Connect with us

Entertainment

Hari Film Nasional: Quo Vadis?

Published

on

JAYAKARTA NEWS— Apa itu Film Nasional? Setiap tanggal  30 Maret kita memperingati Hari Film Nasional (HFN) dan tahun ini yang ke 76 (1950 – 2026).

Pada 30 Maret 1950 dimulailah produksi film yang seluruh pemeran dan kru nya orang pribumi Indonesia. Usmar Ismail, sutradara asal Minang membuat film berjudul ‘Darah dan Doa’ (The Long March).

Berbagai acara dan seremoni dihelat memperingati HFN di Banten oleh Pemerintah.

Tanggal 1 April 2026 di jaringan bioskop CGV, Grand Indonesia, Jakarta diputar film ‘Darah dan Doa’ secara gratis dengan pembicara sineas Joko Anwar (Jokan).

Di XXI Epicentrum Walk, Rasuna Said, Jakarta, digelar gala premier film ‘Hostage’s Hero’ yang resmi akan dirilis 2 April 2026.

Memang, suasana HFN masih gegap gempita ber aroma Lebaran.

Ada 6 film nasional tayang sebelum, selama dan paska Lebaran (2 genre drama, 2 horor dan 2 anak). Gedung bioskop dipenuhi penonton yang berjejal membeli tiket secara ‘mtic’ dan antre yang nyaris ‘mengalahkan’ penonton film asing.

“Film adalah wajah kita di mata dunia. Soft diplomacy yang paling terasa. Sebagai negara ‘mega divercity’, dari sana Indonesia dikenal  lewat cerita yang jujur dan dekat’ demikian pesan Menteri Kebudayaan, DR Fadli Zon menyambut HFN.

Noorca Marendra Massardi, Wakil Ketua LSF

Sutradara Adi Suryaabdy menyatakan bahwa 30 Maret sebagai pengingat ada keberanian menyatakan sesuatu :

“Ini film Indonesia !”.

Wajar ?

Adi Suryaabdy (ASA) juga mengeluarkan kritik dan uneg-unegnya.

“Kita sedang membangun industri yang timpang. Sebagian film nasional memenuhi layar bioskop namun sebagian lagi  beroleh sisa nya alias lama menanti jadwal tanggal tayang,” ucap ASA.

HFN lahir untuk memperbaiki kondisi itu.

Dikatakannya, kita tak menolak pasar tapi keberanian tak boleh hilang,” tegasnya.

Masa depan film Indonesia tidak ditentukan oleh penonton di hari Lebaran.

Tapi tetap berani menjaga makna di belakang setiap cerita.

Senada ucap Wakil Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Noorca Marendra Massardi.

“Di tengah tekanan komersial dan eksploitasi pasar, sineas Indonesia tetap berani jujur dalam berkarya. Ini adalah bentuk perlawanan paling sunyi dan paling penting,” urai Noorca yang budayawan dan wartawan yang lama studi sinematografi di Perancis.

Simak puisi budayawan dan aktor Yose Rizal Manua ihwal film.

“Film adalah gambar hidup yang direka dan diramu dari sastra, drama, musik, teater, tari dan senirupa dengan adonan bentuk warna, nada, irama, tempo, ruang, komposisi dan harmoni yang berkelindan dan yang menuntut fiksi menjadi realita,” timpal Yose Rizal Manua yang bermain elok di film ‘Pangku’ debut sutradara Reza Rahadian.

Last but not least, quo vadis  (sedang menuju kemana) film Indonesia ? (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement