Rotasi Mutasi Jabatan “No Setoran”

 Rotasi Mutasi Jabatan “No Setoran”

Gubernur Jabar Ridwan Kamil Jumat lalu, merotasi dan memutasi 24 pejabat senior setingkat eselon-I (para kepala dinas/badan) di lingkungan Pemprov Jabar. “Ini hal biasa bukan luar biasa, sebagai penyegaran untuk gairah kerja,” kata Kang Emil panggilan akrab Gubernur Jabar dalam pesan pelantikan.

Ridwan Kamil dalam setiap tutur kata, pesan pelantikan pejabat baru, baik untuk para pejabat di lingkungan Pemprov Jabar maupun dalam pelantikan para bupati-walikota se Jabar, mengatakan, pejabat aparat abdi rakyat baru disebut hebat apabila berintegritas dan tidak berbuat korupsi. Mengapa Emil seperti geram sekali kepada bawahannya yang korupsi? Apakah sebatas pemanis kata, atau betul-betul mau memberantas korupsi sampai tuntas? Masyarakat Jabar masih menantikan kiprah Kang Emil selanjutnya.

Dua tokoh Jabar  seperti Mang Ihin (Solihin GP) sesepuh Jabar matan Gubernur Jabar dan Kang UU Rukmana tokoh senior Jabar, mengatakan bahwa pemberantasan korupsi untuk para oknum ini bukan hanya sebatas kata kata, tapi harus serius dan bertindak tegas. Terutama membersihkan diri sendiri (aparatur di lingkungan pemprov Jabar). Kalau bersih dirinya bersih rumahnya, pasti pejabat dan rakyatnya “cageur bageur bener pinter” bebas dari perbuatan nista dan pidana.

Dari cataatan Jawsyakarta News, ada yang mengejutkan dari mutasi dan rotasi 24 pejabat di pemprov Jabar, di mana ”banyak orang kuat kaki tangan” mantan Gubernur Aher terjungkal, “dirotasi” dari kepala Dinas menjadi staf ahli gubernur.

Paling ramai dibicarakan dan disorot publik adalah dimutasinya Kadisdik Jabar Jabar Ahmad Hadadi menjadi staf ahli Gubernur, digantikan Kadisdik baru Dewi Sartika yang sebelumnya Kepala Ketahanan Pangan Jabar.

Mengapa Dinas Pendidikan banyak disorot? Sejumlah sumber menyebutkan di Dinas ini banyak oknum, baik dari dalam atau dari luar. Banyak mafia proyek yang dikendalikan oknum pejabat dari mulai PPK dan oknum pejabat lainya. Dari mulai bagi bagi proyek penunjukan langsung sampai isu jual beli jabatan, dan kasusnya sudah tahunan. Bahkan oknum kepala Dinas dan oknum Kabid, beberapa waku lalu masuk bui karena kasus korupsi.

Sejumlah pihak,meminta Ridwan Kamil dan Kadis yang baru, membersihkan oknum pejabat kukut dan oknum pengusaha kukutan (yang masih saudara sedarah dengan oknum PPK yang akrab dipanggil Sikuplik) harus segera dibidik. Disdik Jabar harus dipakai percontohan oleh Ridwan Kamil jangan hanya koar-koar di mulut saja. Disdik harus bersih dari pungli dan korupsi. ”Bila perlu dipasang tim Saber pungli di Disdik Jabar,” begitu banyak komentar yang meminta RK tegas bukan hanya kebiajkan sekilas.

Media ini pun mencoba mengirim surat resmi seputar dugaan maraknynya mafia proyek dan bagi-bagi proyek rehab sekolah. Dari Jawaban yang diterima Jayakarta News dari surat resmi yang ditandatangi oleh salah satu Kepala Bidang hanya menyebutkan, bahwa penunjukan lelang untuk rehab SMA dan SMK sudah sesuai prosedur. Tidak menjawab bahwa di instansi tersebut diduga telah terjadi perkeliruan urusan proyek. Banyak oknum ormas LSM dan oknum wartawan yang menikmati kekeliruan tersebut.

Sebaiknya Kadisdik yang baru dan RK segera memutasi dan merotasi para oknum pejabat yang sudah menahun, dan diduga bermain dengan “sikuplik” baik yang diduga suka memperjualbelikan jabatan Kepala Sekolah SMA atau yang main proyek “rametek” dengan kolega dan sodaranya. Kadis Baru dan Ridwan Kamil urusan korupsi dan perkeliruan tos “sabiwir hiji” sudah jadi rahasia umum. Kadis-Kabidnya sudah dipenjarakan dan ada kesan sebutan ATM-nya para oknum. Para pamiarsa meminta agara Disdik Jabar dijadikan model penertiban pembinaan para oknum yang nakal. Saur “pamiarsa bade kumaha jadina anak sekolah guru-guru, kalau pejabat di lingkungan Disdiknya amburadul dan doyan korupsi,” begitu katanya.

Selain merotasi dan memutasi 24 petinggi Kadis, Kabadan dan Kabiro. Ridwan kamil pun sedang melelangkan 12 jabatan basah dan sering diperebutkan. Di antaranya Kadis PU Binamarga, Kadis PU Kimrung dan Kadis PU Air/Suber Daya Air, Kadis Perhubungan Kesehatan dan lainnya.

Ada sejumlah harapan, semoga di era Ridwan Kamil mutasi rotasi dan lelang jabatan tidak disertai jual-beli jabatan dan setoran. Masalahnya, di era gubernur lama (Kang Aher) isu jual-beli jabatan dan setoran merebak dari tingkat Kasi, Kabag sampai kepala dinas yang katanya selalu dimakan oknum yang ganas. Isu itu merebak kalau tidak ada setoran jangan harap punya jabatan, terutama harus setor kepada oknum partai yang dekat dengan penguasa. Tapi isu tersebut tak pernah terungkap dan tertangkap. Karena ada dugaan saur pamiarsa sama sama tahu dan sama sama main mata, untuk merebut harta. Pamiara meminta isu jual beli jabatan di era gubernur Ridwan Kamil tak ada lagi. Saur kolot baheula orang tua kita mengatakan “Moal aya haseup mun euweu seuneu”. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Jangan basa basi memberantas korupsi. (Dani Yuliantara)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *