Ibu Perokok Kemungkinan Lahirkan Anak Gay

 Ibu Perokok Kemungkinan Lahirkan Anak Gay

Ilustrasi—sumber gambar geneticsdigest com

Ilustrasi—sumber gambar geneticsdigest com

JAYAKARTA NEWS—Sebuah  pernyataan  kontroversi  dilansir  oleh seorang neuroscientist. Ia menyebutkan,  wanita hamil yang merokok, gemar mengkonsumsi obat-obatan, juga wanita yang mengalami stress selama masa kehamilannya, dapat meningkatkan kemungkinan melahirkan anak yang menjadi gay atau lesbian atau biseksual masa dewasa.  Demikian dikutip dari telegraph.co.uk dan sumber lainnya.

Profesor Dick Swaab, Guru Besar Ahli Neurobiologi dari Universitas Amsterdam Profesor Dick Swaab, meyakini,  gaya hidup wanita selama kehamilan, secara langsung terkait dengan perkembangan anak yang dilahirkannya. Gaya hidup yang buruk dari ibu juga akan mempengaruhi IQ anak yang dilahirkannya.

Pernyataan pengarang buku ‘We Are Pur Brains’  yang membuat geger itu, bertentangan dengan anggapan orang bahwa menjadi gay atau lesbian merupakan pilihan gaya hidup. Swaab mengatakan, tidak ada bukti kuat bila perkembangan anak setelah lahir dapat mempengaruhi orientasi seksualnya. Sebab, banyak anak yang diasuh pasangan gay atau lesbian, namun tidak tumbuh menjadi homoseksual. “Tidak ada bukti juga bila homoseksual merupakan pilihan dari gaya hidup,” ujarnya.

Swaab percaya bahwa seksualitas seorang anak sangat ditentukan ketika mereka masih di dalam rahim. Ini tidak dapat diubah, katanya. “Wanita hamil yang menderita stres juga lebih mungkin untuk memiliki anak homoseksual dari kedua jenis kelamin karena stress meningkatkan hormon kortisol yang mempengaruhi produksi hormon seks janin,” tambah Swaab yang dikenal dengan keahliannya di bidang neuroscience.

Neuroscience adalah ilmu yang mempelajari mengenai otak dan seluruh fungsi-fungsi syaraf belakangan ini telah berkembang menjadi neuropsikiatri dan neurobehaviour (penggabungan antara perilaku dan fungsi otak). Penggabungan ini didasari karena otak merupakan sumber dari pemikiran. Neuroscience juga menelaah penyakit yang turut diatur otak dengan berbagai macam bentuknya.

Menurut Swaab,  otak pada janin mulai berkembang pada usia dua minggu, dan apa pun racun-racun yang masuk ke dalam tubuh, memiliki dampak pada perkembangan ini. Tinggal di daerah polusi tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko autisme.
Namun begitu, ucapnya, faktor gaya hidup hanya salah satu pengaruh. Genetika memainkan peran yang paling penting. Tapi, katanya,  penelitian membuktikan bahwa perkembangan otak selama kehamilan secara langsung terkait dengan gaya hidup orang dewasa.***/ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *