Ekonom: Indonesia Bisa Survive dari Ancaman Resesi Global

 Ekonom: Indonesia Bisa Survive dari Ancaman Resesi Global

(Foto: Kemenkeu)

JAYAKARTA NEWS – Resesi menjadi ancaman besar terhadap perekonomian dunia. Melonjaknya harga energi akibat dampak dari perang Ukraina dan Rusia menjadi salah satu faktor yang bisa memicu terjadinya resesi global.

Menteri Keuangan tahun 2013-2014 Chatib Basri tersebut mengungkapkan, Indonesia bisa selamat dari ancaman resesi apabila bisa mempertahankan private consumption atau konsumsi swasta di angka 50 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Para pengambil kebijakan menghadapi posisi sulit dan dilematis pada tahun depan. Akan terjadi kontraksi di sektor investasi dan tidak ada ruang yang cukup untuk kebijakan fiskal karena defisit anggaran dipatok kurang dari 3 persen pada 2023. Karena itu, private consumption menjadi satu-satunya harapan agar ekonomi tetap tumbuh,” kata Chatib saat menjadi pembicara di event SOE International Conference 2022 di panel Macro Economic Outlook di Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa (18/10/2022).

Chatib menambahkan, pemerintah, perusahaan swasta dan juga masyarakat harus tetap melakukan spending atau mengeluarkan uang untuk menjaga private consumption. Pemerintah, kata Chatib, harus membuat kebijakan yang membuat masyarakat untuk bisa tetap mengeluarkan uang seperti Bantuan Langsung Tunai atau Program Keluarga Harapan.

“Kalau konsumsi swasta bisa dipertahankan 50 persen dari PDB maka ekonomi tetap akan tumbuh mungkin tidak sampai 5 persen tapi di angka 4,9 persen. Saya optimis, Indonesia tidak akan terkena dampak besar dari ancaman resesi global,” ujar Chatib.

Gubernur Bank Indonesia tahun 2013-2018 Agus Martowardojo menjelaskan, harus ada sinkronisasi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh pada tahun depan.

“Kita sudah pernah mengalami situasi seperti ini pada 2013. Ketika itu saya sebagai Gubernur Bank Indonesia berkoordinasi dengan Pak Chatib yang ketika itu menjadi Menteri Keuangan untuk melakukan sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal lebih difokuskan untuk mengejar stabilitas dan bukan untuk pertumbuhan,” ujar Agus.

Agus mengungkapkan, ekonomi Indonesia cukup mempunyai daya tahan dalam menghadapi ancaman resesi global. Dia memberi contoh neraca perdagangan yang selalu positif dalam tujuh kuartal terakhir, cadangan devisa yang besar, serta laju inflasi yang rendah. Ini memperlihatkan bahwa fundamental perekonomian Indonesia cukup kuat.

Karena itu, kata Agus, penting bagi pemerintah untuk bisa mempertahankan stabilitas ekonomi guna menjaga terjadinya pelarian modal ke luar negeri atau capital outflow.

Ekonom Bank Dunia Habib Rab menjelaskan, inflasi yang tinggi menjadi ancaman terbesar bagi perekonomian global pada tahun depan. Namun, Bank Dunia menilai tidak semua negara akan terkena dampak besar dari ancaman resesi global.

“Indonesia, Malaysia dan Vietnam kemungkinan tidak akan terkena dampak besar dari resesi global. Inflasi di negara tersebut kemungkinan naik di tahun ini hingga 8 persen, namun pada 2023 akan turun di angka 4-5 persen. Yang harus diantisipasi adalah penurunan 1 persen ekonomi negara-negara maju di G7 dan China akan berdampak pada turunnya perekonomian di negara-negara Asia Tenggara sekitar 0,5-1 persen,” kata Habib Rab.

Habib meminta Indonesia dan sejumlah negara berkembang untuk fokus pada tiga hal, yaitu memperketat kebijakan suku bunga, menjaga tekanan dari pasar eksternal serta menjaga jumlah utang agar tidak bertambah dalam jumlah banyak.***/uli

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.