Martin Hutabarat: Tatanan Baru Jangan Lambat

 Martin Hutabarat: Tatanan Baru Jangan Lambat

Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR. (foto: rina ginting)

Jayakarta News – Pandemi Covid-19 akan melahirkan tatanan kehidupan baru. Termasuk cara masyarakat mengakses informasi. “Karenanya mulai dari sekarang masyarakat harus diedukasi agar tidak gagap dan terjerembab pada aspek negatif yang ditimbulkan dari lahirnya tatanan baru tersebut,” ujar Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR, di gedung DPR/MPR, Rabu (17/6/2020).

Berbicara di hadapan belasan wartawan senior, Martin menegaskan, suka-tidak-suka kita sedang berada pada arah terjadinya perubahan tatanan kehidupan. Cara hidup berubah, cara bekerja berubah, cara belajar berubah, tata pergaulan berubah, dan banyak hal lain yang berubah. “Termasuk cara masyarakat mengakses serta memaknai informasi yang berkembang,” ujarnya.

Mantan Pimpinan Umum Harian Jayakarta ini bahkan menyebut, era media konvensional bakal tergeser oleh media sosial. Medsos bakal semakin besar perannya, karena masyarakat dijejali medsos dalam intensitas yang luar biasa tinggi. “Bayangkan, berita bergulir dengan sangat cepat. Baik berita terkonfirmasi maupun berita yang sumir. Baik pemberitaan media online maupun broadcast whatsapp,” kata Martin.

Keadaan seperti itu ibarat hadirnya dua sisi mata uang. Ada siang ada malam. Ada baik ada buruk. Ada berita positif ada hoax –dan ujaran kebencian. “Hoax dan ujaran kebencian masih akan marak di dalam peradaban baru yang sedang kita masuki. Tidak ada waktu lagi untuk menunda mengedukasi masyarakat. Sekaranglah waktu yang tepat. Jangan terlambat,” tandas Martin Hutabarat pula.

Martin Hutabarat saat berdialog dengan para jurnalis senior di ruang rapat Gedung Nusantara V, Rabu (17/6/2020). Pertemuan tetap memperhatikan protokol kesehatan, jaga jarak. (foto: rina ginting)

Dalam kaitan inilah, menurut Martin, MPR sebagai lembaga negara ikut bertanggung jawab dalam menjaga dan merawat ke-bhinekaan bangsa. MPR harus ikut terus-menerus mengingatkan masyarakat akan perlunya kita membangun etika dan solidaritas berbangsa dan bernegara, sebagaimana diamanatkan TAP MPR No V1/MPR/2001.

“Pentingnya sikap jujur, saling menghargai, saling mencintai, saling menolong sesama manusia, mengembangkan budaya malu, keteladanan dan etos kerja adalah bagian dari etika dan moral ke-Indonesiaan yang harus kita jaga,” tegasnya.

Kalau nilai-nilai dan etika kebangsaan ini dapat kita pelihara dengan baik, maka ke depan NKRI akan tetap dapat kita jaga dalam bingkai persatuan dan kesatuan. “Intinya, jangan sampai terjebak pada benturan yang bisa mengancam persatuan kita sebagai sebuah bangsa. Contoh, RUU Haluan Ideologi Pancasila. Ini harus disikapi secara arif,” kata Martin.

Di sinilah peranan pengendalian diri sebagai warga negara perlu kita pertahankan terus-menerus agar jangan sampai terjebak pada benturan yang mengancam persatuan kita sebagai bangsa.

Terakhir, kepada para jurnalis senior Martin mengajak agar bersama-sama mengantisipasi perubahan pola hidup masyarakat selama dan pasca pandemi Covid-19. “Kecepatan menyampaikan informasi mungkin perlu, tapi jauh lebih penting menyampaikan informasi yang akurat dan seimbang,” pungkas Martin Hutabarat. (melva)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *