Feature
Hujan, Pesan WhatsApp dan Kenangan tentang Nanang
JAYAKARTA NEWS— Sabtu malam, 20 Desember 2025. Hujan turun perlahan di Bogor, membasahi jalanan yang lengang. Langit kelabu menggantung rendah, seolah turut menundukkan kepala, menyimpan duka yang belum sempat terucap.
Pukul 20.46 WIB, layar ponselku menyala. Sebuah pesan WhatsApp masuk, memecah keheningan malam. Pengirimnya: Ratu Siti Elty Maryati, sahabat lama yang akrab kupanggil Bunda Elty.
“Assalamualaikum Gus, udah tau Nanang meninggal tadi siang.”
Aku terdiam. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucapku lirih. Dada bergetar, jantung seolah berhenti sesaat. Rasanya seperti ditampar kenyataan yang tak ingin kuterima.

Kabar dari Bunda Elty menyebutkan, Nanang Sumarno meninggal dunia setelah pulang dari acara kondangan. Ia sempat jatuh lemas dan dilarikan ke rumah sakit. Namun saat tubuhnya ambruk sekitar pukul 13.10 WIB, nyawanya telah lebih dulu pergi. Usianya 59 tahun. Rumahnya di Jalan Pangrango 1, Jatibening Baru, Bekasi—tak jauh dari SD Pelita Alam.
Nama itu, Nanang Sumarno, langsung menyeret ingatanku ke masa silam. Kami pernah berbagi hari, lelah, dan tawa di Harian Jayakarta. Bersama Bunda Elty, kami satu atap meski beda divisi. Kami sama-sama muda, sama-sama percaya bahwa kata-kata bisa mengubah dunia.
Namun waktu tak pernah memberi ruang untuk tetap tinggal. Ketika Harian Jayakarta berhenti terbit pada 1998, jalan kami tercerai. Kesibukan dan jarak membuat kabar satu sama lain perlahan menghilang.
Hingga 2017 datang membawa kejutan: reuni eks Jayakarta mempertemukan kembali wajah-wajah lama, termasuk Nanang. Dari pertemuan itu lahirlah Jayakarta News.com, wadah baru untuk semangat lama yang tak pernah padam. Sejak saat itu, setiap ada agenda Jayakarta News, kami kembali duduk bersama, berbincang ringan, mengenang masa lalu, tertawa kecil. Seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan kami.
Malam itu, aku menelepon Bunda Elty. Suaranya berat, penuh kenangan yang mendesak keluar.
“Aku dekat sama almarhum,” katanya pelan. “Dia sering nelpon, minta aku subscribe YouTubenya. Kadang cuma ngobrol, saling tanya kabar.”

Kenangan terakhir itu terasa begitu hangat dan kini, begitu menyakitkan.
“Selasa kemarin terakhir kami telponan,” lanjutnya. “Aku malah becandain dia, kamu udah lama tinggal di Jakarta, tapi ngomongnya masih medok. Dia ketawa waktu itu.”
Tawa itu kini tinggal gema. Tak akan ada lagi suara di ujung telepon. Tak ada lagi panggilan mendadak hanya untuk bertanya kabar.
“Aku tadi sampai nangis,” ujar Bunda Elty, suaranya bergetar. “Sedih banget. Soalnya kami lumayan sering telponan.”
Pertemuan terakhir mereka nyaris terjadi
“Sabtu kemarin sebenarnya ada tahlilan di rumah teman,” katanya. “Tapi dibagi dua sesi. Aku datang pagi, almarhum malam. Jadi kami nggak ketemu.”
Beberapa hari kemudian, Bunda Elty kembali menelepon Nanang.
“Aku nanya, ‘Nanang datang nggak tahlilan malam itu? Dapat Yasin nggak?’ Dia jawab nggak ambil Yasin. Katanya awalnya nggak mau datang karena lagi kurang sehat. Tapi bapak-bapak di sana nyuruh datang juga, nanti siapa yang jadi MC pembuka?’ Akhirnya dia datang.”
Di sanalah firasat itu muncul.
“Udah kerasa kayaknya sakitnya,” ujar Bunda Elty lirih.
Hujan di luar masih turun pelan, seolah memberi waktu bagi duka untuk menetap. Malam itu, Bogor basah oleh hujan dan kami basah oleh kenangan.
Nanang Sumarno telah berpulang. Namun suaranya, tawanya, dan jejak persahabatan yang ia tinggalkan akan terus hidup di antara kami yang pernah berjalan bersamanya, yang pernah berbagi mimpi di kantor yang sama: Harian Jayakarta.
Selamat jalan, kawan.
Tenanglah di keabadian.
Kami akan selalu mengingatmu.*** Agus
