IFDC Putar Cuplikan 14 Film yang Tertunda Tayang

 IFDC Putar Cuplikan 14 Film yang Tertunda Tayang

Sebagian anggota IFDC sedang meriung. (foto Ipik)

JAYAKARTA NEWS – Lain lagi cara Indonesian Film Directors Club (IFDC) merayakan Hari Film Nasional. Asosiasi sutradara tanah air yang beranggotakan 67 sutradara ini menayangkan cuplikan 14 film yang tertunda tayang karena pandemi dan beberapa trailer film pasca produksi.

Program nonton bareng (nobar) di Metropole XXI ini diberi judul ‘Panjang X Lebar’. “Semoga film Indonesia makin panjang umurnya dan karya kita makin lebar ragamnya,” ujar Ketua IFDC , Ifa Isfansyah.

Puluhan sutradara film panjang, film pendek dan film dokumenter hadir dan ikut nobar, bahkan ada yang baru sekali menyutradarai film, diantaranya Reza Rahadian, Riri Riza, Kamila Andini, Ismail Basbeth, Edwin, Pritagita Arianagara, Angga Dwimas Sasongko, dan Ifa Isfansyah. Tentu, karena pandemi masih meningkat dan belum melandai, semua penonton dalam acara terbatas ini wajib di swab test antigen terlebih dahulu.

Ifa Isfansyah, Ketua IFDC (foto : Koleksi IFDC)

Beberapa cuplikan dan trailer film yang diputar dan diberi catatan sedikit oleh sutradaranya adalah ‘Back  Stage’ (Guntur Soeharyanto), ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” (Edwin, diangkat dari novel sastra karya Eka Kurniawan), ‘Surga Dibawah Langit ‘ (Pritagita Arianagara),  ‘Yo Wis Ben 3′ (Fajar Nugros dan Bayu Skak, film berbahasa Jawa dialek Jawa Timur), ”Yuni’ (Kamila Andini), ‘Ben dan Jody’ (Angga Dwimas Sasongko), ‘Jakarta City of Dreamers’ (Ertanto Robby Soediskam), ‘Keluarga Cemara 3’ (Ismail Basbeth), ‘Paranoia’ (Riri Riza),  ‘Losmen Bu Broto’ (Ifa Isfansyah) dll.

Sementara itu, Ketua Umum GPBSI (gabungan pengelola bioskop), Djony Syafrudin menegaskan, selama pandemi yang telah berlangsung selama setahun, imbas paling parah adalah bioskop. “Bioskop menanggung beban karena penonton minim.

Lalu ada peraturan baru dari Pemprov DKI Jakarta, boleh buka tapi 25 %. Yang terbaru dari Menparekraf, boleh 50 % dengan prokes ketat. Namun, banyak bioskop tetap tutup. Kalau buka semua, rugi,” jelas Djony Syafrudin.

Yang fatal, dengan tutupnya bioskop dan minimnya penonton ini, pihak bioskop mengalami defisit mencapai Rp 150 juta perbulan. Sedangkan bioskop independen mendapat gempuran kerugian Rp 50 juta hingga Rp 75 juta perbulan,” sergah Djony Syafrudin yang memiliki beberapa bioskop di luar Jakarta dan luar Jawa, dengan mimik sedih. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *