Andaliman, Kesan tak Terlupakan dari Toba

 Andaliman, Kesan tak Terlupakan dari Toba

Kemasan produk-produk andaliman yang sudah diolah. (Foto: Monang Sitohang)

Jayakarta News – Maaf, kesampingkan dulu semua ragam menu Batak yang pernah Anda makan. Sebab, jenis kuliner yang satu ini, memang tak berbanding rasanya. Ia bahkan diprediksi bakal menjadi icon kuliner khas Tanah Batak.

Andaliman nama menu yang dimaksud. Apa pun jenis kuliner Batak yang Anda makan, menjadi istimewa jika dimasak menggunakan bumbu rempah yang satu ini. Andaliman bahkan dipercaya merupakan resep warisan leluhur Batak.

Dengan andaliman, aneka masakan khas tradisional Batak seperti arsik, naniura, mie gomak, manuk pinadar dan lainnya, menjanjikan sensasi rasa yang membuat Anda terkenang-kenang. Karenanya, catat mulai hari ini: Jangan sekali-kali mengunjungi tanah Batak tanpa menyantap resep andaliman.

Andaliman dalam bahasa Batak disebut intir-intir atau sering pula disebut “merica Batak”. Nama latin tanaman ini zanthoxylum acanthopodium. Sejenis tanaman bunga-bungaan yang banyak terdapat di daerah Toba Samosir dan Tapanuli Utara.

Bentuk rempah Andaliman ini biji-biji bergerombol. Dijual dalam bentuk ikatan bertangkai. Jika masih muda, warnanya hijau segar. Biji andaliman berubah menghitam ketika tua usia. Cita rasanya sangat khas, dan dijamin hanya ada di wilayah Toba Samosir dan Tapanuli Utara. Jika Anda gigit buah andaliman, akan terasa getir, bahkan bisa menyisakan rasa kelu di lidah.

Andaliman adalah bumbu rempah masakan tradisional khas tanah Batak yang telah dikenal oleh nenek moyang orang Batak sejak dahulu. (Foto. IST)
Marandus Sirait pengiat lingkungan dan UMKM dari Balige Tobasa sedang memperlihatkan produk andaliman yang sudah diolah dalam kemasan didampingi salah seorang guru di Balige yang juga peserta Biannual Forum Tourism. (Foto: Monang Sitohang)

“Ini adalah tanaman khas kawasan Danau Toba yang kita yakini bisa masuk ke seluruh nusantara bahkan internasional. Andaliman bahkan diyakini bisa menjadi buah tangan khas Danau Toba. Dari sisi kami para pelaku bisnis UMKM, andaliman bisa menjadi komoditi unggulan,” ujar Marandus Sirait beberapa hari lalu di acara Biannual Forum Tourism, Senin – Selasa (25-26/11) di Hotel Niagara, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Ya, topik andaliman menyeruak dalam forum yang antara lain membahas strategi pengembangan Danau Toba sebagai super prioritas destinasi wisata nasional. Saat berbicara mengenai inventarisasi produk-produk lokal, seketika menyeruak topik mengenai andaliman, dan bisa dibilang semua peserta menyetujui andaliman sebagai salah satu icon Toba.

Peluang andaliman bakal naik daun, makin terbuka lebar mengingat forum yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan Bank Dunia, dihadiri oleh tidak saja pelaku usaha pariwisata, tetapi juga unsur aparatur sipil negara (ASN), dan media. Bahkan, hadir narasumber utama Asisten Deputi Bidang Pengembangan SDM dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pariwisata, Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya SE MM.

Andy Marpaung, Kepala Seksi Bidang Investasi SDM Kementerian Pariwisata tengah memberi materi kepada para peserta Biannual Forum Tourism. (Foto: Monang Sitohang)

Dalam kesempatan itu, para peserta Biannual Forum Tourism juga mendapat materi dari Andy Marpaung, Kepala Seksi Bidang Investasi SDM Kementerian Pariwisata.  

Kembali ke soal andaliman, Marandus Sirait mengaku makin terbuka wawasannya demi mengikuti forum. “Saya dari asosiasi UMKM Balige (Tobasa) akan banyak melakukan gerakan dalam waktu dekat. Salah satunya, bekerjasama dengan Kemenpar dan dinas terkait, terkait bagaimana membangun pusat-pusat kuliner khususnya di Balige. Selain sebagai pusat kuliner, juga bisa menjadi tempat memperkenalkan sekaligus menjual produk-produk UMKM di Tobasa. Selain itu, kami akan membuat rumah-rumah produksi dan mengurus sertifikasi halal,” papar Sirait sambil menunjukkan beberapa produk andaliman. 

Dalam forum itu, tampak para peserta langsung bersinergi untuk memberi nilai tambah bagi Danau Toba yang terkenal dengan keindahan alamnya. Sinergitas itu meliputi para penggiat pariwisata, pelaku seni-budaya, penyedia akomodasi hotel dan homestay, dan para pihak terkait lain. Muaranya adalah menambah kesan tak terlupakan bagi siapa pun yang berkunjung ke Danau Toba.

Nah, andaliman adalah “kesan tak terlupakan” dari Toba. Terlebih, dengan peningkatan product knowledge pelaku usaha, kini andaliman sudah mendapat sentuhan value added. Tak hanya terkenal sebagai pelengkap bumbu cita rasa masakan khas Danau Toba, andaliman juga sudah dikemas menjadi aneka produk lain.

Andaliman dengan aneka khasiatnya, sudah dijadikan bahan ramuan pembuatan sabun kecantikan (sabun andaliman). Selain itu, ada juga keripik andaliman, sambal andaliman, minuman bandrek andaliman, bahkan bumbu arsik yang terkenal sangat khas Batak. Untuk menjadikan produk andaliman menjadi lebih handy, aspek kemasan pun sudah diperhatikan, sehingga kini andaliman bisa dibeli dalam kemasan sachet.

Andaliman kemasan sachet, praktis digunakan dan tahan sampai enam bulan. Selain bisa untuk campuran masakan sop, bisa juga untuk campuran kopi. Yang pasti, manfaat andaliman sangat banyak bagi kesehatan.

Pengembangan andaliman adalah “harga mati” bagi segenap stakeholder kepariwisataan di Danau Toba. Selain selaras dengan program pengutamaan produk lokal, andaliman diyakini merupakan satu komoditi khas yang memiliki peluang cepat naik daun. Setidaknya, hingga tahun 2020, andaliman akan terus digenjot promosinya sampai keluar wilayah Toba, keluar wilayah Sumatera, bahkan keluar wilayah Indonesia.

Program itu bukan tanpa alasan. Saat ini, budidaya andaliman pun digiatkan. Salah satunya tampak di Taman Eden 100. Melalui budidaya stek dan cangkok, diharap perkebunan andaliman lekas marak di seluruh wilayah sekitar Danau Toba. Hal itu akan menambah kebun-kebun andaliman existing, seperti yang dikelola Kelompok Tani Lumban Julu.

Di sisi lain, bagian kreasi resep pun tak tinggal diam. Selain memberi nilai tambah, diversifikasi produk andaliman terus di-create. Salah satunya, martabak andaliman. Dengan kerja fokus dan konsisten pada andaliman, maka bukan mustahil, kelak andaliman akan masuk dalam deretan peta bumbu dunia. (monang sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *