Seluruh Peserta Lelang Mengundurkan Diri

 Seluruh Peserta Lelang Mengundurkan Diri

Direktur Komersial AP2, Ghamal Peris (Foto:AP2),

JAYAKARTA NEWS—-Ini baru pertama kali dalam sejarah PT Angkasa Pura (AP) 2 (Persero). Seluruh peserta lelang pergudangan kargo yang telah mendaftar, Rabu (20/1/2021), mengundurkan diri satu persatu secara terpisah. Para peserta lelang yang terdiri dari penyewa gudang kargo bandara Soekarno Hatta merasa tidak mungkin lagi memenuhi persyaratan lelang yang ditetapkan direksi AP2. Dengan demikian lelang yang sudah dimulai dari minggu lalu otomatis batal.


Di tengah pandemi Covid-19, direksi AP2 bersikeras menaikkan pendapatan dari sewa gudang kargo sampai minimal 100%. Padahal selama ini, para pengelola atau penyewa gudang kargo sudah mengeluh, jangankan mencari keuntungan, untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19 saja, perusahaan sudah megap-megap. Walaupun demikian, keberanian seluruh peserta tender pergudangan kargo yang diselenggarakan AP2 memilih mengundurkan diri, cukup mengejutkan.


Ada enam peserta tender yang sudah mengambil dan mengembalikan formulir lelang gudang kargo di bandara Soekarno Hatta, mengundurkan diri, yaitu masing-masing PT Bangun Desa Logistindo (BDL), PT Dharma Bandar Mandala (DBM), PT Jasa Angkasa Semesta (JAS), PT Menzies Aviation Indonesia (MAI), PT Wahana Dirgantara (WD) dan PT Unex Rajawali Indonesia (URI). Pengunduran diri dimulai dari PT MAI, diikuti oleh PT JAS dan seterunya oleh perusahaan lainnya.

Surat pengunduran diri dari keikutsertaan tender telah dilayangkan ke direksi AP2, perusahaan BUMN pengelola 19 bandar udara (bandara) di Indonesia. “Ya benar semua peserta tender sudah mengundurkan diri secara resmi,” kata seorang panitia tender AP2, yang karena khawatir mendapat tekanan, tidak bersedia nama dan jabatannya dicantumkan. Sepanjang sejarah AP2, kejadian ini baru pertama kali terjadi.


Dalam siaran pers AP2 tiga minggu silam, pengelola bandara ini menegaskan berniat meningkatkan pendapatan dari sewa gudang kargo di bandara Soekarno Hatta dengan target minimal 100% atau dua kali lipat dari pendapatan saat ini. Caranya dengan mengubah sistem revenu sharing atau bagi hasil menjadi sewa per meter persegi, dan mulai menerapkan sistem pengelolaan gudang berbasis teknologi. Dalam rilis siaran pers AP2 itu disebut, sistem yang ada selama ini masih bersifat manual, sehingga pelaporan belum maksimal. “Kami akan memastikan bandara sekelas Soekarno Hatta akan dikelola oleh pemain kargo yang kredibel,” tandas Ghamal Peris, Direktur Komersial AP2 .

Di masa pandemi Covid-19, tetap saja kenaikan biaya sewa sebesar 100% sesuatu yang sangat ambisius. Perekonomian nasional dan global masih lesu. Gerak perdagangan pun masih seret. Apalagi teknis pelaksanaan lelangnya itu justru dapat menyebabkan melorotnya penghasilan untuk perekonomian nasional. Belum lagi kemungkinan munculnya monopoli atau oligopoli.


Saat ini lokasi lahan kargo di Bandara Soekarno Hatta seluas 89.974 meter persegi dibagi dalam empat klaster. Tiap klaster luasnya berbeda-beda. Dilihat dari letaknnya, klaster 4 yang paling strategis, karena paling dekat ke terminal dan pesawat pengangkut. Sebaliknya klaster 1 yang paling jauh. Biaya yang harus dibayar perusahaan kargo kepada AP2, selama ini dengan bagi hasil berdasarkan besarnya masing-masing omzet perusahaan di tiap klaster. Besarannya kisaran antara 15% sampai dengan 30%. Jika dikonversikan ke standar sistem harga sewa per meter persegi, rata-rata harga sewa saat ini sekitar Rp200.000 – Rp300.000 per meter persegi.

Anjloknya jumlah kargo selama pandemi tidak dinilai AP2 untuk menyesuaikan tarif sementara. Kekurangan pembayaran omzet dari para pengelola gudang kargo dicatat sebagai hutang oleh AP2. Sebaliknya justru rencananya mulai Pebuari bakal digenjot lebih tinggi lagi. “Untuk mencapai target bagi hasil saja, saja kami sudah setengah mati, apalagi kalau dibebani tambahan tuntutan kenaikan setoran, sudah pasti tidak tercapai,” jelas seorang direksi perusahaan pengelolaan sewa gudang kargo.

Dalam rancangan baru AP2, lahan-lahan itu bakal dilelang secara terbuka. Ada ada dua klaster khusus akan diberikan dengan penunjukan langsung kepada Gapura dan Angkasa Pura Kargo (APK) serta Garuda. Baik Gapura, APK dan Garuda merupakan perusahaan terkait AP2 dan Garuda dan sendiri. Dengan demikian, hanya dua klaster saja yang bakal dilelang.
Pelaksanaan lelang klaster 2 seluas 16.042 m2 sudah dimulai minggu silam. Dalam mekanisme lelang, perusahaan yang menang lelang dalam sebuah klaster, tetap boleh mengikuti lelang kembali pada klaster lainnya. Akibat dari sistem lelang ini, lelang hanya dimenangi oleh satu atau perusahaan saja. Disinilah terbukanya pintu monopoli yang dapat menguasai harga sewa sekaligus bahaya penyelundupan.

Dari pembobotan sistem lelang, sistem digitelisasi cuma diberi bobot 20%. Sedangkan bobot terbesar, 60%, justru jatuh pengajuan besarnya biaya sewa. Dengan kata lain, tujuan utama lelang bukan memperbaiki sistem pelaporan, tetapi lebih untuk mengeduk keuntungan.


Dalam pengumuman lelang yag disebarkan melalui berbagai media, harga dasar sewa ditentukan per meter persegi Rp2,5 juta. Untuk menjadi pemenang lelang tentu harus mengalahkan perusahaan peserta lelang lainnya, dan itu artinya si pemenang harus memberikan penawaran yang tertinggi. Maka harga pemenang lelang seharusnya di atas Rp 2,5 juta. Dengan perbandingan pendapat sekarang, AP2 sedikitnya bakal mengeruk tambahan pendapatan sekitar 10 kali lipat.


Bagi perusahaan yang memenangkan lelang, modal biaya sewa yang besar, harus dikembalikan, lantas ditambah keuntungan. Maka untuk itu perusahaan pemenang akan memberi angka kepada agen, setidak-tidaknya 10 kali lipat lebih sedikit dari harga yang sekarang. Dan tentu saja agen akan membebankannya lagi ke konsumen. Tegasnya, dengan sistem lelang baru nanti harga pengiriman barang oleh konsumen melalui udara bakal mengalami kenaikan sekitar 10 kali lipat. Di era pandemi Covid-19 manakala perekonomian dunia sedang lesu kenaikan 10 kali lipat merupakan kebijakan yang tidak rasional
Sekarang saja rata-rata pengiriman kargo melalui udara sudah melorot sampai 15% -20% . Jika ditambah lagi dengan kenaikan sekitar lima sampai 10 kali lipat harga kargo udara , hampir dapat dipastikan lalu lintas kargo melalui udara, khususnya bandara Soekarno Hatta, akan semakin terpuruk. Jika hal ini terjadi, berarti dampaknya juga akan ke perekonomian nasional.


Pihak AP2 Kamis, 21/1 belum dapat dihubungi untuk memberikan tanggapan soal mundurnya seluruh peserta tender lelang kargo. Sedangkan dari kantor Kemeneg BUMN diperoleh informasi, mereka belum mendengar adanya peristiwa ini, tetapi berjanji akan menelusuri kenapa sampai semua peserta tender mundur.

Menghambat Perekonomian Nasional

Dibandingkan dengan harga kargo di luar negeri lebih murah, bahkan ada yang gratis. Bisa jadi, kalau harga kargo udara Indonesia terlalu tingginya, pihak pemilik barang sebagian memilih mengirim barang lewat bandara dari negara tetangga dan selanjutnya dari sana mengirim melalui jalur darat atau laut. Hanya yang darurat saja yang memilih kargo udara. Kalau ini terjadi, sudah pasti lebih menekan pertumbuhan perekonomian nasional.
Tak cuma itu, sistem lelang juga memberikan peluang lahirnya monopoli. .Pemenang tender yang cuma satu atau dua dapat mengatur harga sewa sesuka hatinya. Perusahaan kargo juga merupakan benteng terakhir dari keamanan negara. Hal ini lantaran di perusahaan kargolah batas pengiriman barang ke mana-mana, termasuk ke luar negeri. Perusahaan kargolah yang diharapkan dapat membendung berbagai penyelundupan terakhir. Padahal pada sistem lelang ini dapat terciptanya monopoli atau oligopoli.


Kalau lelang dimenangkan hanya oleh satu atau dua perusahaan saja, pasti muncul monopoli. Monopoli membuat peluang ke penyelundupan menjadi lebih terbuka. Ingat penyelundupan benih benur? Salah seorang dari tersangkanya, Siswadi Pranoto yang merupakan pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK) yang gedung sudah disegel oleh KPK, juga menjadi salah satu pemilik dari perusahaan gudang di Bandara Soekarno Hatta. Bahkan perusahaannyalah yang diberikan lisensi oleh Departemen Perhubungan sebagai perusahaan yang melakukan cargo security screening. Nah, tanpa mencurigai, tentu perlu waspada, kemungkinan terjadinya penyeludupan seperti pada bibit lobster atau benur, jika hanya ada satu atau tiga perusahaan gudang kargo saja.(*/pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *