Connect with us

Kabar

Menteri Mukhtarudin Lepas 313 Pekerja Migran Indonesia ke Jepang

Published

on

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, di Gedung Semeru, Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Rabu (17/6/2026). (Humas P2MI)

JAYAKARTA NEWS— Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, secara resmi melepas 313 Pekerja Migran Indonesia (PMI) program Government to Government (G to G) ke Jepang Batch 19 dalam kerangka Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) penempatan tahun 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Semeru, Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Rabu (17/6/2026).

Pada kesempatan yang sama, Mukhtarudin juga membuka Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP) bagi 200 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) skema G to G Korea Selatan.

Dalam sambutannya, Mukhtarudin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Jepang atas kerja sama strategis yang telah terjalin sejak 2008. Menurutnya, kerja sama tersebut membuka peluang besar bagi tenaga kerja terampil Indonesia untuk berkarier di luar negeri melalui jalur resmi dan terproteksi.

“Hari ini adalah buah dari perjuangan panjang yang telah kalian lalui. Berbagai proses seleksi dan pelatihan membuktikan bahwa kalian adalah putra-putri terbaik bangsa. Berangkatlah dengan percaya diri, terus belajar, bekerja dengan profesional, dan jadilah duta Indonesia yang membanggakan,” ujar Mukhtarudin, dilansir InfoPublik.

Sebanyak 313 PMI yang diberangkatkan ke Jepang terdiri atas 19 tenaga perawat (nurse) dan 294 pendamping lansia (careworker).

Melalui skema IJ-EPA, para pekerja akan memperoleh kontrak kerja sekaligus kesempatan pengembangan karier di sektor kesehatan Jepang. Untuk kategori nurse, peserta akan bekerja sebagai asisten perawat dengan masa kontrak tiga tahun dan berkesempatan mengikuti Ujian Nasional Nurse Jepang hingga tiga kali.

Sementara itu, peserta kategori careworker akan menjalani kontrak kerja selama empat tahun sebagai asisten pendamping lansia dengan kesempatan mengikuti Ujian Nasional Careworker Jepang satu kali.

Program tersebut menawarkan pendapatan yang kompetitif, dengan kisaran gaji pokok antara 150.000 hingga 220.000 yen per bulan atau setara sekitar Rp16 juta hingga Rp24 juta. Nominal tersebut belum termasuk lembur, tunjangan, bonus, hak cuti tahunan, dan libur nasional sesuai ketentuan di Jepang.

Mukhtarudin mengungkapkan, sepanjang 2023 hingga 2026 jumlah PMI yang ditempatkan ke Jepang melalui skema G to G telah mencapai 1.240 orang, terdiri atas 1.178 careworker dan 62 nurse.

“Pekerja migran adalah wajah Indonesia di mata dunia. Apa yang kalian lakukan hari ini dapat berdampak pada citra bangsa di masa depan, baik maupun buruk,” tegasnya.

Selain itu, ia mengingatkan para PMI agar mematuhi seluruh peraturan yang berlaku di negara penempatan, bekerja secara profesional, serta mampu beradaptasi dengan budaya dan lingkungan kerja yang menjunjung tinggi kedisiplinan.

“Kalian harus selalu mematuhi seluruh peraturan di negara penempatan serta bekerja dengan sungguh-sungguh demi menjaga citra positif pekerja Indonesia,” katanya.

Mukhtarudin juga menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik selama bekerja di luar negeri. Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian P2MI telah menyiapkan Buku Saku Literasi Keuangan sebagai panduan pengelolaan remitansi agar memberikan manfaat jangka panjang bagi pekerja dan keluarganya.

Di samping itu, para PMI didorong untuk terus meningkatkan kompetensi dan keterampilan sebagai bekal ketika kembali ke Indonesia.

Terkait pelindungan pekerja migran, Mukhtarudin menegaskan pemerintah akan terus hadir memberikan pendampingan dan bantuan bagi PMI yang menghadapi permasalahan di negara penempatan.

“Negara selalu hadir untuk memberikan pelayanan pelindungan kepada kalian,” ujarnya.

Ia juga mengimbau PMI untuk segera menghubungi layanan resmi Kementerian P2MI apabila menghadapi kendala selama bekerja di luar negeri.

Di akhir sambutannya, Mukhtarudin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan program IJ-EPA, termasuk Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, JICWELS, Japan Foundation, dan AOTS yang berperan dalam pelatihan bahasa serta proses penempatan pekerja migran Indonesia di Jepang.

“Selamat kepada seluruh peserta. Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, dan jagalah nama baik bangsa dan negara,” pungkasnya. (*)

Advertisement