Virus Korona Jadi Pandemi, Kewaspadaan Diperlukan

 Virus Korona Jadi Pandemi, Kewaspadaan Diperlukan

Ilustrasi–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Virus Korona, yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, menyebar dan kelihatannya akan jadi pandemik keseluruh dunia. Pandemik ini akan punya dampak besar, meski sudah dilakukan pembatasan perjalanan dan karantina di Tiongkok dan di banyak negara, termasuk Indonesia, yang baru saja menerima warganya dari Wuhan.

Disisi lain, para ilmuwan, sampai sekarang, belum tahu seberapa mematikannya virus Korona baru ini dan karenanya tidak diketahui daya rusak virus ini terhadap kehidupan manusia, termasuk perekonomian. Disisi lain sudah ada konsensus bahwa virus sudah menyebar antara manusia dengan manusia.

Cara penyebaran virus Korona mirip dengan influenza atau flu, melalui udara dan sangat mudah berpindah dari manusia, yang sakit, ke manusia lainnya. Bahkan lebih mudah tersebar dibandingkan vurus SARS dan MERS, menurut temuan para ahli.

“Sangat mudah berpindah dan hampir dipastikan akan jadi pandemik,” ujar Dr. Anthony S Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease. “Apakah akan terjadi bencana? Saya tidak tahu.”

Sejauh ini, angka terjangkit virus Korona, yang sudah dikonfirmasikan, sudah lebih dari 20.000 orang di 26 negara dan sudah lebih dari 400 meninggal —- dan korban akan terus bertambah pada hitungan menit, jam, dan hari-hari mendatang.

Namun diperkirakan kasus sebenarnya bisa mencapai 100.000 lebih. Kendati penyebaran tidaklah secepat flu atau campak, namun jauh lebih cepat daripada SARS dan MERS, jelas para ahli virus.

Ketika SARS lenyap di bulan Juli 2003 setelah menyebar selama 9 bulan hanya ada 8.089 kasus terkonfirmasi. MERS menyebar sejak 2012 namun hanya ada 2.500 kasus saja.

Satu hal yang sama sekali tidak pasti adalah berapa banyak orang di dunia akan meninggal akibat virus Korona. SARS membunuh 10% dari mereka yang terjangkit. Dan MERS membunuh satu dari tiga orang, jelas para ahli.

Virus ini juga memicu ingatan orang akan “Flu Spanyol” tahun 1918 lalu. Virus ini membunuh 2,5% dari seluruh korbannya. Tapi karena yang terjangkit sangat banyak dan saat itu pelayanan medis masih sederhana maka sekitar 20 sampai 50 juta orang tewas akibatnya.

Pembanding lain, “Flu Babi” atau H1N1, yang sangat mudah menyebar, pandemi tahun 2009 lalu telah menyebabkan 285.000 orang meninggal —- angka ini masih lebih rendah dari korban meninggal akibat sakit flu atau influenza yang selalu melanda dunia. Namun tingkat kematian sebenarnya rendah, diperkirakan hanya 0.02% saja dari seluruh korban.

Virus Korona, sejauh ini, di Wuhan punya tingkat kematian sampai 2% dari seluruh korban dan tampaknya akan turun setelah dilakukan pengujian dan juga kasus-kasus ringan ditemukan.

“Makin lama makin kelihatan bahwa virus bisa diatasi,” jelas Dr. Thomas R. Frieden, mantan direktur Centers for Disease Control dan sekarang dia terlibat dalam upaya penanggulangan epidemi melalui lembaga nir-laba Resolve to Save Lives. Dia menambahkan, “Meski akan menyebar, sama seperti flu dan organisme lainnya, namun kita masih belum tahu sejauhmana, seluasmana atau tingkat kematiannya.”

Pada awal pandemic flu tahun 2009 lalu, “Mereka menyebutkan semacam kiamat di Meksiko,” ujar Dr. Fauci. Virus ini memang mulai muncul di peternakan babi di negara bagian Veracruz, Meksiko. “Tapi ternyata tidak separah (yang diperkirakan).”

Memperkirakan secara akurat tingkat kematian sebuah virus bisa dilakukan melalui penelitian mendalam, seperti tes darah untuk melihat berapa banyak orang sudah memiliki antikoodi, penelitian di tingkat rumah tangga untuk mempelajari penyebarannya dikalangan keluarga dan penelitian rangkaian genetika virus untuk melihat jenis tertentu lebih berbahaya dari jenis lainnya.

Menutup — secara terbatas atau total— perbatasan dengan Tiongkok, seperti banyak negara lakukan termasuk Indonesia, tidak pernah berhasil secara total mencegah masuknya virus. Karena semua perbatasan negara pada dasarnya tidak bisa ditutup secara ketat — seperti tembok atau pagar. Namun segala upaya skirining di lapangan terbang dan pelabuhan serta pelbagai pembatasan masuknya orang dari luar negeri bisa memperlambat penyebaran virus. Semua upaya ini bisa memberi waktu tambahan bagi para ahli mengembangkan obat anti-virus dan juga vaksinnya.

Hal lain yang sangat penting tapi tidak diketahui adalah siapa — maksudnya kondisi-kondisi tertentu— yang paling beresiko. Penularan yang paling cepat penyebarannya ; apakah melalui udara lewat batuk atau melalui permukaan, apa saja, yang dipegang. Kemudian, bagaimana kecepatan virus itu mampu bermutasi dan apakah akan hilang dengan sendirinya ketika cuaca makin hangat.

Dampak-dampak pandemik juga mungkin lebih kuat di beberapa negara dibandingkan dengan negara lain. Negara-negara maju seperti Amerika mungkin mampu mendeteksi dan mengkarantina penderita pertama, tapi negara-negara berkembang dan miskin dengan fasilitas kesehatan seadanya tidak akan mampu. Saat ini, virus sudah sampai di Kamboja, India, Malaysia, Nepal, dan Filipina serta kawasan pedalaman Rusia.

“Kelihatannya sudah seperti H1N1 (flu burung) daripada SARS, dan saya makin waspada,” tutur Dr. Peter Piot, direktur London School of Hygine and Tropical Medicine. “Bahkan dengan 1 persen saja tingkat kematian akan berarti 10.000 kematian dari satu juta orang.”

Para ahli lain juga makin kuatir

Dr. Michael Ryan, kepala respon kedaruratan World Health Organization (WHO) mengatakan, “Bukti-bukti memperlihatkan virus ini masih bisa diaatasi dan dunia tetap perlu terus berusaha’’

Sementara ahli virus Dr. W Ian Lipkin, dari Universitas Columbia, dan jadi penasehat Center for Disease Control and Prevention Tiongkok, menjelaskan kendati virus bisa ditularkan dengan kontak sederhana (melalui udara dan bersentuhan langsung atau tidak langsung). Namun laboratorium masih belum selesai dalam memproses contoh-contoh virus.

Saat ini, di Tiongkok kehidupan berubah drastis dalam waktu dua minggu. Jalan-jalan kelihatan lenggang atau bahkan kosong, acara-acara publik dibatalkan, dan masyarakat kemana-mana menggunakan masker serta mencuci tangan mereka, jelas Dr. Lipkin. Kendati semua aktivitas berjalan lambat di laboratorium didapati indikasi infeksi virus berlangsung dengan sangat cepat.

Dari informasi yang dikeluarkan oleh Eropean Center for Disease Prevention and Control memperlihatkan sukarnya mendeteksi orang yang terjangkit virus Korona bahkan diperkirakan 75% orang yang terjangkit dan tiba di Eropa dari Tiongkok dan masih dalam masa inkubasi tidak akan terdeteksi oleh skrining kesehatan.Sementara, jika ada pendatang, yang terjangkit dan sudah memperlihatkan gejala batuk-batuk, diperkirakan juga sudah menulari orang lain (satu pesawat) hingga kemungkinan penyebaran makin besar.

Jika virus benar-benar menyebar secara global, maka turisme dan perdagangan akan terkena paling berat. Apalagi ditambah dengan upaya-upaya darurat untuk mencegah virus makin menyebar.

Kendati begitu ada begitu banyak obat-obat anti-virus diberikan kepada pasien, bahkan termasuk untuk penderita HIV. Tiongkok sendiri sudah mengumumkan sebanyak lebih dari 600 pasien virus Korona sembuh —- sebuah kabar baik.

Oleh: Leo Patty

Sumber informasi: nytimes.com

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *