Sekjen Kemenag Apresiasi Kesediaan Siswa Non Muslim Ikut Festival PAI

 Sekjen Kemenag Apresiasi Kesediaan Siswa Non Muslim Ikut Festival PAI

(Foto: Kemenag)

JAYAKARTA NEWS – Ada yang berbeda dalam Festival Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2022. Pasalnya, peserta hajat tahunan Direktorat PAI Kemenag ini juga diikuti siswa yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Hal ini menjadi perhatian Sekjen Kemenag Nizar Ali. “Terlepas sejauh mana capaian siswa non-muslim dalam kompetisi ini, saya menilai kesediaan dan keinginan mereka untuk mengikuti lomba ini sungguh patut diapresiasi,” tutur Nizar saat membuka gelaran puncak Festival dan Gebyar PAI di Tangerang Selatan, Kamis (27/10/2022).

Festival PAI tingkat nasional diikuti oleh siswa SMA/SMK yang telah lolos seleksi di tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Secara khusus, Nizar menyampaikan terima kasih atas keikutsertaan pelajar Non Muslim dalam Festival PAI ini.

“Kalian telah menjadi bagian penting dari upaya mengembangkan toleransi dan persaudaraan, serta penguatan moderasi beragama,” ungkapnya.

Menurut Nizar, penguatan moderasi beragama jelas membutuhkan kerja bersama dan kolaborasi semua pihak. Di dalam upaya tersebut, tentu saja kerendah-hatian dan sikap legowo menerima perbedaan menjadi prasyarat utama.

“Saya bangga, Festival dan Gebyar PAI ini mampu menjadi ajang persemaian kebersamaan para siswa sekolah dari berbagai latar belakang agama yang berbeda,” terang Nizar.

Melalui Festival dan Gebyar PAI ini, lanjutnya, para sisa telah menunjukkan dengan jelas kesediaan dan kemauan mereka untuk berbaur dalam perbedaan, berkompetisi secara sehat, dan yang paling penting adalah keberanian dan kecerdasan untuk membahas Moderasi Beragama dalam lomba debat yang demikian dinamis dan menginspirasi.

Nizar berpesan, prestasi dalam ajang ini tidak hanya dipahami sebagai akhir dari tugas dan tanggung jawab moral dalam menyuarakan nilai Moderasi Beragama. Saat kembali ke sekolah masing-masing, para peserta juga harus bisa menjadi figur penting dalam kampanye moderasi beragama yang harus selalu dijalankan.

“Ajak dan diskusikan tema nilai moderasi beragama sebagaimana yang kalian pahami dalam ajang Festival dan Gebyar PAI tahun 2022 ini dengan teman-teman sekolah,” pesannya.

Kepada para guru PAI, Nizar berpesan agar menjadi aktor penting dalam upaya diseminasi moderasi beragama pada siswa. Karya inovatif dalam kampanye moderasi beragama semoga menjadi pemacu dan pemantik kemauan dan kemampuan guru PAI lainnya.

“Saya berharap, lembaga pendidikan mampu menjadi laboratorium moderasi beragama bagi siswa dan taman bermain untuk perayaan perbedaan. Dalam cara pandang seperti ini, moderasi beragama bukanlah sesuatu yang mengawang-awang karena difungsikan sebagai bagian dari keseharian dan aktivitas para siswa. Di dalamnya, teknologi dapat menjadi dukungan yang mencerahkan dan memudahkan,” harapnya.

“Semoga, Festival dan Gebyar PAI ini mampu menguatkan dan meneguhkan langkah bersama untuk membumikan dan menjalankan moderasi beragama pada siswa,” tutupnya.

Pada pertengahan September 2022, Kementerian Agama telah mengumumkan 7.826 siswa ang lolos seleksi administratif pada tahap pendaftaran peserta Festival Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2022. Dari jumlah itu, ada sekitar 50 siswa yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Mereka bersama ribuan peserta lainnya kemudian mengikuti coaching dan mentoring penguatan moderasi beragama.

Terpisah, Kasubdit PAI pada SMA/SMLB Abdullah Faqih mengatakan, pihaknya sedari awal memang memberi kesempatan kepada semua siswa SMA/SMK dari berbagai latar belakang agama untuk ikut serta dalam festival ini. Dia berharap ajang ini sekaligus bisa menjadi media komunikasi dan saling memahami perbedaan antar siswa.

“Kami tentu sangat mangapresiasi kesediaan dan langkah siswa yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu untuk mengikuti pendaftaran Festival PAI Tahun 2022 ini. Secara konseptual, Festival PAI ini memang tidak hanya dapat diikuti siswa beragama Islam saja,” katanya.

“Keikutsertaan mereka diharapkan dapat persahabatan, walaupun terdapat perbedaan keyakinan di antara mereka. Jadi perbedaan bukan menjadi penghalang untuk saling bersahabat dan berkolaborasi,” tandasnya.***/mel

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.