Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the zox-news domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Orasi Kebangsaan Sri Sultan HB X - Jayakarta News
Notice: Function WP_Styles::add was called incorrectly. The style with the handle "ql-main" was enqueued with dependencies that are not registered: ql-bootstrap. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.9.1.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Connect with us

Kolom

Orasi Kebangsaan Sri Sultan HB X

Published

on

TEPAT 1 Juni 1945, 73 tahun lalu, Bung Karno membidani “Lahirnja Pantja Sila”, tatkala bangsa ini dalam proses “Menjadi Indonesia”. Lalu, pada 18 Agustus 1945, Pancasila jadilah Rumah Kita, sejak dikukuhkan dalam UUD 1945 sebagai Dasar Negara.

Sebagai Rumah Kita, Pancasila bagai tempat berteduh, seperti lirik lagu Franky Sahilatua “untuk cinta sesama”. Rumah berbagi gagasan, membangun asa, guna merajut masa depan.

Tapi kini, Rumah Kita lagi diterjang petaka dari manca, paham yang tak kita kenal. Terus digoyang, agar lima tiang utamanya roboh menimpa kita semua.

Harmoni kehidupan, bak warna-warninya bunga di tamansari dunia, diinjak-semena demi selfie bagi egoisme diri. Sungguh, awal sebuah kesedihan menuju perpecahan! Ia menggores jiwa, meretakkan sayap-sayap Garuda Pancasila.

Kini, rakyat bertanya: Mengapa Bumi Nusantara ini terus diusik oleh mereka yang mendua hati? Kenapa Pancasila selalu disulut ancaman radikalisasi dan intoleransi? Bukankah kita dambakan harmoni, bukan antipati? Damai bukannya bertikai? Andaikan sejarah cermin rujukan, bukankah setiap kita, satu hati bagi NKRI?

Kini, Ibu Pertiwi tercenung, merana dan menangis seraya berdoa. Karena anak-anaknya larut dalam debat tak sehat. Terjebak pada greget-saut, bukannya suluk Ki Dalang yang menenteramkan hati dan menyejukkan nurani.

Boedi Oetomo penyemai cita-cita, Soempah Pemoeda penegas bingkainya, Proklamasi tonggak perwujudannya, dan Pancasila pengikat yang menyatukan kita.

Benar kata Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Dan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah bangsa kita.

Maka, guna menguatkan pengikat sejarah perjuangan bangsa ke depan, camkanlah pesan ini, teriring Salam Lima Jari pengusir dengki:

 

Pancasila…

Janganlah kau puja

layaknya AZIMAT keramat

Tapi…

Jadikanlah ia,

KHIDMAD yang manfaat

 

Pancasila…

Janganlah kau simpan

bagai MONUMEN di keranda mati

Tapi…

Gunakanlah ia,

MOMEN gumregahnya aksi

 

Pancasila…

Janganlah kau teriakkan

dengan bahasa BASA-BASI

Tapi…

Gemakan suara,

bak GENTA REVOLUSI,

SATUKAN NEG’RI.

 

Semoga Tuhan menyertai kita semua. Selamat Hari Lahir Pancsila, 1 Juni 2018. Semoga hari ini menandai awal kebangkitan baru dari Yogya untuk Indonesia!

Sekian, terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Salam damai dalam kasih-Nya,

Semoga semua makhluk-Nya berbahagia,

Om Çanti, Çanti, Çanti, Om.

 

Kampus Universitas Pancasila UGM, 1 Juni 2018

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,

HAMENGKU BUWONO X

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement