Mimpi Ghaib Siang Bolong

 Mimpi Ghaib Siang Bolong
Buyar Winarso yang tidak pernah canggung berdialog dengan siapa pun. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Ufuk timur merah jingga warnanya…, mengiringi sang surya bangun dari peraduan malam. Segera saja, sinarnya menimpa embun tipis di rumput dan dedaunan, memantulkan binar-binar cahaya indah di pagi hari.

Syahdan, belum kering embun di daun, manakala pecah tangis jabang bayi dari rahim ibu bernama Sunarti. Tangis itu begitu melengking, hingga mampu membungkam kokok ayam jantan dan hiruk-pikuk kesibukan dapur.

Orang Jawa memiliki keyakinan, jabang bayi yang lahir di saat fajar menyingsing, maka sejatinya takdirnya telah ditentukan. Ini adalah sebuah keyakinan sekaligus catatan penting yang bakal mengiringi langkah kehidupan si jabang bayi kelak.

Masih dengan peluh di dahi, sang dukun beranak mewartakan kabar gembira kepada ayah si jabang bayi yang berbahagia. “Anakmu lanang…,” ujarnya, disusul desis, “Alhamdulillah,” dari sang ayah. Lega dan bangga mendapatkan anak laki-laki. Anak lanang.

Itulah sekelumit kisah kelahiran jabang bayi yang kemudian diberi nama Winarso. Lahir di Desa Wonokromo, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, pada tanggal 23 September 1963. Sebuah desa yang kala itu benar-benar terpencil di pegunungan utara Kabupaten Kebumen.

Sebagai anak pertama –lelaki pula—semua perhatian dan kasih sayang keluaga pun tercurah kepadanya. Tidak hanya ibu dan bapak, bahkan kaki dan nini-nya pun berebut kesempatan mencurahkan kasih sayang bagi cucu Winarso. Ini jamak saja terjadi.

Saking ingin membesarkan cucu, masa kecil Winarso justru banyak dihabiskan bersama kakek dan nenek dari pihak ibu. Kebetulan pula, kediaman kakek-neneknya, hanya sekitar 1,5 km saja dari rumah kedua orangtuanya. Sebuah jarak yang relatif dekat, sekalipun saat itu harus ditempuh melalui jalan setapak khas dataran pegunungan.

Saat ia diasuh kakek-neneknya, takdir menentukan kedua orang tuanya berpisah. Sebagai tetenger atau pengingat, kakeknya menambahkan kata “Buyar” di depan nama Winarso. Menandai “buyar”-nya ikatan pernikahan orang tuanya. Nama itu melekat hingga kini: Buyar Winarso.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan… bahkan tahun pun terus berbilang: Satu, dua, tiga, empat, lima… dan Buyar Winarso pun melepas masa Balita.

Tahun 1970, Winarso disekolahkan di SD Negeri 1 Wonokromo. Seperti anak kebanyakan, ia pun antusias bersekolah. Berangkat ke sekolah pagi-pagi bersama teman sekampung. Di sekolah dasar itu pula, ia banyak berkawan dengan teman sebaya yang baru saja dijumpainya.

Bersamaan perjalanan sang waktu, ibunya menikah lagi dan lahir pula adik-adik Buyar Winarso (bukan satu ayah). Jadilah ia sulung dari tujuh bersaudara. Sampai pada titik itu, mestinya mengguratkan catatan standar, bahwa seorang anak –sesuai kodratnya—adalah bergelimang waktu untuk bermain-main.

Tak terkecuali Buyar Winarso. Hanya saja, dunia bermain Winarso sedikit berbeda dengan bayangan orang kebanyakan. Ia bermain, sekaligus bekerja. Atau sebaliknya, ia bekerja diseling aktivitas bermain-main. Selepas sekolah, Winarso ngarit, pekerjaan mencari rumput untuk pakan ternak di rumah kakek-neneknya. Saat musim panen, ia turun ke sawah. Karenanya, bekerja keras sudah menjadi napas hidupnya sejak kecil.

Selain ngarit atau mencari rumput, Buyar Winarso juga mencari ranting dan dahan kering sebagai bahan kayu bakar untuk memasak di dapur. Kegiatan itu, di desanya disebut repek. Ia berkeliling dari satu pekarangan ke pekarangan lain. Mencari dan memungut ranting dan dahan kering untuk kemudian diikat dan dibawa pulang.

Buyar Winarso gemar ke pelosok, melihat dari dekat kondisi masyarakat. (foto: ist)

Tidak berhenti di situ. Kegiatan dia yang lain adalah menggembala ternak, atau angon dalam bahasa Jawa. Jamak dalam tradisi masyarakat Jawa, di belakang rumah terdapat kandang ternak. Isinya, ada yang kerbau, sapi, atau kambing.

Kegiatan menggembala ternak, tidak dilakukan setiap hari. Sebab, untuk pakan sehari-hari, para ternak itu memakan rumput hasil ngarit Winarso. Sesekali ia menggelandang ternak itu keluar kandang, biasanya, selain membiarkan ternak makan rumput di padang bebas, juga menggiring ke sungai untuk dimandikan.

Masih ada lagi hal jamak, tetapi menarik untuk dikisahkan semasa bocah, yakni ihwal kenakalannya. Contoh, memetik buah tanpa izin si empunya. Atau, mencabut pohon singkong, kemudian membakarnya, sebagai makanan pengganjal perut yang lapar, sehabis bermain bersama teman-teman.

“Ada kalanya tidak ketahuan… tapi yaaa… pernah juga ketahuan. Baru diteriakin yang punya saja, kami sudah lari tunggang-langgang… takut dikejar dan kena hukuman,” ujar Winarso sambil terkekeh.

Sang kala terus bergulir, dan Buyar Winarso pun tamat SD Negeri 1 Wonokromo tahun 1976. Dengan bekal ijazah SD, terbuka jalan menapak jenjang pendidikan SMP. Ia pun menyusul ayahnya, yang saat itu sudah kembali ke Sidareja, Kabupaten Cilacap. Oleh bapaknya, ia disekolahkan ke SMP Negeri 2, Sidareja.

Sayangnya, niat, tekad, dan kemauan mengenyam pendidikan lebih tinggi, ada kalanya tidak cukup. Harus ada faktor “fulus”. Ya, harus ada uang untuk membayar SPP, membeli buku, beli seragam sekolah, sepatu, dan –setidaknya—bekal jajan sehari-hari. Winarso mengalami tanda-tanda kurang baik.

Sebulan-dua-bulan, tidak begitu ia rasakan. Tetapi menginjak bulan-bulan berikutnya, ia merasa ada yang tidak beres. Ia tidak betah. Sebagai bocah, perasaan tidak betah tentu saja membuat gundah. “Akhirnya, saya balik ke Wonokromo, dan menghabiskan banyak waktu untuk mencari rumput dan kayu bakar. Ya, ngarit dan repek,” ujarnya lirih.

Tahun-tahun sulit, sesungguhnya tidak hanya dirasakan keluarga sang ayah, tetapi juga oleh kebanyakan masyarakat desa lain di Indonesia yang hidup pas-pasan. Karenanya, kondisi hidup susah pun dialami keluarga kakek-nenek serta kerabat keluarga besar lain di Wonokromo.

Sebagai cucu pertama, oleh kakek dan neneknya, kepulangan Winarso tentu saja disambut baik. Meski, untuk sementara, belum ada bayangan, kapan ia bisa melanjutkan sekolah. Buyar Winarso berkisah, ketika kakeknya, Dul Azis masih sehat, kehidupan secara ekonomi relatif cukup. Kakeknya adalah pedagang hasil bumi yang ulet. Ia berjualan pisang, singkong, kelapa, dan lain-lain. Bahkan suatu waktu, kakeknya menjadi penampung hasil bumi warga Wonokromo, kemudian menjualnya ke pasar kota Kebumen yang jaraknya sekitar 14 km dari rumah.

“Kakek meninggal dunia saat saya kelas IV SD. Sejak itu, terus terang, keadaan ekonomi keluarga terus merosot. Nenek hanyalah nenek rumahan yang tidak pandai berdagang. Praktis usaha mengepul hasil bumi tidak berjalan lagi. Sementara, paman-paman saya masih sekolah di kota,” kata Winarso pula.

Itu menggambarkan, bahwa ketika ia putus sekolah SMP di Sidareja dan kembali ke Wonokromo, yang ia jumpai bukanlah keadaan ekonomi keluarga yang lebih baik. Meski begitu, setidaknya, ia merasa lebih nyaman tinggal bersama nenek, dan dekat dengan ibunya.

Lepas dari segalanya, saat itu Winarso merasa beruntung, bisa menamatkan SD. Bahwa ia hanya sempat mengenyam bangku SMP selama setengah tahun, lalu putus di tengah jalan, itu semata-mata karena himpitan ekonomi orang tuanya. Kini, ia mengenang kejadian itu sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran berharga.

Winarso mengakui, saat harus keluar dari sekolah, ia bagaikan layang-layang putus…. Rasa gundah dan sedih, begitu sulit ia tepis dari lubuk hati. Hari-hari pertama tidak berangkat sekolah, hatinya bak disayat sembilu. Terlebih ketika di pagi hari ia melihat teman-temannya berangkat ke sekolah, sementara ia hanya bisa diam dan memandang tak berdaya.

Nalar Winarso ketika itu turut memberi tekanan batin yang luar biasa. Nalar yang dimaksud adalah kesadaran tentang apa konsekuensi bagi seseorang yang tidak bersekolah.

“Nalar saya sudah menggugat, bagaimana nasibku kelak, jika aku tidak bersekolah? Apa yang bisa diharap dari selembar ijazah SD? Akankah aku akan jadi tukang ngarit, tukang angon, dan tukang repek hingga tua?” begitu jerit hati Buyar Winarso kecil.

Nah, masih ingat awal tulisan ini? Tentang seorang anak yang lahir di kala fajar merekah? Winarso, ketika itu, sama sekali tidak menyadari keistimewaan takdir Tuhan ihwal kelahirannya. Saat dirinya seperti terpuruk di dasar keputus-asaan, ketika itu pula, hal-hal gaib muncul.

Hari itu, Jumat legi. Sebuah hari baik menurut primbon Jawa. Ketika ia sedang mencari rumput, karena lelah, ia pun duduk bersandar di bawah pohon rindang. Winarso mengakui, tidak biasanya ia begitu mengantuk di saat mencari rumput. Tidak lama setelah menyandarkan tubuh kecilnya, ia pun tertidur. Terlelap dalam sesaat. Orang Jawa menyebutnya ngliyep…. Dalam tidur sesaat itulah ia bermimpi.

Keterkaitan gaib, terletak pada dunia mimpi yang datang sesaat. Ia tidak mimpi sembarang mimpi. Winarso mimpi didatangi almarhum kakeknya, Dul Azis. Dalam mimpinya, sang kakek memerintahkan Winarso untuk terus mencari rumput. Terus ngarit. “Teruskan… terus saja ngarit,” begitu kira-kira yang diucapkan kakek dalam mimpi.

Winarso terbangun ketika mimpi usai. Tepatnya, ketika sang kakek usai memberi “perintah terus ngarit”, lalu menghilang dari alam bawah sadarnya. Winarso pun terbangun, dan merasa begitu kaget atas mimpi yang baru saja ia alami.

Masih duduk terpekur di bawah pohon rindang, Winarso tidak segera beranjak dari duduknya. Ia berpikir dan memikirkan, apa makna mimpi yang baru saja menghiasi tidur singkatnya. Lama sekali ia merenung, sampai akhirnya ia menyimpulkan, bahwa apa yang dikatakan sang kakek, sejatinya bukanlah perintah yang sebenarnya, melainkan sebuah pasemon, dalam terminologi Jawa. Semacam sindiran, dan harus ditafsir kebalikannya. “Artinya, kakek saya tidak ingin saya terus tenggelam di desa dan hanya mencari rumput tanpa memikirkan masa depan,” ujarnya.

Perintah sebenarnya dari sang kakek adalah, ia harus tinggalkan arit dan keranjang rumput. Ia harus menatap masa depan. Winarso tidak boleh menjadi tukang ngarit.

“Ke Bandung. Ya, saya harus ke Bandung,” pikirnya spontan, ketika itu. (Roso Daras – Bersambung)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *