Ukraina Tetap Bertahan Melawan “Goliat” Rusia

 Ukraina Tetap Bertahan Melawan “Goliat” Rusia

Perang Rusia vs Ukraina. (foto: japantime.co.jp)

JAYAKARTA NEWS – Sudah lebih dari 10 hari serangan Rusia terhadap Ukraina berlangsung. Sudah lebih dari 1,5 juta warga Ukraina mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Modolva, Polandia, dan negara-negara Eropa lainnya.

Sementara perundingan menuju gencatan senjata dan mungkin perdamaian sudah tiga ronde dilakukan tanpa hasil. Dan ronde ke-4 akan dimulai Senin, 7 Maret 2022.

Di sisi lain, krisis kemanusian telah memaksa IMF (International Monetary Fund) akan mengucurkan dana darurat sebesar 1,4 miliar dolar AS untuk Ukraina. Namun perang juga telah mengacaukan perekonomian dunia, yang tampak dari naik tajamnya harga energi dan biji-bijian (termasuk kedelai).

Dalam pernyataan IMF, disebutkan “Saat situasi tidak jelas dan akhir (dari perang) sangat tidak pasti, konsekuensi ekonomi sudah sangat serius. Perang dan sanksi-sanksi (terhadap Rusia) punya dampak sangat buruk bagi perekonomian global.”

Ditambahkan, syok ekonomi akan dirasakan di seluruh dunia. Lembaga keuangan dunia ini juga mendorong setiap negara memberikan bantun keuangan kepada masyarakat miskin. IMF juga memperingatkan kerusakan ekonomi makin berat jika perang makin meluas dan lama.

Presiden Rusia Vladimir Putin kelihatannya ingin mengenyahkan pemerintahan demokratis Ukraina dan menggantinya dengan pemerintahan yang mendukung Rusia. Dia punya konsep mistis Russky Mir (Dunia Rusia).

Namun apakah mungkin, memang ada preseden di Belarusia, yang pemerintahannya sekarang mendukung Rusia. Bahkan ada kemungkinan negara tetangga Ukraina ini ikut serta mengirimkan pasukannya mendukung serangan pasukan Rusia. Dan juga ingat Chechnya, yang juga jadi pendukung Putin. Pasukan Rusia punya kekuatan sangat besar dan bisa dipastikan akan berhasil menguasai Ukraina, yang jauh lebih kecil.

Namun penguasaan militer di satu wilayah belum tentu artinya perlawanan selesai. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pada saat negara kritis, membuktikan dia seorang pemimpin sejati. Mantan comedian keturunan Yahudi ini terus menerus menyemangati rakyatnya untuk melawan pasukan Rusia melalui media sosial.

Mengingatkan kita akan Bung Tomo dengan pidato berapi-api dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Zelensky bisa saja selfie di jalan-jalan di ibukota Kiev dan menyatakan “Ya tut” atau “Saya di sini”. Dia tetap bertahan di sebuah bunker di Kiev dan secara terus-menerus mengabarkan serangan roket Rusia dan korban-korban sipil kepada Parlemen Eropa dengan tekanan emosi yang besar.

Zelensky lahir dan besar di Kryvyi Rih, kota industry besi baja di tenggara Ukraina. Di tempat ini ribuan warga Ukraina, terutama keturunan Yahudi, tewas ditangan pendudukan Nazi di era Perang Dunia II. Prestasi akademisnya biasa-biasa saja, dia mendirikan sebuah kelompok comedian, yang Bernama Kvartal 95. Pada tahun 2015, dia membintangi sebuah film komedi berjudul “Pelayan Rakyat”.

Film parodi ini melukiskan Vasyl holoborodko (diperankan oleh Zelensky) seorang guru SMA yang ngomel terus menerus mengenai perilaku korup para politisi. Film ini sangat terkenal dan rakyat Ukraina sangat terkesan dengan kejujurannya…… beberapa saat kemudian dia jadi presiden.

Sebenarnya sikap tegas Zelensky sudah bisa dirasakan ketika dia bentrok dengan Presiden AS Donald Trump tahun 2019 lalu. Ketika itu, Trump meminta Ukraina menyelidiki kegiatan bisnis Joe Biden (belakangan jadi presiden AS) di Ukraina. Namun dia menolak. Kemudian,Trump mengancam akan menahan bantuan militer ratusan juta dolar kepada Ukraina. Karena itu, tidak mengherankan sikap Trump, minggu lalu, dia mengomentari invasi Rusia sebagai langkah “jenius”.

Zelensky menyatakan tidak akan keluar dari Ukraina, saat tank-tank Rusia mulai memasuki negerinya. Rakyat Ukraina, yang sebelum perang dukungannya melemah, langsung berdiri dibelakang presidennya. “Dia punya indra keenam mengenai apa yang dikehendaki rakyat. Pada saat krisis, dia jadi saluran energi rakyat dan jadi sinar terang,” tukas gor Novikov, mantan penasehat presiden.

Namun kalau melihat jalannya pertempuran memang akan sangat terasa berat sebelah. Kota-kota utama Ukraina, seperti Kharkiv, Mariupol, dan lannya sudah terkepung dan terus dihujani bom dan roket. Pasukan Rusia juga sudah menyerang dan menguasai kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa.

Melihat sepak terjang Putin, dia tidak akan menahan serangan. Dua puluh dua tahun lalu, dia menghancurkan Grozny, ibukota Chechnya, yang menewaskan ribuan warga sipil. Sekarang, pemerintahan Chechnya jadi pendukung Rusia (baca: Putin) dan mengirimkan ribuan tentaranya mendukung serbuan Rusia.

Namun, kali ini reaksi internasional memang diluar perkiraan Putin. Yang pernah mengobarkan pertempuran perbatasan di Georgia tahun 2008 dan menginvasi Krimea dan Donbas tahun 2014 lalu. Sanksi-sanksi ekonomi serius telah membuat perekonomian Rusia bisa dibilang berantakan. Mata uang Ruble jatuh dan bursa saham terpaksa ditutup sejak awal minggu lalu. Bank-bank Swiss membekukan asset-aset Rusia.

Bahkan Jerman secara mendadak meningkatkan belanja militernya dan bergerak cepat untuk membatasi ketergantungan energi (terutama gas) kepada Rusia. Sejumlah lembaga olah raga internasional, termasuk International Olympic Committee, FIFA dan UEFA menghukum Rusia dengan mengeluarkan negara itu dari kancah kompetisi olah raga internasional. Termasuk juga penyelenggaraan balapan F1.

Sudah tidak terhitung perusahaan swasta yang keluar dari Rusia dan mendukung sanksi ekonomi. Rusia terlihat sendirian menghadapi dunia. Situasi sangat berbeda saat Putin menghantam tetangganya dulu.

Satu-satunya orang yang bisa menghentikan kerusakan lebih besar di Ukraina, berupa bencana kemanusiaan, dan Rusia, bencana ekonomi dan akibat ikutannya adalah orang yang memulai perang ini. Yaitu Putin.

Zelensky sendiri sangat sadar akan kenyataan. “Ini bukan film” tukasnya. Bagaimana nasib negerinya dan dirinya? Saat ini, tidak ada yang tahu. (Leo dari berbagai sumber)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.