, bagaimanapun tetap memperkaya warna permusikan di tanah air. Sekaligus melestarikan lagu berbahasa Jawa. Namun, tentunya dengan memperluas cakupan kisah persoalan kehidupan dalam syairnya akan menambah topik cerita bagi pendengarnya.

Tak harus yang muluk-muluk, tapi yang dekat dengan keseharian kita. Realitas. Derita istri atau suami di dusun kecil karena  masalah ekonomi,  bukankah tetap merupakan persoalan di jagat dunia yang luas ini? Atau kegagapan orang tua yang kadang tak siap menghadapi kealamiahan yang semestinya wajar dijalani. Juga guyonan-guyonan yang dibingkai ajaran kearifan.

Memang, kadang bisa sedih dirasakan namun selalu indah dilantunkan dalam lagu, dan sering pula menghibur. Di situlah olah  rasa dan olah pikir penggubah lagu senantiasa ditantang. Termasuk melantunkannya, khususnya sang penyanyi. (iswati)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *