Komnas Perlindungan Anak Dukung BPOM Melabeli Galon Guna Ulang Mengandung BPA

 Komnas Perlindungan Anak Dukung BPOM Melabeli Galon Guna Ulang Mengandung BPA

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait apresiasi BPOM yang segera memberi label bahaya BPA pada kemasan galon guna ulang. (ist)

JAYAKARTA NEWS – Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait sangat mendukung langkah BPOM yang akan segera memberi label Free BPA pada Air Minum Dalam Kemasan Galon. 

Rencana BPOM tersebut, menurut Arist Merdeka Sirait melampaui ekspektasi dirinya. Sebelumnya, Arist mendesak BPOM agar memberi label pada galon guna ulang dengan redaksi tidak cocok untuk bayi, balita dan janin. Karena BPA yang terdapat pada galon guna ulang dapat migrasi ke dalam air.

Ternyata BPOM setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak berencana memasang label Free BPA.

“Saya dari Komnas Perlindungan Anak, kepentingan saya melindungi anak agar mendapat makanan yang sehat. Jika bayi, balita dan janin sehat dan terlindungi maka Indonesia ke depan akan lebih tangguh,” ungkap Arist Merdeka Sirait saat ditemui di kantornya di jalan TB Simatupang no 33, Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Sabtu, 4 Desember 2021.

Arist juga menekankan kepada pihak-pihak yang menentang rencana BPOM untuk melabeli. Menurut Arist, betapapun kesehatan masyarakat adalah yang harus menjadi pertimbangan utama. Apalagi bagi kesehatan bayi, balita dan janin.

Arist Merdeka sangat geram, ketika ada oknum yang mengaku sebagai pengamat kebijakan publik dan seorang ketua asosiasi menyebarkan ke media massa bahwa bahaya BPA adalah hoax.

“Darimana BPA Hoax…? Pernyataan bahaya BPA itu hoax jelas menjerumuskan masyarakat. Harusnya masyarakat dianjurkan agar makin berhati-hati dalam menjaga kesehatan, ini dipengaruhi oleh orang yang tidak jelas kapasitasnya. Bahkan keberpihakannya saja patut dipertanyakan. Sudah jelas hasil penelitian ilmuwan dunia menyatakan, BPA berbahaya bagi usia rentan. FDA negara-negara maju telah melarang penggunaan kemasan plastik dengan kode No.7 yang mengandung BPA bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh bayi, balita dan ibu hamil,” tutur Arist.

Arist juga percaya, BPOM sebagai lembaga yang independen akan tahu dengan sendirinya mana pihak yang berpendapat untuk kepentingan dan keuntungan pribadi yang mengorbankan kesehatan bayi, balita dan ibu hamil, dan mana yang tulus untuk masyarakat.

“Jadi peringatan seperti pada susu kental manis atau pada bungkus rokok, sehingga masyarakat tahu bahwa produk itu kurang aman bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil,” tandas Arist Merdeka Sirait.

Menurut Arist, Indonesia belum siap seandainya harus benar-benar free BPA. Walaupun kampanye kemasan plastik free BPA sudah berkumandang di mana mana.

“Yang lebih mudah dan tidak akan menambah cost terlalu banyak dengan menempel label bahwa kemasan plastik yang mengandung BPA tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin,” ujar Arist.

Dampak yang ditimbulkan sudah sering diungkapkan di dalam jurnal-jurnal kesehatan internasional. Secara akumulatif bisa menimbulkan berbagai mana penyakit seperti di antaranya, kanker, saraf, obesitas, lahir prematur dan lain lain.

Sifat bisphenol A yang masuk ke dalam tubuh langsung mengambil alih hormon yang bertugas untuk memerintah. Nah ini yang membuat metabolisme dalam tubuh kacau. Dalam jangka waktu yang lama bisa berbahaya.

Sementara menurut Penasehat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banten, dr Arius Karman MARS agar penggunaan kemasan plastik yang mengandung Bisphenol A (BPA) harus disertai peringatan bahwa penggunaan jangka panjang akan berisiko penyakit.

“Sebaiknya juga tidak digunakan dalam suhu panas, karena saat suhu panas BPA akan larut dan ikut termakan,” ujar dr Arius di Jakarta, baru-baru ini.

Mantan Wakil Ketua IDI ini menyarankan, sebaiknya produsen kemasan plastik tidak menggunakan pelapis BPA agar tidak mengkontaminasi makanan dan minuman yang dikemas dalam kemasan plastik tersebut.

“Khusus untuk bayi, balita, dan ibu hamil sebaiknya pakai kemasan yang BPA free atau kemasan plastik yang tidak menggunakan bahan baku BPA” ujar dr Arius. (mons)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *