Semua Berakhir dengan Diblokir

 Semua Berakhir dengan Diblokir

Menelisik Pemilik Email Lima Tahun Lalu (1)

SUDAH dua pekan terakhir ini saya merasa stres. Susah tidur. Malas makan. Gara-gara sebuah video produksi perusahaan saya pada tahun 2014 yang diunggah di kanal Youtube diprotes orang.

Saya paham, ada yang salah pada video itu. Saya paham harus segera menghapusnya. Tapi bagaimana caranya? Saya tidak bisa melakukannya. Tahu emailnya, tapi tidak tahu pemiliknya.

Mengapa? Karena saya tidak memegang akun kanal itu. Lebih tepatnya: saya bukan pemilik email yang digunakan untuk membuka kanal itu. Padahal semua kanal berawal dari email.

Usia email itu sudah cukup lama. Dibuat tanggal 7 Maret 2013. Begitu pun kanal Youtube-nya. Pada tanggal 7 Juni tahun yang sama. Meski kanal sudah siap, video-video baru diupload pada tanggal 17 Agustus 2013. Tiga bulan kemudian.

Awal protes itu muncul pada sekitar dua bulan lalu. Ditulis pemirsa di kolom komentar. Hal itu saya ketahui setelah menerima pemberitahuan dari klien. ‘’Video produksi Anda ada yang protes,’’ kata klien dua pekan lalu.

Video yang mana? Ternyata video yang muncul di sebuah kanal Youtube dengan nama mirip nama perusahaan saya. Dengan gambar logo perusahaan saya. Tapi bukan kanal perusahaan saya.

Saya lihat video tersebut sudah diakses sebanyak 19 ribu kali. Berarti memang video itu cukup popular. Entah karena judulnya yang menarik. Atau karena kesalahan dalam video itu yang membuatnya terkenal.

Sebenarnya kesalahan itu terjadi tidak sengaja. Ada dua pesantren yang direncanakan untuk ditampilkan. Masing-masing 1 episode. Durasi 6 menit.

Pesantren A, sebut saja begitu, terpaksa ditunda produksinya. Sebab, izin dari pengurusnya belum turun. Sedangkan pesantren B tidak ada masalah. Perizinan beres. Produksi jalan terus.

Entah bagaimana ceritanya, dua minggu lalu baru ketahuan kalau terjadi kesalahan. Rekaman naskah pengantar pesantren A rupanya terpasang pada video pesantren B.

Bagi orang awam, memang sulit membedakan. Kebetulan kedua pesantren itu memiliki persamaan: sama-sama menggratiskan semua biaya Pendidikan, makan, pondokan hingga kesehatan. Namanya juga hampir mirip. Terutama kalau dilafalkan.

Setelah menerima informasi komplain, saya coba melakukan penelusuran: siapa pemilik kanal. Di kolom ‘’tentang’’ yang tersedia, hanya ada sedikit petunjuk. Misalnya, kapan tanggal pembuatannya. Petunjuk satu-satunya hanya sebuah link ke G+.

Saya coba telusuri email G+ itu. Ternyata buntu. Tidak ada keterangan siapa pemiliknya. Isi video pada G+ sama persis dengan sebagian video kanal Youtube. Di G+ ada 30 video. Di Youtube 160 video.

Melihat konten yang ada, saya menduga pemilik email itu kenal dengan perusahaan saya. Entah sebagai klien. Entah mitra usaha. Entah kawan biasa.

Dugaan itu ada alasannya. Selain semua kontennya hasil produksi perusahaan saya, dalam rekaman email lama, kanal itu memang sempat digunakan untuk preview video jarak jauh.

Daripada habis waktu di jalan karena macet, mengapa tidak menonton dari kanal Youtube saja? Kurang lebih begitu latar belakangnya. Dari situlah, ditemukan username dan password-nya.

Maka ‘’suspect’’ sementara adalah ‘’terkait dengan tim produksi’’. Tidak mungkin ‘’tersangka’’ dari bagian yang terlalu jauh, seperti bagian umum.

Bermodal username dan password itu, saya coba akses. Ternyata sistem keamanan Google meminta nomor verifikasi, yang dikirim ke nomor dengan dua nomor terakhir angka 11.

Sudah lebih jelas identitasnya. Tapi masih belum mudah untuk menemukannya. Tahun 2013 karyawan saya lebih dari 200 orang. Selama lima tahun, saya sudah ganti handphone tiga kali. Blackberry, Mi4 dan Iphone. Nomor telepon selular saya sudah ganti tiga kali. Telkomsel, Indosat, XL dan sekarang Telkomsel lagi.

Jangan-jangan mereka pun sama? Handphone-nya sudah gonta-ganti. Begitu pula nomor telepon selularnya. Apalagi kalau senang paket layanan tertentu. Banyak operator selular menawarkan kartu perdana dengan banyak paket gratis.

Sambil mencari informasi, saya minta tolong teman-teman kerja tahun 2013 – 2014 untuk sama-sama mencoba akses ke email dengan pemilik misterius itu. Semua menyerah dengan laporan yang sama: email diblokir Google dan tidak bisa lagi mengakses ke email itu. Ternyata email saya pun mengalami nasib yang sama. Apes! (bersambung)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *