• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

IMF Minta RI Waspadai Potensi Risiko Defisit Transaksi Berjalan

IMF Minta RI Waspadai Potensi Risiko Defisit Transaksi Berjalan

admin by admin
April 10, 2019
in Ekonomi & Bisnis, Kabar
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Aktivitas bongkar muat petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

JAYAKARTA NEWS – Sekalipun Dana Moneter Internasional (IMF) melihat kemungkinan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami pelambatan pada 2019/2020, tetapi Indonesia diperkirakan tumbuh di kisaran 5,2%.

Perkiraan tersebut disampaikan IMF dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2019 yang diluncurkan di sela-sela Annual Spring Meeting IMF-World Bank (WB) yang berlangsung di Washington (9/4/2019).

Proyesi tersebut tidak berubah dari apa yang disampaikan di WEO pada Oktober 2018, saat IMF merilisnya dalam pertemuan di Bali.

Filipina dan Vietnam menjadi negara yang memiliki pertumbuhan terbaik di kisaran 6,5%, sedangkan Indonesia berada di urutan ketiga. Sekalipun pertumbuhan Indonesia terbilang bagus, namun IMF memperingatkan pentingnya kewaspadaan terkait dengan risiko defisit transaksi berjalan.

Indonesia, bersama dengan Pakistan dan India, masuk dalam deretan kelompok negara di Asia yang memiliki risiko defisit transaksi berjalan. Apa yang dialami oleh ketiga negara Asia itu sebagai dampak dari kenaikan harga minyak. Bagi Indonesia, kenaikan harga migas telah memaksa melonjaknya nilai impor barang tersebut.

Dengan posisi sebagai net importir BBM, Direktur Riset CORE Indonesia Piter R. Abdullah, melihat situasi itu menyulitkan posisi Indonesia. Masalahnya, kenaikan harga minyak pasti berdampak negatif terhadap upaya pemerintah dalam meperbaiki defisit transaksi berjalan. Menurutnya, hal itu dapat diredam apabila dampak dari penerapan B20 untuk menurunkan impor solar, benar-benar efektif.

Indonesia harus mewaspadai saat level harga minyak mentah di posisi US$80. Hal ini penting, karena level tersebut yang berkontribusi terhadap defisit transaksi berjalan. Piter memperkirakan, kenaikan harga minyak hanya akan terbatas pada tahun ini, mengingat terjadinya perlambatan ekonomi global.


Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath (kanan) dan Wakil Direktur Departemen Riset IMF, Gian Maria Milesi-Ferretti saat memberikan keterangan kepada wartawan di Washington DC, Selasa (9/4).

Pelambatan Global

IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan global untuk 2019 menjadi 3,3%, turun 0,2 poin dari estimasi pada Januari. Menurut IMF, ekonomi dunia menghadapi sejumlah risiko penurunan karena adanya ketidakpastian potensial yang dipicu oleh ketegangan perdagangan global, dan faktor-faktor spesifik negara dan sektor lainnya.

Proyeksi pertumbuhan 3,3% untuk 2019 adalah 0,3 poin di bawah estimasi 2018, dan diharapkan tumbuh kembali menjadi 3,6 persen pada 2020.

Negara-negara maju diprediksi tumbuh 1,8% untuk 2019 dan 1,7 persen untuk 2020, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Untuk negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang, IMF memperkirakan tingkat pertumbuhan turun menjadi 4,4 persen untuk 2019, atau turun 0,1 poin persentase dari 2018, dan ekspansi akan pulih ke tingkat 4,8 persen pada 2020, menyamai hasil 2017.

Dalam laporannya, Kepala ekonom IMF Gita Gopinath menyebutkan bahwa proyeksi perlambatan pada 2019 adalah berbasis luas.

“Ini mencerminkan revisi negatif untuk beberapa ekonomi utama termasuk kawasan euro, Amerika Latin, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia,” kata Gopinath. (*/VOA)

Tags: IMFprediksirisikowaspada
Previous Post

Presiden Resmikan Tol Paspro, Pasuruan – Probolinggo 30 Menit

Next Post

BMKG: Masyarakat yang Tinggal dan Beraktivitas di Pesisir Pantai, Waspadalah!

admin

admin

Next Post
BMKG: Masyarakat yang Tinggal dan Beraktivitas di Pesisir Pantai, Waspadalah!

BMKG: Masyarakat yang Tinggal dan Beraktivitas di Pesisir Pantai, Waspadalah!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version