Kabar
dr. Saraswati MP.Si: Pionir Penelitian Peluruhan Radikal Bebas dan Terapi Holistik di Indonesia
MALANG, JAYAKARTA NEWS – Di sebuah klinik sederhana di Jalan Surakarta No. 5 Malang, Jawa Timur, beroperasi sebuah lembaga penelitian yang telah menarik perhatian dunia medis internasional. Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas, yang dikenal juga sebagai Rumah Sehat Malang, dipimpin oleh seorang dokter perempuan yang telah mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan terapi alternatif yang kontroversial namun terbukti efektif. Dialah dr. Saraswati MP.Si, FIAS, yang akrab disapa dokter Ati.
Memahami Radikal Bebas: Musuh Tersembunyi dalam Tubuh
Sebelum memahami kedalaman penelitian yang dilakukan dr. Saraswati, penting untuk mengetahui apa sebenarnya radikal bebas. Radikal bebas adalah “pencuri kecil” dalam tubuh yang merusak sel-sel sehat, seperti karat yang menggerogoti logam.
Molekul-molekul tidak stabil ini memiliki elektron tidak berpasangan yang membuatnya sangat reaktif dan cenderung “mencuri” elektron dari sel-sel sehat untuk mencapai kestabilan.
Radikal bebas berasal dari berbagai sumber, termasuk polusi udara, sinar ultraviolet berlebihan, makanan tidak sehat, stres, dan bahkan proses metabolisme normal dalam tubuh. Dampaknya sangat merugikan: menyebabkan penuaan dini, menurunkan daya tahan tubuh, dan berkontribusi pada berbagai penyakit kronis seperti kanker, jantung, dan diabetes.
Untuk melawan radikal bebas, tubuh memerlukan antioksidan yang banyak terdapat dalam buah-buahan, sayuran hijau, dan bahan-bahan alami lainnya. Pemahaman mendalam tentang mekanisme radikal bebas inilah yang menjadi dasar penelitian revolusioner dr. Saraswati.
Perjalanan Hidup Seorang Dokter Visioner
Lahir di Malang pada 25 Juli 1962, dr. Saraswati memulai perjalanan kariernya di bidang medis dengan menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Tidak puas dengan pendidikan formal kedokteran saja, ia melanjutkan studi S2 Psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, sebuah kombinasi keilmuan yang kemudian menjadi fondasi pendekatan holistiknya dalam pengobatan.
Perjalanan akademisnya yang unik ini mencerminkan visi dr. Saraswati tentang kedokteran yang tidak hanya melihat penyakit dari aspek fisik semata, tetapi juga mempertimbangkan dimensi psikologis pasien.
Pendekatan interdisipliner ini menjadi cikal bakal metode terapinya yang revolusioner.
Karier Akademis dan Profesional yang Beragam
Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia penelitian radikal bebas, dr. Saraswati memiliki pengalaman profesional yang sangat beragam. Ia pernah menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Merdeka (UNMER) Malang
dan bahkan pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Tribuana Tunggadewi. Pengalaman akademis ini memberikan fondasi teoritis yang kuat untuk penelitian-penelitiannya di kemudian hari.
Dalam dunia praktik medis, dr. Saraswati juga memiliki pengalaman yang luas. Ia pernah bekerja sebagai dokter di UPTD PMI Cabang Malang, dokter UKS SMAN 8 Malang, relawan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), dan pernah memimpin unit kesehatan olahraga serta RS Bersalin Pemda Malang. Keragaman pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek kesehatan masyarakat.
Yang menarik, dr. Saraswati juga aktif sebagai komunikator kesehatan. Ia pernah mengisi program seksologi di beberapa radio di Malang seperti Mas FM dan Kosmonita, serta program kesehatan di radio Cakrabuana dan KDS.
Aktivitas ini menunjukkan komitmennya untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan secara luas.
Keahlian dr. Saraswati di bidang seksologi diakui secara profesional melalui gelar FIAS (Fellow Indonesian Association of Sexology) yang disandangnya.
Gelar ini menunjukkan bahwa ia adalah anggota senior atau fellow dari Asosiasi Seksologi Indonesia, yang menandakan kedalaman pengetahuan dan pengalamannya dalam bidang kesehatan seksual dan reproduksi. Kombinasi keahlian medis, psikologi, dan seksologi inilah yang menjadikan pendekatannya dalam terapi sangat komprehensif dan holistik.
Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas: Sebuah Terobosan
Titik balik dalam karier dr. Saraswati terjadi ketika ia mendirikan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Jalan Surakarta No. 5 Malang. Lembaga ini lahir dari pengalaman pribadi yang sangat memilukan.
Suaminya, dr. Subagio, didiagnosis mengidap Lymphoma non-Hodgkin, sejenis kanker kelenjar getah bening yang prognosisnya sangat buruk.
Dalam pencarian alternatif pengobatan, dr. Saraswati bertemu dengan dr. Greta Zahar, yang kemudian menjadi mentornya dalam mengembangkan terapi balur. Keberhasilan terapi ini dalam membantu kesembuhan suaminya menjadi motivasi utama untuk mengembangkan metode ini secara ilmiah dan sistematis.
Lembaga yang bermarkas di Rumah Sehat Malang ini kemudian berkembang menjadi pusat penelitian yang tidak hanya melayani pasien lokal, tetapi juga menarik perhatian internasional. Pasien dari berbagai negara seperti Timur Tengah, Australia, Singapura, Malaysia, Norwegia, Amerika Serikat, dan Jerman datang untuk menjalani terapi di tempat ini.
Terapi Balur: Inovasi Kontroversial yang Terbukti Efektif

Metode terapi yang dikembangkan dr. Saraswati memang tidak konvensional.
Terapi balur yang ia kembangkan menggunakan bahan-bahan alami Indonesia seperti kopi, cengkeh, air kelapa, tomat, wortel, belimbing, bawang sabrang, singkong, kelor, tembakau, dan minyak kelapa. Proses terapinya mirip dengan luluran tradisional, tetapi dengan pendekatan ilmiah yang mendalam.
Yang membuat terapi ini kontroversial adalah penggunaan tembakau dalam bentuk “divine kretek” sebagai salah satu komponen terapi. Namun, dr. Saraswati menegaskan bahwa setiap komponen terapi memiliki dasar ilmiah yang kuat dan telah dipublikasi dalam jurnal internasional.
Menurut penelitian yang dilakukan, terapi balur bekerja melalui proses detoksifikasi dan regenerasi sel. Teknik pemijatan yang digunakan mengikuti arah berlawanan jarum jam, yang diklaim dapat mengubah medan magnet dengan membuang elektron berdasarkan hukum fisika.
Kontribusi dalam Dunia Akademis Internasional
Keberhasilan dr. Saraswati tidak hanya diakui secara lokal, tetapi juga internasional. Bersama mentornya dr. Greta Zahar dan Prof. Dr. Sutiman Bambang Sumitro, M.Sc., ia pernah mempresentasikan terapi balur dalam sebuah kongres internasional di Selandia Baru. Presentasi dan demonstrasi yang mereka lakukan mendapat sambutan luar biasa dari peserta kongres yang berasal dari seluruh dunia.
Pencapaian ini sangat membanggakan, mengingat terapi tradisional Indonesia berhasil diakui dalam forum ilmiah internasional. Hal ini juga membuktikan bahwa kearifan lokal Indonesia, jika dikembangkan denganpendekatan ilmiah yang tepat, dapat berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dunia.
Keterlibatan dalam Organisasi Sosial dan Profesional
Selain fokus pada penelitian dan praktik medis, dr. Saraswati juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan profesional. Ia adalah anggota aktif Rotary Club Malang Central (RCMC), Himpunan Wanita Karya (HWK), dan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Malang. Keterlibatan dalam organisasi-organisasi ini menunjukkan komitmennya terhadap pengabdian masyarakat yang lebih luas.
Sebagai anggota Asosiasi Seksolog Indonesia, dr. Saraswati juga berkontribusi dalam bidang edukasi kesehatan seksual, sebuah area yang masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia namun sangat penting untuk kesehatan holistik.
Filosofi dan Pendekatan Holistik dalam Pengobatan
Yang membedakan dr. Saraswati dari praktisi medis lainnya adalah pendekatannya yang sangat holistik. Ia tidak hanya melihat penyakit sebagai gangguan fisik semata, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis, spiritual, dan lingkungan pasien. Pendekatan ini tercermin dalam metode terapinya yang menggabungkan pengetahuan medis modern dengan kearifan tradisional Indonesia.
dr. Saraswati percaya bahwa setiap ciptaan Tuhan memiliki tujuan dan manfaat. Filosofi ini mendasari penggunaan bahan-bahan alami dalam terapinya, termasuk penggunaan tembakau yang kontroversial. Menurutnya, dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan ilmiah, bahkan bahan yang dianggap berbahaya dapat dimanfaatkan untuk kesembuhan.
Tantangan dan Kritik
Sebagai pionir dalam bidang terapi alternatif, dr. Saraswati tidak luput dari kritik dan skeptisisme. Metode terapinya yang “out of the box” dari dunia kedokteran konvensional seringkali mendapat pertanyaan dari kalangan medis tradisional. Penggunaan tembakau dalam terapi khususnya menjadi sorotan, mengingat bahaya merokok yang sudah terbukti secara ilmiah.
Namun, dr. Saraswati menghadapi kritik ini dengan menyediakan bukti ilmiah melalui penelitian yang dipublikasi dalam jurnal internasional. Ia juga menunjukkan hasil nyata berupa kesembuhan pasien-pasiennya, yangdatang tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari berbagai negara.
Dampak dan Legacy
Keberhasilan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di bawah pimpinan dr. Saraswati telah memberikan dampak yang signifikan. Pertama, lembaga ini memberikan alternatif pengobatan bagi pasien yang tidak merespons terapi konvensional atau yang tidak mampu secara finansial menjalani pengobatan mahal seperti kemoterapi.
Kedua, penelitian yang dilakukan telah berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang terapi komplementer dan alternatif. Publikasi dalam jurnal internasional menunjukkan bahwa kearifan lokal Indonesia dapat diangkat ke level ilmiah yang diakui dunia.
Ketiga, keberhasilan dr. Saraswati membuka jalan bagi peneliti Indonesia lainnya untuk mengeksplorasi potensi bahan-bahan alami Indonesia untuk pengobatan. Hal ini dapat meningkatkan kemandirian Indonesia dalam
bidang kesehatan dan mengurangi ketergantungan pada obat-obatan impor.
Inovasi Terkini: Terapi Infus Hidrogen dan Nano Bubble
Tidak puas dengan pencapaian dalam terapi balur, dr. Saraswati terus mengembangkan inovasi dalam bidang terapi alternatif. Saat ini, selain mengelola Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Jalan Surakarta No. 5 Malang, ia juga aktif melakukan praktik terapi infus hidrogen dan nano bubble sebagai bagian dari layanan medis yang ditawarkan.
dr. Saraswati juga terlibat sebagai salah satu dokter peneliti senior dalam program penelitian terapi gelembung nano hidrogen yang
dikembangkan oleh Institut Molekul Indonesia (IMI). Penelitian ini merupakan uji klinis fase 3 injeksi intravena gelembung nano hidrogen
untuk pengobatan Parkinsonism, yang merupakan hasil kolaborasi antara IMI, Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), dan RAHO Club.
Terapi infus hidrogen dan nano bubble yang dipraktikkan dr. Saraswati merupakan metode pengobatan inovatif yang menggunakan teknologi molekul hidrogen dalam bentuk gelembung nano yang diinfuskan langsung ke dalam pembuluh darah pasien. Metode ini diklaim dapat membantu berbagai kondisi kesehatan melalui sifat antioksidan hidrogen yang dapat
menetralisir radikal bebas di tingkat seluler.
Dalam praktiknya di Rumah Sehat Malang, terapi infus hidrogen dan nano bubble ini menjadi pelengkap dari terapi balur yang sudah ada. Pasien dapat memperoleh manfaat ganda dari kedua terapi ini, dengan terapi
balur yang bekerja dari luar tubuh dan terapi infus hidrogen yang bekerja dari dalam sistem peredaran darah.
Pesan untuk Perempuan Indonesia
Sebagai perempuan yang berhasil dalam bidang yang didominasi laki-laki, dr. Saraswati memiliki pesan khusus untuk perempuan Indonesia. Ia menekankan bahwa perempuan adalah makhluk luar biasa yang memiliki
fungsi ganda sebagai teman, istri, ibu, nenek, maupun pekerja. Kunci sukses adalah kemampuan untuk mengelola semua fungsi tersebut dengan baik.
dr. Saraswati juga mengingatkan pentingnya nilai-nilai dasar seperti kejujuran, keberanian untuk mengatakan kebenaran, dan kemampuan mengakui kesalahan. Ia mengajak perempuan Indonesia untuk menjadi sosok yang bermartabat dan berkepribadian Indonesia, sembari tetap berkontribusi pada kemajuan bangsa.
Visi Masa Depan
Melihat ke depan, dr. Saraswati memiliki visi besar untuk mengangkat martabat Indonesia melalui pengembangan kekayaan alam dan kearifan lokal. Ia percaya bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam bidang pengobatan tradisional yang, jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang tepat, dapat membuat Indonesia sejajar dengan negara-negara maju lainnya.
Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas yang dipimpinnya diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan riset serupa di berbagai daerah di Indonesia. Dengan demikian, kekayaan tradisi pengobatan Nusantara dapat terjaga sekaligus dikembangkan untuk kepentingan umat manusia.
Catatan Akhir
dr. Saraswati MP.Si, FIAS adalah contoh nyata seorang ilmuwan Indonesia yang berhasil menggabungkan kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah modern. Melalui Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas, ia telah
membuktikan bahwa terapi tradisional Indonesia dapat dikembangkan menjadi alternatif pengobatan yang diakui secara internasional.
Perjalanan hidupnya yang dimulai dari pengalaman pribadi yang menyakitkan telah berkembang menjadi kontribusi besar bagi dunia medis. Keberhasilannya tidak hanya memberikan harapan baru bagi pasien-pasien dengan penyakit kronis, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan terapi komplementer dan alternatif di Indonesia.
Sebagai seorang perempuan, dokter, peneliti, dan aktivis sosial, dr. Saraswati telah menunjukkan bahwa dengan dedikasi, ketekunan, dan pendekatan yang tepat, seseorang dapat memberikan kontribusi yang
bermakna bagi masyarakat luas. Legasinya akan terus menginspirasi generasi peneliti Indonesia untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kekayaan alam dan budaya Indonesia untuk kepentingan umat manusia.
Dalam era di mana masyarakat semakin sadar akan pentingnya pendekatan holistik dalam kesehatan, karya dr. Saraswati menjadi semakin relevan. Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas bukan hanya sekadar tempat pengobatan, tetapi juga simbol kemampuan Indonesia untuk berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dunia melalui kearifan lokalnya. (Heri)
