Riset Kerjasama G20 untuk Energi Berkelanjutan Antar Warek IV UBJ Raih Doktor HI

 Riset Kerjasama G20 untuk Energi Berkelanjutan Antar Warek IV UBJ Raih Doktor HI

JAYAKARTA NEWS – Wakil Rektor IV Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) Diah Ayu Permatasari meraih gelar doktor Ilmu Hubungan Internasional (HI) di Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Padjadjaran dengan predikat Cam Laude.

Riset bertajuk Kerja Sama Multilateral Indonesia dalam Mewujudkan Energi Berkelanjutan Melalui Forum G20 (2009-2018) mengantar Pepy, sapaan akrab dosen Fakultas Ilmu Komunikasi UBJ itu, menjadi doktor HI ke-40 dari Unpad. Untuk diketahui, Program S-3 HI Unpad adalah satu-satunya yang ada di Indonesia.

Promovendus berhasil mempertahankan risetnya di depan sidang terbuka yang berlangsung pada Senin (8/4/2018).

Dalam sisi tanya jawab, salah satu yang ditanyakan penguji adalah isu menyangkut kelapa sawit. Dalam pandangan promovendus, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, melalui mitigasi yang disiapkan, sudah memadai. Dalam hal ini, perkebunan sawit di Indonesia bukan hanya semata-mata mengejar nilai ekonominya saja, tetapi juga bertanggungjawab atas lingkungan.

Penelitian yang dilakukan Diah memberi simpulan, bahwa G20 adalah salah satu forum kerja sama dalam merumuskan berbagai komitmen dan upaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menetaplan agenda global di bidang ekonomi.

“Tidak hanya permasalahan ekonomi, G20 juga merupakan forum yang berupaya untuk mengatasi berbagai masalah global, sekaligus forum untuk membangun kemitaraan yang strategis dan kerja sama dengan anggota G20 dan negara-negara lainnya termasuk diantaranya bidang energi,” papar Pepy.

Kerjasama multilateral pada forum G20 pada pemenuhan energi berkelanjutan menitikberatkan pada pembahasan berbagai isu seputar energi melalui pembentukan G20 Energy Sustainability Working Group (ESWG).

Menurutnya, pembahasan pada ESWG sebagai platform penting dalam menjawab dan memberikan alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan dan hambatan di bidang energi.

“ESWG menjadi alat yang penting bagi negara-negara G20 dalam melakukan implementasi dari platform politik pemenuhan energi serta kelanjutan dari pembangunan kerangka energi global yang diterapkan pada forum multilateral,” jelasnya.

“Pembahasan pada ESWG menggambarkan difuse reciprocity yang secara perlahan dalam jangka panjang keuntungan ini membawa kebaikan bagi negara-negara G20 termasuk Indonesia dalam melakukan langkah-langkah untuk mengimplementasikan sejumlah komitmen di bidang energi dalam rangka mengamankan cadangan energi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai upaya diantaranya pencabutan dan pengalokasian subsidi yang tepat guna, serta pengembangan energi baru terbarukan yang efektif, efisian dan ramah lingkungan,” papar Pepy.

Pada bagian lain Pepy mengungkapkan, bahwa dalam pemenuhan kebutuhan energi berkelanjutan, bagi Indonesia forum G20 sangatlah penting. Forum itu untuk membangun kerja sama dengan negara-negara G20 dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional yang saat ini masih menimbulkan berbagai permasalahan.

Dari riset yang dilakukan, Pepy menyarankan agar Indonesia konsisten untuk mencapai usaha dalam mencapai energi berkelanjutan baik komitmeb di dalam negeri maupun bernegosiasi di forum kerja sama multilateral.

Juga digarisbawahi bahwa aktivasi dan keterlibatan koordinasi stake holder harus lebih aktif agar implementasi komitmen di bidang energi berkelanjutan di forum G20 dapat terlaksana dengan baik. [sm]

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *