Takdir Mengikat Doni Monardo dengan Alam

 Takdir Mengikat Doni Monardo dengan Alam
Doni Monardo saat menjabat Danjen Kopassus. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Letnan Jenderal TNI Doni Monardo adalah salah satu perwira tinggi TNI-AD yang moncer. Sungguh tak terbantahkan. Di saat karier militernya belum lagi di titik akhir, ia mendapat kepercayaan tugas menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebuah badan penting yang setara kementerian.

Sayang, manakala masyarakat hendak menelisik rekam-jejak seorang Doni Monardo, sungguh tidak mudah. Kecuali data kering Wikipedia, yang ada hanya pemberitaan seputar pelantikan Doni Monardo sebagai Kepala BNPB.

Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (foto: ist)

Alhasil, tulisan berupa kesaksian sahabat menjadi tambahan catatan tentang sosok jenderal kelahiran Cimahi, 55 tahun yang lalu itu. Ini adalah salah satunya. Kesaksian dari Egy Massadiah, seorang jurnalis, tokoh muda, pegiat teater, kader Golkar, dan berbagai aktivitas lain. Kebetulan, pria kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan ini, memiliki riwayat panjang menjalin persahabatan dengan Doni.

Egy berjumpa Doni tahun 1997 saat Doni masih berpangkat Mayor, dan menjabat Komandan Batalyon Grup I/Kopassus, Serang – Banten. Bagi Egy, Doni yang lulusan Akabri 1985 tersebut adalah perajurit komando berbaret merah dengan pengalaman yang komplet.

“Yang menarik, dari kacamata saya sebagai jurnalis, sosok Doni Monardo itu sangat colorful. Sangat banyak angle yang bisa ditulis dari ayah tiga orang anak itu,” ujar Egy Massadiah.

Di mana pun Doni ditugaskan, selalu ada hal lain yang ditonjolkan. Terutama saat memegang jabatan territorial. Seperti saat menjabat Pangdam XVI/Pattimura, ia melahirkan istilah “emas hijau” dan “emas biru”. Sebagai penguasa militer wilayah Maluku dan Maluku Utara, dia benar-benar mendalami potensi kekayaan alam Maluku.

Emas hijau itu bukanlah logam mulia berwarna hijau, melainkan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang bernilai ekonomi tinggi. Sedangkan emas biru bukan pula permata, melainkan hasil budidaya perikanan. Kedua hal itu benar-benar dijadikan program Kodam Pattimura, dalam peran sertanya melakukan bina territorial.

Di Ambon pula, Doni melestarikan tumbuhan langka seperti ada masoya, lingua, palaka, pahara, gaharu, dan ebony. Selain itu, Doni juga mengembangkan dan membudidayakan tanaman buah khas, seperti buah sukun, durian, pala, cengkih, kenari, dan lain-lain.

Dari Ambon, Doni ditugaskan sebagai Pangdam III/Siliwaangi yang berkedudukan di Bandung. Bisa dibilang, Doni pulang kampung. Salah satu perhatiannya adalah Sungai Ciliwung. Ia begitu geram melihat Ciliwung kotor dan cemar. Sekaligus, ia begitu getol untuk turun tangan mengatasi problematika Ciliwung.

“Jika dirunut, tampak satu benang merah yang saya sebut konsistensi. Beliau pada saat menjabat Danjen Kopassus pun pernah turun ke Sungai Ciliwung. Bahkan, ketika sudah menjabat Wantanas pun, pak Doni masih urun rembug mengenai persoalan Ciliwung,” ujar Egy seraya menambahkan, “beliau salah satu jenderal yang paling peduli terhadap lingkungan hidup.”

Karenanya, menurut Egy, bukan suatu kebetulan jika garis takdirnya mendudukkan Doni Monardo menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana. “Ingat, beliau pernah betugas sebagai Danyon di Singaraja Bali. Beliau paham benar konsep tentang keseimbangan alam. Di Bali dikenal dengan tri hita karana. Keselarasan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Bukankah bencana selalu terkait dengan ketiga hal itu?,” papar Egy.

Egy pun berkeyakinan, Doni Monardo adalah sosok yang tepat mengepalai BNPB. “Saya ucapkan selamat. Salam komando!” tegas Egy. (rr)

Egy Massadiah dan “Mayor” Doni Monardo. (foto: dok pri)

 

Egy Massadiah (dua dari kiri), dan Mayor Doni Monardo (paling kanan). (foto: dok pri)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *