“Pusaran” Bikin Naning Gulung Koming

 “Pusaran” Bikin Naning Gulung Koming
Naning “Mahisa” Kartaatmaja. (foto: bambang wartoyo)

Jayakarta News – Pementasan teater musikal “Pusaran” di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, tinggal menghitung hari. Selama dua hari, Senin – Selasa, tanggal 22 – 23 Juli 2019, Teater Alam berkolaborasi dengan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, bakal mencetak sejarah di panggung teater modern.

Menjelang datangnya dua hari besar itu, banyak pihak mendadak nervous. Bayangkan, pemeran utama Blanche DuBois, Viola Alexsandra sempat cedera punggung usai akting berkelahi di panggung latihan. Kabar tak sedap lain, penata artistik Gunadi melaporkan kerusakan salah satu bagian setting panggung yang sedang dibangun.

Dari bagian produksi melaporkan, pementasan tanggal 22 Juli, sudah aman dari sisi penonton. Sedangkan pentas hari kedua, tanggal 23 Juli, masih menyisakan tiket sekitar 350 seat (dari kapasitas sekitar 900 seat). Masih ada pernak-pernik lain yang menambah nervous para pihak yang terlibat.

Satu di antara mereka yang diterjang “demam panik jelang pementasan” adalah Naning Kartaatmaja, selaku Pimpinan Produksi. Ibaratnya, Naning gulung-koming menjelang tanggal pementasan. Perempuan bernama lengkap Naning Suningsih Tata Atmaja itu bersama Pimpro lain, Silvia Purba serasa tenggelam dalam pusaran unit produksi tiada akhir.

Silvia Purba, Naning Kartaatmaja, Yudiaryani, dan “Memet” Chairul Slamet. (foto: ist)

“Untung ada mbak Silvi….. Kalau tidak ada dia, saya bisa gila!” ujar Naning sambil tertawa. Bisa dipahami. Sekalipun Naning terbilang anggota Teater Alam senior (angkatan 1977), tetapi ia sama sekali tidak pernah berada pada posisi pimpinan produksi pementasan teater. Apa daya, ia tidak kuasa mengelak, ketika sang sutradara, Prof Yudiaryani memintanya menjadi pimpro.

Adalah Silvia Purba, perempuan yang dimaksud Naning. Ia adalah pimpinan produksi yang ditunjuk FSP ISI Yogyakarta dalam “Pusaran”. “Mbak Silvi sangat berpengalaman. Yang lebih membantu adalah karena mbak Silvi paham karakter sutradara,” ujar Naning seraya menambahkan, “sutradaranya galak dan….” Berkata begitu, Naning menari-narikan ujung jari-jemarinya di dekat mulut sambil tertawa lebar.

Toh, Naning dan Silvi tetap tegar. Lebih tegar lagi ketika problem penonton untuk hari pertama, tanggal 22 Juli 2019, sudah aman. Persoalan tinggal tanggal 23 Juli 2019, hari Selasa. Ia masih terus berpromosi kepada masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan teater paling spektakuler tahun ini. Untuk pembelian tiket bisa secara online melalui karcisonline.com atau melalui link: http://bit.ly/pusaranshow.

Bagi yang merasa repot atau kesulitan memesan tiket secara online, Naning menyarankan datang langsung ke TBY. “Kami membuka penjualan tiket on the spot pada hari Selasa malam, tanggal 23 Juli 2019,” tambah wanita kelahiran 16 November 1958 itu.

Naning dan Anas. (foto: bambang wartoyo)

Dalam hal lain, utamanya soal kesekretariatan, Naning juga sangat terbantu dengan hadirnya senior Teater Alam yang lain, Anastasia Sri Hestutiningsih. Anas, begitu ia akrab dipanggil, terlibat sejak awal di “Pusaran”. Pengalaman yang banyak menangani pementasan teater, sungguh meringankan beban Naning. “Mbak Anas dan tim produksi lain, sudah all out untuk ‘Pusaran’. Semoga memuaskan,” ujarnya.

Menurut Naning, lakon “Pusaran” (A Streetcar Name Desire by Tenneessee Williams) harusnya bisa memuaskan penonton, karena sangat menarik. Ia tidak seperti naskah-naskah klasik yang biasa dimainkan Teater Alam. Mengikuti seluruh rangkaian produksi, sejak casting hingga jelang pementasan, membuat Naning yakin, penonton akan mendapatkan suguhan teater modern yang berbeda.

“Apalagi ini teater musikal. Ada alur cerita yang kuat, ada tarian, ada nyanyian, komplet. Ceritanya sendiri menurutku cukup berat, karena menggambarkan sebuah revolusi sosial sekaligus revolusi budaya di Amerika Serikat bagian selatan. Mewabahnya budaya bebop. Kontekstual dengan bangsa kita, meski dalam paradoks yang berbeda,” ujar Naning, yang di Teater Alam pernah terlibat pementasan Kebebasan Abadi (1979) karya CM Nas dan Krishna Duta (1980/1981) karya D Djajakusuma.

Menjadi optimis bahwa pementasan “Pusaran” patut disaksikan, antara lain karena didukung penata musik andal, Dr “Memet” Chairul Slamet. Pentolan kelompok musik etnik-kontemporer “Gang Sadewa” itu, bagi Naning, adalah jaminan hadirnya komposisi musik berkualitas.

Sebelum ini, Memet dikenal dengan banyak konser musik etnik-kontemporer. Karya idealisnya tahun 2016, konser kolosal dengan 1.010 pendukung di kota Senju, Tokyo, dan rencana akan diulang tahun 2020 di Jepang. Lalu tahun 2015 ia mengiringi pertunjukan Bantengan kolosal di Batu, Jawa Timur. Tahun 2017, Tambur Perdamaian di Jatinom, Klaten. Tahun 2018 musik othok-othok kolosal pada acara Car Free Day Solo.

Mengiringi teater, juga bukan hal baru bagi Memet. Tanggal 8 Desember 2018, ia menggarap musik Montserrat yang dipentaskan Teater Alam Yogyakarta. Tak jauh dari Montserrat, ia berkolaborasi dengan Prof Yudiaryani dalam Pidato Kebudayaan. “Artinya, cak Memet dan bu Yudi bisa dibilang soulmate. Cak Memet tahu apa yang dimau bu Yudi sebagai sutradara,” tambah Naning yang terakhir tugas di Dinas Kesehatan Bantul itu.

Para pendukung “Pusaran”. (foto: bambang wartoyo)

Naning juga memuji talenta salah satu anak muda yang terlibat dalam “Pusaran”. Kade, nama pemuda itu, adalah mahasiswa teater FSP ISI Yogya yang bertugas mengkoordinir teman-temannya. Dalam usia muda, kapasitas leadership-nya sangat menonjol. Di samping, memiliki skill luar biasa. Dalam “Pusaran”, Kade mengkoordinir pemain, ikut bermain, juga merangkap tugas sebagai penata gerak. “Dia aset teater Yogya, bahkan aset teater nasional,” ujar Naning.

Mencermati kolaborasi pementasan teater antara teaterawan sanggar (Teater Alam pimpinan Azwar AN) dengan para mahasiswa teater ISI Yogyakarta, Naning mengaku takjub. Menyatukan dua tradisi berteater yang berbeda, bukan pekerjaan mudah. “Saya jadi paham, mengapa pola penyutradaraan mbak Yudi seperti itu. Sebuah pola penyutradaraan yang tidak biasa di dunia sanggar. Di sini, teman-teman sanggar banyak belajar. Sebaliknya, totalitas akting para pemain senior Teater Alam, saya kira sedikit-banyak bisa diserap oleh adik-adik mahasiswa,” paparnya.

Naning menyebut, ada tradisi berbeda dalam hal gemblengan berteater. Naning, misalnya, jadi teringat momentum sebelum menjadi anggota Teater Alam. Ia mengalami ritual “dibaptis”. Bersama anggota yang lain, ia berjalan kaki dari markas sanggar Teater Alam di Jl Sawojajar menuju Sendang Kasihan, Bantul. “Saya pun ‘dibaptis’ dengan nama ‘Mahisa’, yang maknanya tidak terlalu saya pahami sampai sekarang. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1978,” kisah Naning.

Naning tidak paham, bahwa Mahisa, sama artinya dengan Mahesa. Dalam bahasa Sanskerta, Mahisa atau Mahesa memiliki maksud aturan yang kuat. Sedangkan menurut KBBI dan bahasa Jawa arti Mahesa adalah kerbau.

Nama Mahisa, bisa kita jumpai dalam kitab Pararaton. Perkawinan Ken Arok (Raja Singasari 1222 – 1247) dengan Ken Dedes melahirkan Mahisa Wongateleng. Ia menurunkan Mahisa Campaka yang tak lain adalah ayah dari Raden Wijaya pendiri sekaligus raja pertama Majapahit.

Di antara makna “aturan yang kuat” dan  “kerbau” tadi, maka Naning “Mahisa” Kartaatmaja sejatinya wanita yang memang taat aturan dengan fisik kuat, sekuat kerbau. Tidak keliru jika Prof Yudi memintanya menjadi pimpinan produksi pementasan “Pusaran”. Semangat, Ning!!!  Semangat gulung-koming….. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *