Epilog in Memoriam Didi Kempot, Refleksi Musik Selera Ideologis

Refleksi Bambang J. Prasetya

DIDI KEMPOT adalah kontroversi yang menyimpan unikum tersendiri. Merintis karier dari jalanan, kemudian berhasil mendaki puncak kemasyhurannya. Meninggal di saat berada di papan teratas prestasi. Kontroversinya disimpan bersama takdir itu tersendiri.

Fenomena musik Didi Kempot periode pop dangdut koplo, belum lama mengundang ketertarikan saya. Bahkan sebelumnya, musik campursari sudah tidak asing untuk menyebutnya akrab. Meski sebatas pemanfaatan untuk kebutuhan praksis program teve. Kerap kerja bareng bersama beberapa grup campursari, memilih, memilah, menentukan lagu-lagu yang akan ditampilkan. Sebagai Gatekeeper yang bertanggung jawab menjaga ragam variasi lagu yang akan ditampilkan, agar tak terjadi overlap, pengulangan atau penyesuaian tema antar grup campursari, kadang sedikit pula masuk wilayah varian garapan aransemen.

Pada fase lain, ketertarikan menjadi semakin kuat saat munculnya “Sobat Ambyar” yang menakjubkan setahun dua tahunan lalu. Komunikasi digital medsos turut membesarkan Didi Kempot, menjadi meteor yang melesat cepat mengitari orbitnya. Melintas batas-batas sekat segmentasi penggemarnya. Hadirlah Didi Kempot bak Diva berjuluk “The Godfather of Broken Heart, Lord Didi Kempot”. Yang tidak saja dielukan penggemar, tapi juga ditangkap peluangnya oleh para agensi, iklan, perusahaan, dan media tentunya. Campursari pop dangdut koplo pun jadi mantra membuka katup klasterisasi citarasa penggemar, dari anak muda sampai orang tua, tanpa pembeda sosial. Pendeknya lagu Didi Kempot berhasil menembus atmosfer universal atas selera musikal personal ataupun komunal.

Godaan lebih jauh untuk meraba bagaimana infrastruktur industri hiburan secara lebih seksama mempengaruhi Didi Kempot pun tak terhindari. Mendudukkannya tidak saja sebagai figur unsich yang terbebas lingkaran periferal. Tapi sebagai modelis yang tumbuh dalam kepentingan bersama. Namun tiba-tiba yang mengejutkan pula, Selasa 5 Mei 2020, Didi Kempot meninggal. Tanggapan responnya pun tak kalah mencengangkan, banyak ulasan tulisan, baik itu kesan atau tinjauan tentang Didi Kempot, tapi saya pribadi tidak dapat langsung dapat menuliskan kesan. Butuh beberapa hari, sebelum kemudian mampu menuliskannya. Sejak kabar meninggalnya, musiknya tidak pernah lepas lewat headset handphone yang menempel di telinga, sembari membaca ulang syair-syair liriknya. Sesekali iseng mengusir kejenuhan, me-repost lagu-lagunya ke beberapa grup WA, sekalian menguji respon balik atau tanggapan atas kesan yang ada.

* * *

(Alm) Didi Kempot

“MANTRA CINTA YANG TERPINGGIRKAN. POTRET DARI YANG TERSISIH, MENYERAH DAN MEMILIH MENGALAH. CERMIN RETAK, KESADARAN YANG MENGHENTAK.”

Sebuah pilihan yang tepat kiranya, ketika Didi Kempot menempatkan diri sebagai obyek kekalahan. Obyek merupakan penerima akibat dari perbuatan subyek. Posisi sub ordinasi korban ini yang dipilih dan secara konsisten dipertahankan dalam hampir kebanyakan lagu ciptaannya. Mungkin ini dipengaruhi oleh latar masa kecilnya yang akrab dengan tradisi tobong Srimulat, sebagaimana Ratno Gudel ayahnya. Mungkin kiat itu pula yang digunakan Didi Kempot dalam mengolah ekspresi karyanya. Bagaimana Srimulat menyasar segmentasi pasar penggemarnya di masyarakat kebanyakan. Ranah suasana kebatinan masyarakat lapis bawah, wong cilik, pernah disebut almarhum Umar Kayam sebagai sebuah uncultured. Soal meramu hiburan semacam bukan hal baru bagi anak panggung hiburan Srimulat. Ibaratnya Tobong Srimulat adalah habitat perguruan yang pasti banyak memberi kontribusi.

Kebetulan pada kurun waktu yang sudah berlalu, pernah pula membuat film dokumenter tentang Teguh Srimulat. Dari sanalah berkesempatan mewawancarai beberapa tokoh Srimulat di Solo dan Surabaya, termasuk Ratno Gudel ayahnya. Hampir setiap menit berjalan, mereka para seniman Srimulat hanya berpikir tentang bagaimana pertunjukan yang akan dilangsungkan setiap malam bisa sukses. Ide kreatif diolah dalam koridor gaya mereka.

Tipologi menghibur masyarakat sudah diakrabi benar. Relasi antara tontonan dan penonton sudah dibumikan menjadi kamus psikologi komunikasi massa milik pekerja seni komedian. Dan Didi Kempot, secara genetis patut diduga mewarisi bakat pemahaman tersebut.

Menghadirkan paradoks adalah kepiawaian panggung hiburan Srimulat. Mentertawakan keadaan dirinya sendiri lewat tokoh-tokoh perannya yang tertindas dan bangunan kisah yang lucu. Formulasi itu diadaptasi secara paripurna oleh Didi Kempot lewat kemasan musikal dan lirik-lirik kisah yang melodramatis. Mengkonstruksikan realitas semu untuk mengobati luka hati oleh penindasan keadaan yang bersifat alami kodrati, sistematis atau mekanis. Semuanya itu tidak menjadi soal, bagi siapapun yang mengalami atau berada dalam situasi tersebut. Tidaklah penting kata perlawanan, lebih baik mundur daripada sakit hati karena kenyataannya memang demikian. (Aku tak sing ngalah trimo mudur timbang loro ati. Tak uyako wong kowe wis lali. Ora bakal bali — Suket Teki)

Realitas subyektif yang dikonstruksikan menjadi  realitas semu, dalam terminologi Jean Baudrillard, yang disebut Hiperrealitas, sebuah konsep dimana realitas yang dalam prosesnya tidak bisa dilepaskan dari produksi dan permainan kesan-tanda melampaui realitas aslinya. Hiperrealitas menciptakan suatu kondisi dimana kepalsuan bersatu dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, kenyataan tumpang tindih dengan rekayasa, angan-angan melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran. Mantra cinta yang terpinggirkan. Lengkaplah potret dari yang tersisih, menyerah dan memilih mengalah. Cermin retak, kesadaran yang menghentak, kalah.

Hidup itu penuh masalah, ribet dan nyesek, Didi Kempot sadar betul masyarakat haus hiburan dalam bentuk apapun kemasannya. Beberapa pertunjukannya bersama Sobat Ambyar, nampak sekali relasi kontak batin pada titik trance. Panggungnya menjadi semacam mimbar ‘dakwah’ yang lain atau mirip sebuah upacara bersama antara dirinya dengan penggemarnya. Histeria yang menggetarkan. Semacam arena pelepasan berbagai problematika kehidupan yang dipertemukan dalam sebuah wahana musikal. Kalaupun tidak bisa langsung disebut Kontemplasi, tapi penonton seolah menemukan dirinya sendiri melalui musikalitas lagu yang dibawakan Didi Kempot. Hubungan yang terasa egaliter setara, antara penggemar dengan idola. Penonton bisa saja menangis ataupun berjoget, menari mengikuti dirinya sendiri. Fantasi dan realitas tercampur dalam benak apapun untuk menghayati Kebahagiaan semu yang dipertontonkan.

Musik memang selalu mampu menghipnotis pecintanya. Ilusi merupakan bagian penting dari masyarakat yang patah hati. Musik berbicara langsung ke hati atau perasaan. Sementara hati sesuatu yang merdeka, bebas, mandiri, independen,  tidak terpengaruh. Jurgen Habermas melihat manusia sebagai makhluk yang rasional, otonom, bebas dan lepas dari berbagai pengaruh, negatif dan positif, yang datang dari luar, suku, ras, agama atau politik. Pluralisme gaya hidup dan orientasi-orientasi nilai. Masyarakat menjadi kompleks. Individu-individu masuk atau meleburkan diri ke dalam kelompok-kelompok tertentu yang memiliki latar belakang budaya dan gaya hidup tertentu. Berbeda dengan logika yang mengkomunikasikan ide lewat kata-kata, definisi, argumentasi, terminologi, sedangkan perasaan menyampaikan melalui seni. Semua orang bisa merasakan kesedihan dan kebahagiaan yang sama. Dikianati, ditinggal pergi, diingkari janji, kangen, jatuh cinta, kehilangan, dapat menyebabkan kesedihan atau kebahagiaan yang memicu emosi. Didi Kempot menyadari sedang berlayar di gelombang melankolis semacam. Penontonnya pun juga hanyut atas kenyataan fiktif tersebut. Begitulah kontemplatif model Sobat Ambyar yang berupaya mengkonstruksi image, bagi kepentingan masyarakat saat menghadapi kenyataan dan kebenaran dikesampingkan. Semacam mahzab post-truth yang bertalian erat dengan kasanah seni pop, populer, populis, populisme, sebagai strategi marketing, politis dan kultural yang “berpihak pada rakyat kecil”.

Populisme terkait dengan berkomunikasi lewat cara menggunakan kata-kata yang indah, sederhana dan membuai, ngungun. Post-truth sengaja dikembangkan dengan tujuan guna mengolah sentimen masyarakat sehingga bagi yang tidak sadar diri akan dengan mudah terpengaruh yang diwujudkan dalam bentuk empati dan simpati terhadap agenda tertentu. Termasuk agenda dirinya sendiri, atas realitas semua manusia yang galau, gerah, dan hampa, di poros impian harapan, kemampuan dan kenyataan. Didi Kempot menuangkan air dingin, menghembuskan kabut yang menyelimuti kesejukan sebagai sebuah fatamorgana yang sempurna. Mempertemukan penggemarnya dengan Pengalaman Puncak (Peak Experience) batinnya masing-masing lewat seni karya ciptanya.

* * *

(Alm) “Lord” Didi Kempot

Apa yang paling membahagiakan bagi seorang seniman?

Mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan kreasi karya ciptanya, itu pasti. Dan kepastian yang lain, itu tidak mudah.  Butuh perjuangan berdarah-darah untuk sampai pada titik ideal tersebut, kecuali lucky keberuntungan. Selain  harapan lain agar karyanya memiliki kemanfaatan yang dapat dipetik sesama.

Seni dan seniman memang tidak berada diruang hitam putih, melainkan menempati percampuradukan spektrum hidup dalam dimensi prespektif yang tidak serba tunggal. Sebab, bagi pandangan ideologis lain yang mungkin bersebrangan, musik lagu Didi Kempot bisa dianggap kurang memberikan daya dorong perjuangan hidup, tetapi justru melemahkan menyongsong kehidupan yang harus dipertaruhkan. Semuanya boleh jadi bias menempati ruang tafsirnya masing-masing. Sama ketika industri film India Bollywood, getol memproduksi cerita yang penuh haru biru, menangis dengan tarian. Sebuah agenda kanalisasi untuk menenangkan masyarakat agar terus hidup dalam mimpi dan impiannya, melupakan lapar dan penindasan yang barangkali terjadi. Faktanya yang lain adalah laku, terjual, dimaui pasar. Begitupun kesenian Didi Kempot, semuanya diserahkan sepenuhnya dihadirat sidang apresian, pendengar, penonton, penggemar, Sobat Ambyar, dan warga peradaban manusia.

Didi Kempot sudah lebih sampai pada posisinya yang jauh tak tersentuh. Tapabrata ngrame-nya sudah selesai, menemukan apa yang diimpikan sejak kecil. Semua jerih payah, suka duka, laralapa, penderitaan yang sering disebut sebagai laku prihatin itu telah diketemukannya. Dia telah berada di trakat paling tinggi dari semua hasrat manusia, bersemadi dikesunyian abadi.

Terimakasih Didi Kempot, engkau telah mengajari makna arti proses belajar, keyakinan, kesetiaan, ketekunan, keuletan, ketabahan, perjuangan, kesabaran, kejernihan, komitmen, dedikasi, kepasrahan, berkesenian secara murni dan konsekuen.

Sing uwis ya uwis, lara ati oleh, ning tetep kerjo lho ya, sebab urip ora iso diragati nganggo tangismu.” (*)

*) Refleksi ditulis Bambang J. Prasetya, Pelaku Media Seni Publik, pada Waktu Indonesia Bagian “Kembang Tebu” sing kabur kanginan. Saksi bisu sing dadi kenangan.

Percakapan Terakhir Didi Kempot dengan Letjen Doni Monardo

Catatan Egy Massadiah

Jayakarta News – Sulit percaya untuk menerima kenyataan bahwa Didi Kempot telah berpulang, Selasa (5/5/2020) pagi. Betapa tidak. Di tengah kesibukan menangani amuk virus corona, setidaknya dalam tiga hari terakhir, nama Didi Kempot selalu jadi salah satu topik pembicaraan Letjen Doni Monardo.

Apa pasal, nama Didi Kempot memenuhi hari-hari Doni Monardo?

Bermula dari kedatangan tim kreatif yang mengusulkan penggunaan jingle lagu bagi kepentingan sosialisasi Covid-19, termasuk imbauan untuk tidak mudik di Lebaran mendatang.

Di ruang multimedia lantai 10 Graha BNPB sore itu, bermunculan ide. Selain Doni Monardo yang antusias diskusi, juga hadir wartawan senior Tommy Suryo Pratomo, serta sejumlah anggota Gugus Tugas dan tim kreatif.

Salah satu usulan adalah lagu “Garuda di Dadaku” tetapi diubah liriknya. Ada yang setuju, tapi ada yang menolak.

Yang setuju beranggapan, lagu itu sudah sangat populer. Sedang yang menolak, beralasan, itu lagu “trade mark” milik suporter sepakbola. Tidak tepat, dan terlalu dipaksakan.

Lalu, muncul gagasan untuk meminta bantuan The Godfather of Broke Heart, Lord Didi Kempot. Begitu muncul nama Didi Kempot, seisi ruang hening sejenak, ada yang saling pandang, semua seolah mengekspresikan kesadarannya yang baru datang setelah pergi entah kemana.

 “Oh iya…. Kenapa tidak pakai Didi Kempot saja? Bagus itu,” suara sebagian orang hampir bersamaan.

Pendek kata, diskusi pun makin seru. Nama Didi Kempot memenuhi ruang pembicaraan. Esensinya, semua pembicaraan yang mendukung pemakaian suara Didi Kempot untuk kampanye “Jangan Mudik” serta sosialisasi terkait Covid-19 lain.

Terlebih, Didi Kempot sudah berjuang sebagai relawan Covid-19. Di daerahnya, Ngawi Jawa Timur, dan Solo, Jawa Tengah, Didi Kempot membagi-bagikan sembako. Bahkan, melalui salah satu stasiun televisi, dengan dukungan Presiden Joko Widodo, Didi Kempot melakukan konser dari rumah, untuk menggalang dukungan dana bagi korban Covid-19. Tak kurang dari Rp 7 miliar dana terkumpul.

Info kiprah Didi di atas meluncur kembali dari WA Tommy ke saya. Saya segera menyampaikan ke Ketua Gugus Tugas. Sebagai rasa terima kasih kepada Didi Kempot, Letjen TNI Doni Monardo membuat video pendek pada hari Sabtu sore (2/5/2020). Begini narasi video berdurasi 1,5 menit itu yang saya rekam menggunakan HP saya:

“Mas Didi, saya Doni Monardo, Ketua Gugus Tugas menyampaikan ucapan terima kasih kepada mas Didi yang telah ikut berpartisipasi dalam membantu masyarakat kita. Para pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang mengangkat senjata, atau para pahlawan kemanusiaan seperti dokter yang membantu mereka yang menderita akibat serangan virus corona, tetapi juga orang-orang seperti mas Didi, para budayawan, para seniman yang telah mengajak masyarakat untuk ikut meningkatkan disiplin, agar tidak terpapar virus corona. Termasuk upaya dan langkah-langkah mas Didi yang telah membantu meringankan saudara-saudara kita baik yang terpapar virus corona, maupun yang terkapar karena kehilangan pekerjaan. Lanjutkan perjuangan mas, semoga Tuhan selalu bersama kita semua. Salam tangguh. Salam kemanusiaan.”

Tak hanya itu. Hari selanjutnya, esok hari Minggu, Didi Kempot sempat melakukan video call dengan Tomy Suryo. Tentu saja membicarakan rencana memakai jasa mas Didi Kempot untuk kampanye “jangan mudik” dan sosialisasi Covid-19.

Kemasannya bahkan direncanakan melalui sebuah konser dari rumah dalam skala yang lebih besar dari konser serupa sebelumnya.

Tommy pun segera mengarahkan video call itu ke Doni Monardo. Saat itu, Doni baru saja meninggalkan ruang multimedia di lantai 10 Graha BNPB untuk persiapan sholat ashar. Tommy segera mendatangi ruang Doni. Ia menjumpai Doni baru selesai wudhu.

Gagang HP diserahkan Tommy ke Doni. Doni pun melakukan video call dengan Didi Kempot. Dengan senyum lebar, Doni dan Didi saling sapa. Tak lupa, Doni mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah dilakukan Didi Kempot sebagai relawan membantu penanganan Covid-19.

Syahdan. Kesepakatan sudah bulat. Tim teknis pun sudah mempersiapkan rencana konser Didi Kempot bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Innalilahi wa inaillaihi roji’un…. Selasa (5/5/2020) pagi, bak petir menyambar, demi mendengar berita kabar Didi Kempot meninggal dunia.

Ambyar hati Doni Monardo. Ambyar semua hati orang-orang Gugus Tugas, terlebih yang sedang intens membicarakan konsep kerja kemanusiaan bareng-bareng. Ambyar perasaan bangsa Indonesia.

Begitulah Tuhan sudah menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya. Dengan perasaan remuk, suara yang tersekat di leher, Doni Monardo pun berusaha tegar saat mengucapkan ucapan bela sungkawa melalui video pendek.

Katanya, “Kami segenap keluarga besar Gugus Tugas menyampaikan rasa duka cita yang mendalam, atas wafatnya sahabat, seniman nasional, dan relawan kemanusiaan, almarhum Didi Kempot. Semoga almarhum Didi Kempot mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Diterima semua amal kebaikannya, diampuni segala kesalahannya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan, dan ketabahan.”

Sejurus berkelebat sebuah bayangan melintas di benaknya… Lelaki berambut gondrong, bersurjan hitam dan mengenakan blangkon, dengan senyum yang tersungging di bibir berseru, “Saya pamit, jenderal….” (*)

Almarhum Didi Kempot.

Selamat Jalan Penembang Pamer Bojo

Jayakarta News – Ia seakan memilih sendiri jalan kematiannya. Cara nan indah,  bertabur pesan, dan meninggalkan kemuliaan. Sekilas ini yang kita lihat atas wafatnya penembang kondang campursari, Didi Kempot, dalam usia yang masih penuh vitalitas, lima tiga tahun.

Di puncak panggung kegemilangannya dalam berkarya, di tengah jagat penggemar yang sedang menggilai lagu-lagunya, di saat para fans kerap menantikan kehadirannya, Kempot seperti mendadak sontak harus berpulang ke alam baka. Ya, yang ada kan tiada lagi di dunia ini.

Penyebab wafatnya Kempot konon jantung. Namun bahasa gaulnya, kontraknya sudah habis. Istilah religi, telah sampai kodratnya. Wong Jowo pun bilang, wis titi wancine lungo (sudah waktunya pergi). Hanya kita yang tak pernah tahu dan menduga, bahkan orang di sekelingnya pun “tidak”. Itulah kematian yang tetap misteri.

Di saat-saat akhir hidup Kempot, ia seolah menyiapkan skenario nan apik. Lagunya  “Pamer Bojo ” digandrungi banyak orang. Top, terutama di kalangan kawula muda. Tampaknya, inilah masterpiece Kempot. Meski syairnya grantes, menyayat kalbu, tapi iramanya yang riang memaksa orang ingin berdendang.

Narasi Pamer Bojo seperti mewakili banyak situasi dan kondisi batin manusia.   Ini bukan hanya bisa disandarkan pada hubungan dua anak manusia berlawanan jenis yang ingkar janji, lalu pamer pasangan baru di depan mata. Ini semacam bentuk perlawanan atas keinginan dan cita-cita apapun yang tak kesampaian.

Anehnya,  orang lain malah dengan pongahnya unjuk kemenangan atas apa yang diraihnya. Bisa pamer kesuksesan, pamer pacar baru, pamer mobil baru, pamer  rumah baru, pamer pekerjaan baru. Lalu kita yang mengalami “kekalahan“ (sebut saja begitu untuk mimpi-mimpi yang tinggal mimpi), akan terhibur mendengar lantunan lagu Kempot. Karena setiap diri kita pernah gagal atau belum berhasil dalam hal-hal tertentu.

Memang, lagu-lagu Kempot  umumnya  menyuarakan hati yang luka. Hati yang rindu. Hati yang selalu bertanya dan menunggu. Karena tema lagu-lagunya yang berporos pada rasa  rindu yang mengharu biru itulah, maka Kempot dijuluki The Godfather of Broken Heart oleh penggemarnya.

Penggemarnya lintas negara. Suriname yang banyak pula masyarakat asal Jawa, menyukai lagu-lagu Kempot. Bahkan Pamer Bojo juga disukai penyanyi asal Korea, lalu diadaptasi dengan bahasa setempat. Musik memang universal. Irama akan sampai di telinga terlebih dulu, lalu menyapa dan mengaduk rasa/emosi sebelum arti lagu bisa dipahami.   

Jika kita simak dari lagu-lagu Kempot yang melegenda dan sering pula dilantunkan  penyanyi  lain, diantaranya Sewu Kuto, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Banyu Langit, dan Pamer Bojo, semua mengejahwantahkan kepiluan. Kerinduan, dan penantian panjang buat pujaan hati. Ini barangkali pula cermin batin sang maestro. Mungkin ada cinta tulus yang tak bertepuk, sehingga meski perempuan lain telah menggantikan, posisinya bukan di bagian keping-keping hati yang dirasa penuh ketulusan itu. Karenanya ia (dalam lagu-lagunya)  senantiasa dalam penantian.

Namun, pedih hati, luka, rindu dendam, dan segala derita, agaknya harus dialami sang seniman. Seakan kudu ada hara/ nutrisi yang menyuburkan imajinasi dan inspirasinya. Harus merasakan betapa pedihnya sayatan luka. Merasakan perihnya siraman cuka di luka yang bernanah. Semua itu muaranya bisa menghasilkan karya yang berjiwa. Menggetarkan!

Banyak seniman besar yang karyanya diwarnai oleh deritanya sendiri. Derita itulah yang berperan besar memperindah dan memperdalam nilai karyanya. Kahlil Gibran, penyair Lebanon misalnya, puisi-puisinya penuh hikmah, Ludwig van Beethoven dengan lagu-lagu klasiknya kian menjangkau kedalaman rasa meski sang komposer ini kemudian tuli, namun gubahannya menggetarkan.

Ismail Marzuki, komponis yang banyak menciptakan lagu-lagu perjuangan,  karyanya tetap abadi hingga kini. Gesang, penggubah Bengawan Solo itu, karya-karyanya tak lepas dari perjalanan hidup yang dialaminya. Bagian-bagian “krusial” dan derita dalam biografi seniman besar di masa lalu justru memiliki andil berharga pada karya-karyanya. Agaknya itulah yang sudah tersurat sejak zaman azali.

Amal Sebelum Pergi

Ada momen bagus yang mengiringi sebelum kepergian Kempot. Dalam konser amal dari rumah bersama  salah satu stasiun TV, ia berhasil menarik pemirsa untuk berdonasi. Jumlahnya cukup besar. Yang terkumpul sekitar Rp 7 miliar, dan hasil konser amal itu disumbangkan untuk membantu mengatasi penanganan wabah covid 19. 

Kempot sendiri, ketika itu, tak menyangka akan mengumpulkan uang sebanyak itu dalam konser amal yang singkat. Inilah cuplikan penyataan Kempot usai konser amal tsb.

“Alhamdulillah, dari konser amal kemarin, tidak terduga, ternyata melebihi apa yang saya bayangkan. Saya hanya seorang seniman. Mampu saya membantu dengan tenaga saya. Talenta yang diberikan Allah, saya persembahkan untuk konser amal seperti kemarin.”

Kempot juga menyatakan rasa terima kasihnya kepada sobat ambyar/para penggemarnya yang telah berdonasi dalam amal tersebut.

Itulah cara indah dan mulia yang sempat ia lakukan jelang kepergiannya. Semoga apa yang dilakukan semakin memperbesar timbangan kebaikan di hadapan Sang Pencipta. Semoga pula, semua itu menambah kedamaian dan kebahagiaan dalam peraduan nan abadi di sisi Illahi.

Selamat jalan the Gotfather of broken heart, selamat jalan penembang Pamer Bojo. (Iswati)

Selamat Jalan The Godfather of Broken Heart

Jayakarta News – Belum lagi genap satu bulan kita kehilangan sosok penyanyi fenomenal pelantun tembang “Malaikat Juga Tahu” Glenn Fredly pada tanggal 8 April 2020, kita dikagetkan kembali dengan kepergian sang maestro yang dikenal dengan julukan The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot.

Berawal, pagi tadi melihat grop WhatsApp yang ada di HP. Ada kiriman dari salah seorang anggota grup tepat pukul 08.54 WIB. Postingan itu berupa foto Didi Kempot bersurjan hitam, menggunakan blangkon, sambil mengacungkan jempol tangan kanan dan tangan kiri memegang mig.

Lalu di bawah ada tulisannya, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, Selamat Jalan Lord Didi Kempot, semoga Husnul Khotimah…”

Lantas rasa penasaran bercampur kaget, membuat tangan ini semakin lincah mencari tahu isi pesan grup WhatsApp lain. Sempat bertanya dalam hati, “Apakah kabar duka itu benar?” soalnya di era digital ini, sering ada kabar-kabar atau isu berseliweran yang hoax.

Untuk menyakinkan kabar itu, terlintas dalam pikiran melihat grup WhatsApp Jayakarta. Kenapa? Karena dalam grup ini banyak sobat ambyar, yang buat aku banyak tahu tentang Didi Kempot. Ternyata benar, di grup Jayakarta yang di dalamnya berisi para wartawan senior itu aku cek, dan terdapat berita duka atas meninggalnya Didi Kempot lebih dahulu dibandingkan yang pertama aku lihat. WhatsApp berita duka Didi Kempot dari Dani Yuliantara tercatat pukul 08.35 Wib, “Ikut bela sungkawa atas meninggalnya legenda seniman khususnya lagu-lagu campursari semoga almarhum husnul khotimah”.

Disusul kemudian Syahdina ngirim foto salah satu siaran TV bertuliskan Didi Kempot Meninggal Dunia Pukul 07.30pPagi Ini. Di menit yang sama juga pesan dari Poedji “Ikut bela sungkawa atas meninggalnya legenda seniman khususnya lagu2 campursari semoga almarhum husnul khotimah”.

Terus bergulir ucapan-ucapan duka dan ada juga yang nge-share kembali lagu-lagu Didi Kempot dan salah satu sobat ambyar dalam group Nanang juga ada mengirim pesan, “Di era 80-an Didi Kempot hampir setiap minggu saya lihat dia lewat depan rumah saya dengan rambut gondrongnya yang terurai dengan memboceng sepeda motor mengisi acara musik panggung di wisata air panas Bayanan, hanya 10 menit dri rumah saya….”

Begitulah hebat sosok Didi Kempot dapat membius kita dalam lantunan syair dan nada yang dinyanyikannya. Bahkan dalam grup Jayakarta sebelumnya sempat membahas tentang Didi Kempot sang Maestro itu.

Dalam grup Jayakarta juga sering di-share lagu-lagu Didi Kempot. Bahkan pada tanggal 18 – Februari 2020 salah seorang wartawan senior Iswati peraih Piala Adinegoro 2018 itu sempat menulis tentang Didi Kempot berjudul Klangenan Lagu Rindu Kempot Hingga Cendol Dawet.

Sungguh luar biasa Didi Kempot si pelantun Bayu Langit itu jika sudah beraksi di atas panggung, langsung sobat ambyar seakan terhipnotis ikut bergoyang. Sumbangsih terhadap kemajuan blantika musik di Indonesia, sangat besar. Ia merupakan salah seorang penyanyi dengan berbahasa daerah yang dapat memberi warna, sehingga Campursari dapat menjadi warna atau genre musik yang mendunia.

Selamat jalan sang maestro The Godfather of Broken Heart…. (Monang Sitohang)

Dwiki Dharmawan: Musik Berbahasa Daerah Terlahir Kembali Berkat Didi Kempot

JAYAKARTA NEWS— Kehadiran musik di dalam kehidupan telah mengiringi perjalanan hidup setiap keluarga dan lapisan masyarakat segala usia. Kemunculan musik dengan berbagai genrenya pun makin menemukan momentumnya saat musik campur sari sangat diminati kaum milenials zaman now.

Minat yang besar ini telah membawa ‘keberkahan’ tersendiri khususnya dengan masalah identitas kebahasaan daerah. “Keberkahan itupun semakin kelihatan tatkala hadirnya sosok Dionisius Prasetyo alias Didi Prasetyo atau Didi Kempot dengan karya-karyanya,”  kata Dwiki.

Alm Didi Kempot–foto instagram didikempot official

Dikatakannya, anak-anak milenials dulu tak pernah dengar lagu-lagu campursari atau paling berkomentar ‘Apaan sih, kuno. ‘Ndeso banget’. Lagian, bahasa Jawa aku enggak ngerti ah.

Namun, zaman telah berubah cepat. Hadirnya kembali Didi Kempot dalam industri musik telah membawa kelahiran kembali lagu dan musik berbahasa daerah. Setidaknya lagu berbahasa daerah bisa dikatakan dilahirkan kembali oleh Didi Kempot.

“Selamat jalan Didi Kempot. Tenanglah disisi Nya,” ujar Dwiki Dharmawan selaku Ketua Anugerah Musik Indonesia (AMI). Setiap tahun, AMI Awards memberikan penghargaan kategori Musik Berbahasa Daerah. Dan Didi Kempot telah berkali-kali meraih penghargaan AMI Awards. (pik)

Gara-gara Kaidra, Saya Jadi Ambyar…

Jayakarta News – Bocah mungil yang cantik, naik ke panggung. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai sepunggung. Sebuah bando motif My Little Pony terpasang di kepala. Cute abis. Sejenak terjadi dialog antara si bocah yang bernama Kaidra itu dengan pemain keboard, dari kelompok musik yang memeriahkan acara sunatan.

Dari pemandangan tadi, jelas kiranya, si bocah mau nyumbang lagu. Sampai sebatas itu, tidak ada yang istimewa. Tapi tiba-tiba ia menjadi sumber perhatian hadirin. Bahkan berhasil membuat hadirin memalingkan wajah ke arah pentas, meski sedang pegang piring antre makan prasmanan.

Bukan hanya itu. Orang-orang yang ada di dalam rumah pun menghambur keluar. Yang sedang berfoto bersama sang pengantin sunat pun buru-buru keluar melihat ke arah panggung. Tak lama kemudian, suasana sekitar panggung menjadi ambyaaarrr….

Kaidra, bocah enam tahun itu membawakan lagu karya Lord Didi Kempot (semoga tenang di sisi Tuhan) yang berjudul Pamer Bojo. Meski belum bisa melafalkan hurur “r”, tapi lagu “pamel bojo” mengalil dali mulut bocah tadi dengan lancal. Sontak membuat sebagian besar pengunjung histeris dan larut dalam goyang “cendol dawet” di depan stage.

Peristiwa yang terjadi awal tahun 2019 itu sontak membuat saya tak berhenti memikirkan satu nama: Didi Kempot. Satu nama yang pernah begitu lekat di otak saya saat ngetop dengan lagu Stasiun Balapan yang dirilis tahun 1999. Itu artinya, sudah lewat 21 tahun nama Didi Kempot lepas dari benak saya.

Karenanya, demi melihat dan mendengar Kaidra menyanyikan Pamer Bojo, sontak ada kesadaran di benak, “Wah… saya pasti ketinggalan informasi nih….”

Sebab, sangat jelas parameternya, jika satu lagu sampai dihafal luar kepala oleh anak-anak, bisa dipastikan lagu itu sangat terkenal. Lebih-lebih, ini lagu berbahasa Jawa, dan dihafal serta dinyanyikan oleh seorang bocah yang bahkan tidak bisa ngomong Jawa. Di situ saya merasa “ada yang salah”.

Syahdan, bubar acara saya browsing internet. Berselancar di youtube, dan mengulik video-video dengan keywords “didi kempot”. Masya Allah… hanya itu kata yang terucap demi melihat begitu banyak postingan video konsernya. Satu video ke video lain saya tonton. Begitu sepanjang malam, dan untuk malam-malam selanjutnya.

Rasanya sudah habis video Didi Kempot saya tonton. Lalu navigasi youtube terkoneksi ke penyanyi-penyanyi lain yang meng-cover lagu-lagu Didi Kempot. Ada yang model akustikan, ada yang model dangdut pantura, ada yang model konser, sampai bule-bule menyanyikan lagu Lord Didi.

Beberapa stasiun televisi, ternyata juga sudah pernah mengundang Lord Didi Kempot sebagai bintang tamu. Satu studio ikut ambyar dibuatnya. Bahkan Rosiana Silalahi (Kompas TV) dan Andy F Noya (Metro TV) ikut-ikutan ambyar ketika mendatangkan Didi Kempot ke acara yang mereka pandu.

Sampai di titik itu, saya merasa sudah jadi “sobat ambyar”, meski level pemula. Setidaknya, satu-dua lagu saya hafal luar kepala. Belasan bahkan puluhan lagu Didi Kempot yang lain, bisa saya nyanyikan kalau lihat teks.

Bahkan, saya bisa membawakannya sambil bermain gitar (kalau lihat kord). Sekali-kali, saya memainkan lagu Banyu Langit, Cidro, Kangen Nicheri, dan lagu-lagu Lord Didi di tuts piano klasik dengan terbata-bata mencari kord. Pendek kata, tiada hari tanpa menyanyikan atau mendengarkan lagu-lagu Lord Didi.

Ya… saya sangat kehilangan atas kepergian The Godfather of Broken Heart, Lord Didi Kempot. Juga termasuk yang sedih dan kecewa karena dipastikan gagal nonton konsermu yang direncanakan tanggal 10 Juli 2020 di GBK Jakarta. Padahal, saya sudah berencana, selesai wabah corona, pulang ke Jogja, membeli merchan kaos SOBAT AMBYAR warna hitam untuk joget tipis-tipis di konsermu…..

Selamat jalan Lord…. Kamu pergi saat berada di puncak karier. Justru karenanya, masyarakat mengingatmu dengan segala respek. “Berbuat baik kepada siapa saja”, kukira menjadi warisanmu yang paling mulia bagi sobat ambyar, dan kita semua. (roso daras)

Klangenan Lagu Rindu Kempot Hingga Cendol Dawet

Jayakarta News – Tembang kekinian berbahasa Jawa konstan banyak penggemarnya. Ketertarikan seseorang pada lagu tak hanya iramanya yang sahdu, namun makna syair yang dekat dengan realita pasti lebih memiliki daya pikat. Apalagi menyuarakan persoalan sehari-hari, terutama yang berporos pada pertautan asmara.

Pamer Bojo, juga  Banyu Langit yang dinyanyikan Didi Kempot bisa dibilang lagu klangenan. Lagu-lagu itu tidak hanya digandrungi para muda, melainkan juga menembus pelbagai golongan usia. Pun memasuki ruang-ruang yang selama ini kental kesan formalitasnya.

Pamer Bojo masuk kampus di saat gelar wisuda pula,  dimana civitas akademika hadir dalam uniform kebesaran. Mengenakan toga. Mulai mahasiswa/ wisudawan, para dosen hingga rektor.

Gawe rutin kampus yang kemudian diunggah di youtube itu pun di-share di laman media sosial what apps. Makin menyebar. Meski ini hanya selingan dalam prosesi wisuda, tapi paduan suara mahasiswa melantunkan Pamer Bojo di Auditorium Universitas Jember, Jawa Timur itu cukup fenomenal.     

Momen wisuda, akhir Januari lalu periode IV tahun 2019-2020 tampak  “ambyar”. Penuh suka cita, dan mendorong yang hadir luluh dalam kegembiraan. Berjoget  ria atau sekadar bertepuk-tepuk tangan.

Itu wajar-wajar saja. Sejenak istirah dari kepenatan pemikiran-pemikiran  yang senantiasa menantang logika, pun patron-patron etika yang lumrah di lingkungan cendekia kampus. Lalu memasuki suasana yang riang dalam ungkapan syair lagu yang menyiratkan kesahajaan, namun itu pun problem anak manusia yang jamak. Simak  larik-larik Pamer Bojo ini :

Kaya ngene rasane wong nandang kangen/Rino wengi atiku rasane peteng/ Tansah kelingan kepingin nyawang/ Sedela wae uwis emoh tenan

(Beginilah rasanya menanggung rindu/ Siang malam hatiku terasa gelap/ Selalu teringat ingin memandang/ (Namun ) sekejap saja tidak mau)

Cidro janji tegane kowe ngapusi/ Nganti seprene suwene aku ngenteni/ Nangis batinku nggrantes uripku/ Teles kebes netes eluh ning dadaku. (Ingkar janji teganya engkau membohongi/ Hingga sekian lama aku menunggu/ Menangis batinku merana hidupku/ Basah sekali air mata membasahi dadaku)

Dudu klambi anyar sing ning jero lemariku/ Nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku/ Dudu wangi mawar sing tak sawang ning mripatku/ Naning kowe lali/ nglarani wong koyo aku (Bukan baju baru di dalam lemariku/ tapi pasangan baru yang kau pamerkan padaku/ Bukan wangi mawar yang saya lihat/ tapi kamu lupa/ menyakiti orang seperti aku/

Konser Didi Kempot selalu dipenuhi sobat ambyar, para sadbois dan sadgirl.

Tentang genre lagu inilah yang kita bincangkan. Bukan dendang ria di acara wisuda yang disulut lantunan Pamer Bojo versi cendol dawet. Yakni menetesnya air mata yang digambarkan serupa butiran cendol-dawet. Hiperbola, untuk menyangatkan suasana. Dramatis.

Menyimak lagu-lagu Jawa Didi Kempot yang senantiasa jadi klangenan, sebenarnya narasinya tak beranjak dari yang pernah populer sebelumnya.  Yakni Stasiun Balapan maupun Terminal Tirtonadi, syair yang merepresentasikan seseorang yang rindu ditinggal kekasih. Yang pergi tak kunjung kembali. Tak ingat janji. Begitupun Sewu Kutho, nampaknya Kempot terinspirasi dengan kisah-kisah penantian atau mencari sang kekasih.

Banyu Langit juga serupa, iramanya lebih melankolik. Namun diwarnai imaji eksotika. Sementara Pamer Bojo yang condong ke irama dangdut, meski penuh baluran kerinduan diracik dalam irama riang. Hingga memicu orang untuk berdendang.

Eddy Koko

Lepas dari tema yang tak berubah, Didi Kempot tetap populer di khasanah lagu-lagu syair Jawa. “Ia konsisten pada jalurnya,“ komentar Eddy Koko, praktisi media yang suka mengamati perkembangan permusikan di tanah air. Tak hanya jazz tapi juga kroncong dan genre musik lainnya. 

Ia menilai, Kempot itu punya keberanian dalam melawan arus di kala banyak orang terbius budaya luar. Kempot adalah pahlawan budaya Jawa khususnya dan Indonesia secara keseluruhan.

Menurut Koko yang juga tukang reparasi piano, pasar lagu-lagu Kempot cukup luas, tidak terbatas Jawa, juga luar Jawa karena orang Jawa dimana-mana. Di Belanda, Suriname banyak wong Jowo, serta diaspora asal Jawa di luar negeri tetap gandrung-lagu-lagu Kempot.

Secara geografi, Jawa tak seluas Kalimantan, ataupun Papua. Namun penduduk Jawa dan yang berbahasa ibu Jawa paling dominan di tanah air ini. Populasi orang Jawa sebesar 40 pesen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 95,2 juta jiwa (data BPS 2010). Pun di kancah internasional, bahasa Jawa termasuk salah satu dari 10 bahasa di dunia yang banyak digunakan.

Kempot tampaknya tak banyak pesaing. “Fisip Meraung Band” yang juga menggubah dan menyanyikan lagu Jawa, campursari, belum setenar Kempot lagu-lagunya. Boleh dikata tak jauh beda mengangkat isu tema dalam lagu-lagu Jawanya. Persoalan cinta anak-anak muda zaman sekarang. Jika kelompok band mahasiswa di Solo ini lebih progresif, tentunya bisa mengungkap isu-isu sosial saat ini. Meski di lingungan dekatnya, anak-anak kos misalnya, perjuangan orangtua agar anaknya bisa kuliah. Ini kan banyak romantikanya, konflik-konfliknya dalam kehidupan.

Khalayak perlu disuguhi tema yang lebih beragam. Kempot misalnya,  bisa kolaborasi dengan penulis geguritan yang mumpuni, guna memperluas keragaman tema, dan penggalian sublimasi makna, dan lainnya seperti yang pernah dilakukan Bimbo dengan menggandeng  penulis puisi/ sastrawan Taufik Ismail.

“Lord” Didi Kempot

Banyak ranah dari Jawa yang bisa diselami lebih jauh oleh musisi/ seniman. Perlu ditatap, digugah dan digali lagi. Piwulang atau ajaran yang relevan dengan situasi kiwari cukup bertebaran. Tinggal bagaimana mengolahnya untuk konsumsi saat ini.  Tentu inovasi dan kreativitas  tantangannya.

Suluk yang pernah dilantunkan Gus Dur dan di-share di medsos salah satu  contoh saja: Akeh kang apal Quran Haditse/ seneng ngafirke marang liyane/ Kafire dewe dak digatekke/ yen isih kotor ati akale (Banyak yang hafal Al Quran dan hadis (tapi) suka mengafirkan orang lain. Kekafirannya sendiri tidak diperhatikan. (pertanda) masih kotor hati dan akalnya.

Kang aran sholeh bagus atine/ Kerono mapan seri ngelmune/ (Yang disebut orang sholeh itu bagus hatinya. Karena sempurna seri keilmuannya.

Iri lan meri sugihe tonggo/ Mula atine peteng lan nisto . Iri dan dengki (terhadap) kekayaan tetangga. Maka hatinya gelap dan nista.

Syair Jawa bisa dibawa ke situasi penuh warna. Pilihan Kempot yang setia dengan tembang berbahasa Jawa (bukan macam macopat yang memperhitungkan guru wilangan dan guru lagu/ bunyi, ) kadang oleh penyanyi lain dilantunkan dalam irama jazz,  bossanova, dan ini memperluas pasar/ pendengar. Terasa unik dan asyik pula dinikmati.

Bagi mereka yang memahami makna bahasanya, mungkin akan lebih merasuk. Kendati irama itu sendiri sudah bersifat universal. Karena banyaknya khasanah kata bahasa Jawa yang nilai rasanya pekat/tepat menunjuk pada bangunan situasi/ kondisi yang disasar. Kalau diterjemahkan, kadang tidak pas atau masih perlu penjelasan panjang. Ada pula frase yang tak terjelaskan. Sulit dibahasakan. Ini sering dibiarkan tertulis/ terucap dalam  bahasa aslinya. Dalam hal ini bahasa Jawa.

Pilihan Kempot dengan campursarinya, juga tema yang kerap diusungnya, bagaimanapun tetap memperkaya warna permusikan di tanah air. Sekaligus melestarikan lagu berbahasa Jawa. Namun, tentunya dengan memperluas cakupan kisah persoalan kehidupan dalam syairnya akan menambah topik cerita bagi pendengarnya.

Tak harus yang muluk-muluk, tapi yang dekat dengan keseharian kita. Realitas. Derita istri atau suami di dusun kecil karena  masalah ekonomi,  bukankah tetap merupakan persoalan di jagat dunia yang luas ini? Atau kegagapan orang tua yang kadang tak siap menghadapi kealamiahan yang semestinya wajar dijalani. Juga guyonan-guyonan yang dibingkai ajaran kearifan.

Memang, kadang bisa sedih dirasakan namun selalu indah dilantunkan dalam lagu, dan sering pula menghibur. Di situlah olah  rasa dan olah pikir penggubah lagu senantiasa ditantang. Termasuk melantunkannya, khususnya sang penyanyi. (iswati)