Ironi di Balik Demo Corona Natuna

 Ironi di Balik Demo Corona Natuna

Muhammad Afif (kiri) dan suasana demo masyarakat Natuna menentang karantina virus corona. (foto: ist)

Jayakarta News – Momok virus corona jauh lebih menakutkan dibandingkan Frankenstein. Virus yang berjangkit di Wuhan, Provinsi Hubei, China ini sudah menewaskan ratusan orang, dan menyerang ribuan pasien lain yang masih dalam perawatan intensif.

Sontak, virus yang merebak di tepi Sungai Yangtze itu menggemparkan dunia. Lebih 10 negara kini sudah terjangkit corona. Beruntung, hingga awal Februari, Kementerian Kesehatan RI melansir informasi yang agak melegakan, bahwa corona belum masuk negara kita. Tapi bukan berarti masyarakat hilang rasa cemas.

Pemberitaan masif ihwal virus yang mematikan itu, membuat masyarakat waspada luar biasa. Keadaan makin mencekam karena informasi lewat media sosial tak kunjung putus. Terus-menerus. Dari yang serius sampai yang akal bulus. Hoax dan yang bukan hoax terlanjur menyesaki rongga kepala.

Tak heran jika reaksi masyarakat juga aneka rupa. Ada yang tenang, ada yang panik luar biasa. Dalam suasana seperti itulah, menyembul kisah ironis dari Natuna, Kepulauan Riau. Wilayah terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Singapura, bahkan menjadi “incaran” China. Di Natuna pula, terletak karantina bagi pendatang yang dicurigai membawa virus corona.

Syahdan, pasca kedatangan 238 WNI dari Hubei di Natuna, mayoritas sekolah di kabupaten itu langsung meliburkan murid-muridnya. Keputusan pemerintah pusat menjadikan Natuna sebagai daerah karantina masuknya WNI dari daratan China, benar-benar membuat warga Natuna gusar.

Masyarakat dari berbagai elemen turun ke jalan, demonstrasi. Mereka memprotes keputusan pemerintah. Sebagian aktivitas Natuna lumpuh. Masyarakat yang berada di dekat lokasi karantina, di pangkalan TNI-AU, memilih diam di rumah. Yang pedagang pasar, tidak pergi ke pasar. Yang nelayan, tidak pergi melaut. Pendek kata, ekonomi mandeg.

Tersebutlah Muhammad Afif, salah satu aktivis penolak karantina corona di Natuna. Ia dan masyarakat sejak Jumat, Sabtu, dan Minggu (2/2/2020) turun ke jalan, meminta pemerintah pusat menutup karantina corona di Natuna. Demo bahkan masih berlangsung keesokan harinya.

Tapi hari itu, Senin (3/2/2020), Afif tampak di rumah saja, bersama istri dan anak-anaknya. Ia tak lagi menggebu-gebu demo menolak kedatangan 238 WNI dari Wuhan.

Usut-punya-selidik, ia sedang shock, sebab satu di antara 238 WNI yang dikarantina adalah adik sepupunya yang bernama Mohammad Athoillah. Benar, nama itu dalam manifes penumpang tercatat nomor 61. Identitasnya menyebutkan, Mohammad Athoillah lahir di Kelurahan Jurang Agung, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, tanggal 19 Juli 1997.

Mohammad Athoillah merupakan putra pertama Kyai Ahmad Sukron, pengasuh Pondok Pesantren Al-Barokah, Dusun Seneng, Kelurahan Jurang Agung, Kendal. Putra kiai yang akrab disapa “Atok” itu tengah belajar di Wuhan University berkat beasiswa yang diterimanya.

Sedangkan, kakak sepupunya, Muhammad Afif, sudah 10 tahun berdomisili di Batu Kapal, Kelurahan Ranaoi, Kabupaten Natuna. Tahun 2019, ia mengaku dua kali ketemu Atok. Pertama bulan Juni, saat Idul Fitri 2019. Lalu yang kedua, November 2019.

“Tapi saya tidak menyangka Atok ada di antara 238 WNI yang dievakuasi di Natuna. Padahal saya ikut demo paling depan sejak Jumat dan Sabtu. Maklumlah, info yang beredar sangat simpang siur, kami panik. Kami ketakutan orang-orang yang datang dari China itu membawa virus mematikan. Saya demo demi anak-istri. Dan semua pendemo juga punya alasan yang sama,” papar Afif kepada media lokal.

Muhammad Afif  baru tersentak setelah menerima telepon dari keluarganya di Kendal yang menanyakan kondisi di Natuna. Keluarganya memberitahu bahwa ada adik sepupunya, Atok di antara 238 WNI yang dievakuasi ke Natuna.

“Hari ini saya di rumah saja. Kemarin pun tidak jadi demo. Jadi, hari Minggu pagi, ketika saya hendak berangkat demo, tiba-tiba paman di Kendal menelepon, saya langsung lemes mas, berapa kali saya istighfar… saya baru sadar ada adik saya di hanggar bagian barat,” jelas Muhammad Afif, menyebut lokasi karantina. Matanya berkaca-kaca.

Di telepon, sang paman meyakinkan bahwa kondisi Atok baik dan sehat. Sebelum dipulangkan ke Indonesia, Atok sudah lolos tes kesehatan dan selalu mengabari bahwa kondisinya sehat. “Sampai akhirnya Atok menelepon saya, dan mengabarkan ia sehat. Di karantina Natuna Atok malah banyak makan ikan segar. Setiap hari berolahraga,” ujarnya.

Akhirnya, Afif justru mengucapkan terima kasih kepada pemerintah RI. Dia baru sadar bahwa WNI yang dievakusi ternyata sehat dan tidak menyebarkan virus seperti yang ditakutkan selama ini. Ke depan, Afif akan mengedepankan dialog, sebelum menempuh jalur aksi.

Kejadian tadi, tak pelak menyisakan dua pelajaran penting. Pertama, kelompok WNI yang menjadi korban karantina. Kedua, masyarakat Natuna yang juga menjadi korban hoax atau informasi yang tidak berdasar mengenai WNI yang dikarantina tadi.

Demikian diungkapkan Direktur Lembaga Kajian Natuna Institute, AE Hermawan. Pada bagian akhir keterangannya, Hermawan memuji pemerintah pusat yang dengan sigap berkoordinasi dan mengambil langkah cepat, sehingga bisa meredam gejolak masyarakat Natuna. (egy massadiah)

AE Hermawan. (foto: ist)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *