• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Teknologi Perang Modern: Bedah Operasi Caracas 300 Menit

Teknologi Perang Modern: Bedah Operasi Caracas 300 Menit

January 7, 2026
Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

October 23, 2026
Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

October 23, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

October 22, 2026
Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

October 22, 2026
Empat Tahun Berperang Rusia Kehilangan 350.000 Tentaranya, Putin: ‘Kemenangan akan Selalu Milik Kita!

Jalan Perdamaian Terbuka? Presiden Putin Setuju Perundingan Damai dengan AS dan Ukraina

October 22, 2026
Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

October 22, 2026
Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

October 22, 2026
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

October 21, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Friday, October 23, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Teknologi Perang Modern: Bedah Operasi Caracas 300 Menit

by admin
January 7, 2026
in Kabar
0
Teknologi Perang Modern: Bedah Operasi Caracas 300 Menit
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Analisis Khusus: Ketika Supremasi Teknologi Mengubah Kepala Negara Menjadi Target Operasi

Oleh : Heri Mulyono

Malam itu berbeda. Bukan karena bulannya lebih gelap atau anginnya lebih kencang. Tapi karena di atas Caracas, Venezuela, sedang berlangsung simfoni teknologi perang paling kompleks yang pernah dieksekusi dalam sejarah modern. Dalam rentang waktu yang sangat singkat—hanya 300 menit atau sekitar lima jam—sebuah operasi militer dengan tingkat kerumitan luar biasa berhasil mengekstraksi seorang kepala negara dari istananya sendiri.

Bukan dengan tank yang menggelegar. Bukan dengan ribuan tentara menyerbu jalanan. Tapi dengan 150 pesawat dari 20 pangkalan berbeda yang bergerak seperti ikan dalam kawanan, terkoordinasi sempurna tanpa saling bersentuhan, tanpa terlihat oleh mata elektronik pertahanan udara Venezuela. Ini adalah demonstrasi kekuatan di mana teknologi telah mengevolusi perang menjadi sesuatu yang hampir tidak bisa dipahami oleh logika konvensional.

Mari kita kupas lapisan demi lapisan dari operasi yang—entah fakta atau skenario—telah mengubah pemahaman kita tentang batas-batas kedaulatan nasional di era digital.

ARSITEKTUR LANGIT: KETIKA 150 PESAWAT MENJADI SATU ORGANISME

Bayangkan kompleksitas ini: pesawat tempur meluncur dari geladak kapal induk yang bergoyang di Laut Karibia. Pesawat angkut berat lepas landas dari Florida. Helikopter siluman terbang dari Puerto Rico. Pesawat pengintai elektronik naik dari pangkalan rahasia. Semuanya menuju satu titik temu, tiba dalam jendela waktu yang sama, tanpa satu pun collision alert berbunyi.

Ini bukan keajaiban. Ini adalah hasil dari sistem yang bernama Link 16—jaringan data taktis yang mengikat semua platform udara dalam satu kesadaran kolektif. Seperti saraf dalam tubuh manusia yang menghubungkan otak ke setiap ujung jari, Link 16 membuat setiap pilot melihat battlefield yang sama persis di layar cockpit mereka. Posisi kawan, musuh, target—semua ter-update setiap detiknya dengan presisi yang membuat margin error hampir tidak ada.

Di puncak hierarki ini, E-3 Sentry—pesawat AWACS dengan radar rotodome raksasa—bertindak sebagai konduktor orkestra. Sistem komputernya memproses data dari 600 objek terbang simultan, mengatur jalur masing-masing agar tidak bersinggungan. Ini seperti mengatur lalu lintas Jakarta, tapi di tiga dimensi, dengan kecepatan supersonik, dalam kegelapan total.

MATA YANG TIDAK PERNAH BERKEDIP

Sebelum satu pun pesawat menyentuh wilayah udara Venezuela, Amerika sudah “melihat” segalanya. Tidak dengan mata telanjang, tapi dengan konstelasi satelit mata-mata yang mengorbit 500 kilometer di atas permukaan bumi. Satelit KH-11 dengan resolusi optik yang bisa membedakan objek seukuran bola basket memberikan peta real-time dari setiap sudut Caracas—dari posisi kendaraan militer hingga pola pergerakan personel keamanan.

Tapi mata optik punya kelemahan: awan, kabut, malam. Di sinilah teknologi radar aperture sintetis (SAR) mengambil peran. Gelombang radar menembus awan seperti pisau memotong mentega, menghasilkan citra resolusi tinggi bahkan di tengah badai. Tidak ada tempat bersembunyi.

Lebih menakutkan lagi adalah pesawat pengintai sinyal seperti RC-135 Rivet Joint yang berkeliling di luar batas wilayah udara Venezuela, menangkap setiap emisi elektromagnetik: percakapan telepon militer, transmisi radar, bahkan sinyal WiFi dari laptop pejabat. Bayangkan sebuah penyedot raksasa yang mengisap semua sinyal radio dalam radius 300 kilometer, lalu memilahnya dengan algoritma AI untuk menemukan informasi berharga.

Venezuela tidak hanya dilucuti senjatanya. Venezuela dilucuti rahasianya.

OPERASI BUTA: MELUMPUHKAN TANPA MENGHANCURKAN

Inilah bagian paling elegan sekaligus paling mengerikan: Amerika tidak menghancurkan sistem pertahanan udara Venezuela. Mereka hanya membuatnya tidak berguna.

F-35 Lightning II—pesawat siluman senilai $80 juta per unit—terbang sebagai “umpan pintar”. Tugasnya bukan menyerang, tapi memancing. Begitu radar S-300 Venezuela menyala untuk mendeteksi ancaman, sensor F-35 langsung merekam karakteristik elektromagnetiknya: frekuensi, pola pemindaian, kekuatan sinyal. Data ini dikirim secara instan ke EA-18G Growler yang sudah standby dengan senjata elektronik.

Growler melepaskan gelombang jamming yang sangat kuat dan sangat terarah. Bayangkan Anda sedang mencoba mendengar bisikan seseorang, tiba-tiba ada pesawat jet melintas tepat di atas kepala Anda. Itulah yang terjadi pada radar Venezuela. Layar yang tadinya jernih menampilkan peta udara, tiba-tiba penuh dengan “salju” digital. Operator tidak bisa membedakan mana pesawat musuh dan mana noise buatan.

Yang brilian adalah: radar Venezuela secara teknis masih berfungsi. Tidak ada ledakan, tidak ada kerusakan fisik. Tapi secara praktis, mereka buta total. Seperti mata yang terbuka tapi tidak bisa melihat karena cahaya terlalu terang.

INFILTRASI: SENI TERBANG DI AMBANG KEMATIAN

Ketika jendela kebutaan elektromagnetik terbuka, Night Stalkers masuk. Resimen Operasi Khusus Penerbangan ke-160 ini bukan pilot helikopter biasa. Mereka adalah seniman yang mediumnya adalah gravitasi dan kecepatan, yang kanvasnya adalah malam.

MH-47 Chinook mereka terbang dengan gaya yang akan membuat instruktur penerbangan sipil pingsan: hanya 30 meter di atas permukaan air laut. Pada ketinggian ini, bilah rotor hampir menyentuh puncak ombak. Satu kesalahan—satu hembusan angin kencang—dan helikopter seharga $40 juta itu akan menjadi puing di dasar laut.

Tapi ada metode dalam kegilaan ini. Pada ketinggian ekstrem rendah, pantulan radar dari helikopter bercampur dengan pantulan dari ombak laut—fenomena yang disebut sea clutter. Komputer radar tidak bisa membedakan mana gelombang air dan mana gelombang logam yang terbang. Helikopter menjadi hantu yang menyelinap di antara realitas dan noise.

Pilot melihat dunia melalui night vision goggles generasi keempat yang mengubah kegelapan total menjadi pemandangan hijau fosfor yang tajam. Sistem terrain-following radar membisikkan ke telinga mereka: “Naikkan hidung 3 derajat, ada bukit di depan.” Mereka terbang dengan kombinasi instink, teknologi, dan jam terbang yang mencapai ribuan—kebanyakan dalam kondisi yang akan membuat orang normal menolak naik pesawat.

UJUNG TOMBAK: MANUSIA SUPER DENGAN GADGET SUPERHERO

Pintu Chinook terbuka. Yang keluar bukan tentara biasa. Ini adalah Delta Force—operator yang telah melewati seleksi dengan tingkat kegagalan 90 persen, yang telah dilatih untuk menjadi mesin pembunuh paling efisien dan presisi yang pernah diciptakan sistem militer manapun.

Setiap operator adalah node dalam jaringan taktis digital. Helmet mereka dilengkapi komunikasi yang tidak hanya mengirim suara tapi juga data: “Target di gedung sektor Bravo, lantai tiga, ruangan kedua dari kiri.” Peta digital di visor helmet langsung menampilkan rute tercepat, lokasi friendly forces, dan posisi ancaman potensial.

Senjata mereka—HK416 yang telah dimodifikasi khusus—bukan sekadar alat tembak. Ini adalah platform sensor. Optic sight holografis untuk akuisisi target dalam sepersekian detik. Suppressor yang mengurangi suara tembakan menjadi seperti letupan kecil. Laser inframerah yang tidak terlihat mata telanjang tapi terang benderang lewat night vision goggles—memungkinkan tim menandai target tanpa berbicara sepatah kata pun.

Night vision goggles mereka menggunakan teknologi white phosphor terbaru dan image fusion yang menggabungkan intensifikasi cahaya dengan thermal imaging. Mereka tidak hanya melihat dalam gelap—mereka melihat perbedaan suhu. Seseorang bersembunyi di balik dinding? Signature panasnya tetap terlihat. Pintu perangkap di lantai? Udara dingin dari bawah membuat outline-nya jelas.

Dalam toolkit mereka: perangkat hacking portabel untuk membuka kunci digital, kamera fiber-optic sekecil pensil untuk mengintip di bawah celah pintu, drone mini yang bisa terbang diam-diam di koridor gedung, explosive breaching charges yang bisa meledakkan pintu baja tanpa mencederai orang di ruangan sebelah.

Mereka bergerak seperti air—mengalir melewati resistensi, mengisi setiap celah, tidak meninggalkan jejak. Lima jam. Target diamankan. Eksfiltrasi selesai. Seperti hantu yang datang dan pergi, hanya meninggalkan pertanyaan.

SENJATA TERSEMBUNYI: ALGORITMA YANG MEMBUNUH EKONOMI

Tapi inilah bagian yang paling menakutkan: operasi fisik itu hanya icing on the cake. Kue aslinya adalah perang ekonomi digital yang telah berlangsung berbulan-bulan sebelumnya.

Amerika Serikat telah men-deploy AI ekonomi—algoritma machine learning yang dilatih untuk mengenali pola transaksi finansial Venezuela. Ini bukan lagi sanksi manual di mana manusia memeriksa dokumen satu per satu. Ini adalah sistem otomatis yang memindai jutaan transaksi global per detik, mencari signature Venezuela.

Kapal tanker Venezuela mau mengisi bahan bakar? Transaksinya mungkin menggunakan tiga perusahaan cangkang di Panama, routing lewat bank Hong Kong, pembayaran final di Dubai. Dulu butuh tim analis berminggu-minggu untuk melacak jejak ini. Sekarang AI melakukannya dalam milidetik.

Begitu pola terdeteksi, sistem otomatis mengirim notifikasi ke bank-bank yang tunduk pada regulasi AS—yang artinya hampir semua bank besar dunia. Transaksi di-freeze. Asuransi maritim dibatalkan. Pelabuhan menolak akses.

Kapal tanker Venezuela menjadi ghost ship—mesin menyala, tapi tidak kemana-mana. Tidak ada yang mau melayani. Tidak ada yang mau menerima. Mereka mengapung seperti mayat logam di tengah samudera.

Tanpa logistik, tidak ada bahan bakar. Tanpa bahan bakar, tank tidak bergerak, jet tidak terbang, generator tidak hidup. Tanpa uang mengalir, jenderal kehilangan loyalitas. Maduro tidak dikalahkan oleh peluru—dia dicekik oleh kode program yang tidak pernah tidur, yang bekerja 24/7 di server farm ribuan kilometer jauhnya.

LAWFARE: MENCULIK DENGAN STEMPEL HUKUM

Sekarang perhatikan detail ini: di antara operator Delta Force, ada agen FBI Hostage Rescue Team. Polisi federal, bukan tentara. Mengapa?

Ini adalah genius licik dari strategi Amerika. Mereka tidak ingin dunia menyebut ini “invasi militer”—yang jelas melanggar Piagam PBB dan akan memicu kecaman internasional. Mereka membingkainya sebagai “operasi penegakan hukum”—menangkap buronan narkoba yang kebetulan adalah kepala negara.

Dengan doktrin yurisdiksi ekstrateritorial, Amerika mengklaim hukum mereka berlaku di seluruh planet. Jika ada surat dakwaan dari pengadilan AS—entah untuk narkoba, terorisme, atau pencucian uang—maka mereka merasa berhak menangkap tersangka di manapun dia berada. Moskow, Beijing, Jakarta—tidak masalah. Kedaulatan nasional menjadi konsep yang bisa diabaikan dengan dokumen legal.

Ini adalah lawfare—menggunakan instrumen hukum sebagai senjata geopolitik. Lebih halus dari bom, tapi sama mematikannya bagi kedaulatan. Dan yang paling berbahaya: ini menciptakan preseden. Jika berhasil di Venezuela, mengapa tidak di tempat lain?

KORBAN TANPA LUKA: RUSIA DAN CHINA KEHILANGAN PIJAKAN

Ada dua negara adidaya yang kehilangan sesuatu malam itu tanpa menembakkan satu peluru pun untuk mempertahankannya: Rusia dan China.

Venezuela adalah satu-satunya “kapal induk daratan” Rusia di belahan bumi Barat. Di sana ada fasilitas untuk bomber strategis Tu-160 Blackjack—pesawat yang bisa membawa hulu ledak nuklir ke jantung Amerika. Di sana ada investasi Rosneft yang mencapai miliaran dolar di ladang minyak. Dalam lima jam, semua aset strategis itu hilang. Putin kehilangan leverage-nya di Amerika Latin tanpa sempat mengirim satu eskadron pun untuk membela.

China menghadapi kerugian berbeda tapi sama sakitnya: utang Venezuela ke Beijing puluhan miliar dolar kemungkinan besar tidak akan pernah dibayar. Lebih dari itu, Venezuela adalah bagian dari Belt and Road Initiative—strategi global China untuk mengurangi hegemoni dolar dan memperluas pengaruh. Kehilangan Venezuela berarti kehilangan anchor point di Amerika Selatan.

Kedua negara ini dikalahkan tanpa perang. Dikalahkan oleh kecepatan—300 menit terlalu singkat untuk memformulasikan respons diplomatik, apalagi respons militer.

EPILOG: PELAJARAN UNTUK DUNIA

Operasi 300 menit—entah ini fakta literal atau komposit dari berbagai skenario militer—mengajarkan beberapa kebenaran keras tentang dunia kita:

Pertama, teknologi telah mengubah definisi perang. Tidak ada lagi deklarasi formal, tidak ada lagi front line yang jelas. Yang ada adalah gradient kontinyu dari kompetisi damai hingga konflik terbuka, dengan zona abu-abu di tengahnya yang sangat luas.

Kedua, kedaulatan bukan lagi dilindungi oleh hukum internasional atau perjanjian. Kedaulatan dilindungi oleh capability—kemampuan teknologi dan militer untuk mempertahankan diri, atau aliansi dengan yang memilikinya.

Ketiga, perang modern adalah omnidimensional: satelit di luar angkasa, pesawat di udara, pasukan khusus di darat, kode program di cyberspace, algoritma di sistem finansial—semuanya bergerak simultan, terkoordinasi seperti simfoni.

Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, narasi ini adalah peringatan. Di dunia di mana 150 pesawat bisa terkoordinasi sempurna dalam operasi 300 menit, di mana AI bisa mencekik ekonomi tanpa menembakkan peluru, di mana hukum bisa dibengkokkan untuk melegalkan penculikan lintas negara—kedaulatan adalah ilusi yang dipertahankan hanya oleh mereka yang cukup kuat untuk memaksakan realitasnya.

Lima jam. 300 menit. Waktu yang dibutuhkan untuk menonton dua film atau menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya. Atau waktu yang cukup untuk mengubah tatanan geopolitik satu kawasan. Dalam lima jam itu, konsep yang telah bertahan sejak Perjanjian Westphalia 1648 runtuh—tidak dengan dentuman meriam, tapi dengan presisi bedah yang membuat dunia bahkan tidak sempat memproses apa yang baru saja terjadi.

Selamat datang di abad ke-21. Di mana perang tidak lagi diumumkan. Di mana korban jatuh tanpa mendengar tembakan. Di mana kedaulatan adalah privilege, bukan hak. (*)

Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

October 23, 2026
Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

October 23, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version