Drama & Teater
Ketika Musik dan Cahaya Mengalir dalam “Dialog Antigone”
Pengantar Redaksi
Apa jadinya pertunjukan teater tanpa dukungan penataan musik dan cahaya. Menyambung tulisan terdahulu, kita tampilkan sang penata musik dan penata cahaya. Tanpa mengurangi peran kru yang lain, setidaknya kontribusi mereka telah membuat pertunjukan teater intermedial “Dialog Antigone” di Auditorium WS Rendra, ISI Yogyakarta, 21 – 22 September 2025, lebih greget.
***
Saat tulisan ini disusun, sang penata musik “Dialog Antigone” Dr Memet Chairul Slamet masih berada di Tokyo, Jepang. Pentolan Gang Sadewa itu baru saja menggelar konser di Senju Sports Park di kawasan Senjumidoricho, Adachi City, Tokyo, Jepang (12/10/2025).
“Saya mengangkat tema lingkungan, atau environmental art dari unsur bunyi angin dan batu,” ujar Memet, sesaat sebelum bertolak ke Tokyo beberapa waktu lalu.
Doktor Memet terbilang satu-satunya pemusik etnik kontemporer Indonesia yang paling produktif. Proses kreatif dalam penggarapan musik, selalu didahului dengan endapan pemikiran. Sama seperti ketika sutradara Prof Yudiaryani mendaulatnya sebagai penata musik dalam “Dialog Antigone”.
Yang pertama-tama dilakukan pemusik berambut gondrong itu adalah mempersepsi judul, latar belakang budaya peristiwa, baru kemudian ia konsultasikan konsep musik kepada sutradara. “Tujuannya untuk menyatukan persepsi maupun tafsir,” ujar pria kelahiran Madura itu.
Fase berikutnya adalah pilihan warna musik yang bisa memperkuat persepsi atau tafsir tadi. Memet kemudian menentukan pula jenis instrumen yang akan dimainkan, dan melakukan pre-record yang dipadukan dengan live music.
“Bagian live music utamanya untuk instrumen perkusi agar hentakannya terasa bagi para aktor dan juga penonton,” ujar Memet seraya menambahkan, “saya juga membuat dua lagu yang saya ambil dari naskah yang ada.”
Adapun strategi yang digunakan Memet melahirkan tata musik yang baik, bukan dengan menghadirkan daya pikat di awal dan akhir. Ia membingkai dinamika musik pada keseluruhan adegan yang ada. “Meski begitu, saya memberi aksentuasi pada sesuatu yang substansial. Hentakan-hentakan kaki pemain juga menjadi satu kesatuan komposisi, dan itu memperkuat adegan,” papar penghobi touring motor itu.
Pada pertunjukan teater intermedial “Dialog Antigone”, gerak mengikat dengan musik, dan itu merupakan sesuatu yang menyatu. Untuk mendapatkan ruh “Antigone”, Memet mengikuti proses latihan selama berbulan-bulan secara intens.
“Terkadang, ide-ide bermunculan saat mengikuti proses latihan. Saya berterima kasih kepada Prof Yudi yang mempercayakan garapan musik Dialog Antigone kepada saya dan teman-teman. Terima kasih telah diikutkan dalam sebuah pementasan teater intermedial yang terbilang monumental di Yogya,” pungkasnya.

Dinamika Cahaya
Apresiasi yang kurang lebih sama, meluncur dari penuturan Dwi Novianto, sang penata cahaya (lighting). Kita maklumi, bahwa penataan cahaya sangat penting dalam pertunjukan teater. Tata lampu memiliki peran ganda. Pertama, penerangan mendasar untuk memastikan semua terlihat jelas. Kedua, pencahayaan artistik untuk menciptakan atmosfer, mengarahkan fokus, dan menyampaikan nuansa cerita.
Tanpa tata cahaya yang baik, pertunjukan akan terasa datar dan pesan yang ingin disampaikan mungkin tidak akan tersampaikan secara efektif. “Dan khusus untuk repertoar Dialog Antigone, saya benar-benar mendapat pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya.
Dwi yang akrab disapa Duwek ini menggabungkan elemen visual dari proyektor dengan pencahayaan panggung. Proses ini menurutnya sangat bagus karena harus berpikir lebih dinamis dan kolaboratif. Tidak hanya soal teknis pencahayaan, tetapi bagaimana cahaya bisa berdialog dengan proyeksi, menguatkan atmosfer, membentuk ruang, dan mendukung narasi pertunjukan.
Setiap adegan menuntut presisi tinggi dalam timing dan intensitas cahaya, agar tidak saling mengganggu dengan elemen visual yang diproyeksikan. “Ini membuat saya harus bekerja sangat dekat dengan tim multimedia dan sutradara, untuk menciptakan kesatuan visual yang utuh,” ujar penata cahaya yang sering “dipakai” Teater Gandrik itu.
Menata cahaya pada Dialog Antigone, telah membuka mata Dwi Novianto, bahwa dalam teater intermedia, cahaya bukan hanya penerang, tetapi juga ‘pemeran’ yang turut menyampaikan emosi dan makna. “Saya bangga bisa terlibat dalam proses kreatif yang lintas disiplin ini,” ujarnya.
Secara konseptual, “desain tata cahaya” pun telah dirancang sedemikian rupa oleh Dwi “Duwek”. Ia menyeimbangkan penekanan cahaya pada saat tampil video estetik, serta adegan yang bersifat general. “Kapan background general saya naikkan intensitasnya, dan kapan diturunkan, ini harus padu dengan kreasi tim visual,” ujarnya.
Beberapa kelincahan Dwi memainkan cahaya misalnya, kita bisa saksikan saat membuat efek dimmer yang kelap-kelip bak suasana disko, serta saat ia memancarkan cahaya romantis mengiringi Antigon berdansa mesra.
“Untuk pencahayaan general, mungkin terkesan monoton, tetapi kalau memperhatikan pertunjukan dengan khusuk dan fokus, maka akan banyak ditemui spektakel-spektakel dari visual yang sangat menarik. Pendek kata, bravo untuk Prof Yudi dan seluruh kru Dialog Antigone,” pungkas Dwi Novianto. (*)
