Memaknai Esensi Pancasila

 Memaknai Esensi Pancasila

Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA, Dosen Ilmu Administrasi Negara Universitas Teuku Umar (UTU). (Foto. Ist)

Oleh Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA, Dosen Ilmu Administrasi Negara Universitas Teuku Umar (UTU)

Setiap tahun pada tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahinya Pancasila, hal ini didasari Pidato Bung Karno (Proklamator Kemerdekaan Indonesia) menyampaikan pidato dalam rapat besar Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam rapat tersebut Bung Karno menyampaikan buah pemikiran dari hasil perenungannya selama 4 tahun ketika diasingkan oleh Belanda ke pulau Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pada tahun 1934 Bung Karno diasingkan dari pengikut dan untuk membatasi aktivitas politiknya ke pulau terpencil di Flores, saat dalam pembuangan di Flores, Bung Karno memanfaatkan waktu untuk bercocok tanam, membuat drama, dan  menikmati kesendirian dengan duduk pada sebuah pohon sukun yang rimbun. Dalam keseharianya yang sepi dan duduk termenung datanglah ide tentang konsep bernegara yang dapat menyatukan semua golongan anak bangsa.

Hal inilah yang berusaha digali oleh Bung Karno dengan konsep yang diterima oleh semua golongan jika suatu saat bangsa Indonesia merdeka.

Pancasila lahir dari sebuah renungan dan digali dari nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia yang telah memiliki sejarah peradaban sebagai negara maritim (kerajaan Sriwijaya) dan negara agraris (Kerajaan Majapahit) yang didiami oleh berbagai suku bangsa yang memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda-beda.

Bung Karno ingin jika nantinya bangsa Indonesia terlahir dengan konsep rumah besar yang dapat menampung semua kemajemukan. Pancasila adalah jawaban yang dapat mengikat pluralisme yang ada di Indonesia. Ide yang terpancarkan dari sebuah renungan pohon sukun yang tatapan mata tertuju langsung ke pantai Ende yang eksotis dan Indah, sebuah kutipan dari Bung Karno “Aku terbiasa duduk di bawah pohon sukun yang sangat rindang dengan pemandangan laut lepas tiada batasnya di sana aku duduk termenung berjam-jam. Aku memandangi samudera bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukuli pantai dengan pukulan berirama, dan kupikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti hentinya. Pasang surut, namun ia tetap menggelora secara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami”.

Pencerahan itu datang dalam kesendirian dalam pengasingan yang kemudian ide tersebut disampaikan dalam rapat BPUPKI di Jakarta.Dalam sejarah revolusi kita mengenal beberapa ide dan pemikiran yang dilahirkan dari pemimpinnya.

Buku merah yang ditulis oleh Mao Zedong yang berisi kutipan-kutipan dari pemimpin revolusioner Republik Rakyat Tiongkok. Buku merah ini merupakan gagasan tulisan Mao tentang revolusi.

Begitu juga dengan Revolusi Amerika, sebuah buku Common Sense yang ditulis Thomas Paine 1776 yang berisi tentang hasrat rakyat Amerika untuk terbebas dari cengkraman koloni pemerintah kerajaan Inggris.

Buku ini menceritakan bahwa ketidakadilan dan penindasan oleh Inggris kepada koloninya di Amerika sehingga harus menjadi dasar menuntut kemerdekaan. dan juga buku yang di tulis oleh Napoleon yang kemudian terkenal Napoleon code pada tahun 1804 yang berisi tentang kebebasan beragama, kebebasan memperoleh pekerjaan tanpa didasarkan pada faktor keturunan dan kebebasan untuk memperoleh kehidupan yang layak yang merupakan dasar timbulnya semangat nasionalisme.

Begitu juga dengan Pancasila yang digagas oleh Soekarno yang menjadi perekat kemajemukan dalam kutipannya pidatonya Bung Karno berucap tentang konsep keindonesiaan. “Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu adat istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Marauke, dan tujuan kita bernegara bukan untuk memenuhi kepentingan satu pihak, namun untuk memenuhi kepentingan umum.

Berpedoman kepada keadaan dan karakteristik bangsa Indonesia yang majemuk, Soekarno menyampaikan ideologi bernegara yaitu Kebangsaan Indonesia Internasionalisme atau perikemausiaan, mufakat atau demokrasi. Kesejahteraan sosial

Ketuhanan yang maha esa. Yang kemudian lima prinsip ini dinamakan Pancasila yang berasal dari Bahasa Sangsekerta, Panca artinya Lima Sila berarti dasar.

Setelah dilakukan rapat finalisasi lahirlah Pancasila dengan urutan :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa,

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia,

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan dan perwakilan,

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Covid-19 dan Nilai Pancasila

Memaknai Pancasila terutama pada saat Covid-19 ini perlu kembali mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila. Kita perlu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena secara esensi sengenap ujian ini datangnya dari Tuhan sebagai peringatan bagi kita semua. Dalam alam Pancasila, negara memberikan kebebasan kepada setiap anak bangsa untuk menjadi hamba Tuhan yang taat dan dapat melaksanakan keyakinan masing-masing tanpa paksaan.

Karena agama merupakan ranah yang sangat hakiki yang datang dalam hati manusia. Oleh karenanya, doa dan ibadah menjadi lebih kuat dan dalam mengingat-Nya yang ada lebih dekat dari urat nadi kita. 

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab yang mengajak kita saat musibah Covid-19 ini untuk menjadi hamba-Nya yang bermanfaat bagi orang lain. Hamba Tuhan yang dapat membawa nilai-nilai kemanusiaan yang merasa sedih atas penderitaan dan dengan penuh kasih saying memberikan pertolongan kepada sesama umat manusia.

Musibah Covid-19 ini merupakan asa kita untuk melatih nilai kemanusiaan kita dan kepekaan kita kepada sesame umat manusia yang menghirup udara dan menteri yang sama.

Sila ketiga sebagai pemersatu kita sebagai sebuah bangsa yang kuat yang terdiri dari 260 juta lebih anak bangsa yang jika bersatu pada dapat mengatasi Covid-19 dan mencegah disintegrasi bangsa dan perpecahan sesama anak bangsa. Menghindari konflik sosial dan konfrontasi politik yang dapat membuat kepanikan dan kegaduhan rakyat. Saatnya persatuan bangsa menjadi lebih kokoh dalam menghadapi musuh bersama yaitu virus korona.

Sila keempat merupakan ajakan untuk kita bermusyawarah antar sesama anak bangsa dari berbagai profesi dan suku bangsa untuk bahu membahu menyelesaikan Covid-19. Jika para  pendahulu kita telah bahu membahu mendirikan negara ini dan saatnya kini,  kita bahu membahu menyelesaikan tantangan dalam ujian Covid-19 ini dengan mufakat dan musyawarah dalam kehidupan masyarakat.

Sila ke lima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan semangat solidaritas bersama untuk saling membantu dan menguatkan untuk melewati ujian Covid-19 sehingga tidak ada anak bangsa yang termarjinalisasi dan tidak terpedulikan. Sebaliknya, musibah Covid-19 ini meningkatkan solidaritas bangsa Indonesia.

Semoga dengan peringatan 1 Juni ini, Bung Karno yang telah mencurahkan sengenap pemikiran, tenaga dan daya upayanya untuk Bangsa ini dapat tersenyum melihat anak cucunya berjuang secara gotong rotong melewati ujian Covid-19 ini. Selamat hari Pancasila. (*)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *