‘Lima’ Tetap 17 Tahun – Adegan Sila Pertama Jadi Alasan

 ‘Lima’ Tetap 17 Tahun – Adegan Sila Pertama Jadi Alasan

UPAYA mediasi produser film ‘Lima’, komunitas film dengan Lembaga Sensor Film (LSF) dan DPR terkait penurunan klasifikasi umur film ‘Lima’ tak membuahkan hasil. Pertemuan tertutup di Ruang Rapat Pleno, Gedung Film, Jakarta, Senin (28/5) tetap pada hasil sebelumnya.

LSF tetap pada keputusannya bahwa film yang diproduseri Lola Amaria ini hanya bisa ditonton oleh usia 17 tahun ke atas, alias tidak bisa ditonton untuk 13 tahun ke atas seperti yang diusulkan sebelumnya.

“Melalui dialog yang konstruktif antara kami dan pemilik film disepakati film ini dengan berbagai pertimbangannya, 17 tahun ke atas,” ujar Ketua LSF, Ahmad Yani Basuki usai rapat mediasi.

Sayangnya, baik dari produser ‘Lima’ maupun LSF enggan membeberkan alasan jelas film yang tayang di 31 Mei 2018 ini tetap di klasifikasi umur 17 tahun ke atas.

“Bagi LSF tidak ada yang memberatkan. Bagi LSF klasifikasi ada ketentuan-ketentuannya. Kita sepakat, karena ada sensivitasnya, tidak menjadi konsumsi publik tapi hanya konsumsi internal,” lanjut Ahmad Yani saat ditanya alasan kepastian LSF tetap pada keputusannya.

Soal klasifikasi 17 tahun ke atas ini sebenarnya sudah menjadi bahasan saat Press Screening film ini pada Kamis (24/5). Disebut-sebut, salah satu alasannya adalah adanya adegan di bagian Sila Pertama yang menceritakan penguburan Maryam yang seorang muslim, namun karena suaminya Katolik dan dari tiga anaknya, hanya Fara, anak tertuanya yang muslim, maka penguburan Maryam sempat mengalami penolakan.

Atas dugaan itu, Lola selaku produser tak mau menyebut jika hal itulah yang menjadi hal utama LSF tetap pada keputusannya.

Sementara itu, di Gala Premier Lima di Epicentrum, Rabu (30/5), Ketua Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP), Yudi Latif menegaskan film Lima perlu ditonton untuk 13 tahun ke atas. “Agar masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa semakin paham makna dan hakekat pembumian nilai-nilai Pancasila”, ungkap Yudi Latif. Senada Halida Hatta (puteri ke 3 Bung Hatta). ” Lima harus diviralkan. Karena Pancasila adalah cara hidup kita sehari-hari, ” demikian Halida ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *