Connect with us

Feature

Jejak Cahaya

Published

on

Oleh: Brigjen Purn MJP Hutagaol

“Langit tak pernah marah, hanya manusia yang lupa membaca diamnya.”


Langit Tak Pernah Diam

Setiap pagi, sebelum ayam jantan berkokok, langit di atas Nusantara bernafas pelan. Desir halus itu bukan angin, tapi suara kehidupan — mengingatkan bahwa alam selalu berbicara kepada manusia yang mau mendengar.

Manusia mengejar harta, kekuasaan, dan pujian. Namun bumi diam, hanya menatap, menunggu manusia sadar bahwa hidup ini tak bisa dilawan dengan akal semata, melainkan harus diselami dengan kesadaran.

Ketika gempa, banjir, atau tsunami datang, bukan semata murka. Itu panggilan agar manusia berhenti sejenak — menunduk, mendengar, dan membaca kembali hukum sebab-akibat yang tertulis di langit dan bumi.


Arga dan Bayangan Waktu

Arga berdiri di tepi sungai yang nyaris kering. Ia bukan perwira muda, bukan orang suci, hanya manusia yang sedang mencari arti kata “sempurna.”

Ia melihat tumbuhan kecil tumbuh di celah batu, batangnya tegak melawan arus.
“Bahkan tumbuhan pun tahu ke mana ia menghadap,” katanya lirih, “ke arah cahaya.”

Tumbuhan tak pernah bertanya siapa yang memberi tanah atau air. Ia hanya hidup dalam ketaatan alami — itulah kesempurnaan dalam hukum alam.

Manusia seharusnya begitu: tidak menantang alam, tapi berjalan selaras dengannya.


Ketika Laut Menelan Kota

Malam itu laut bergemuruh. Ombak setinggi gedung menelan kota pesisir. Lumpur dan puing berserakan di mana-mana. Jeritan manusia bercampur kebingungan.

Arga berjalan pelan, mengamati kehancuran. Dalam hatinya, ia menyadari: alam tidak jahat. Ia hanya menuntut manusia untuk sadar dan selaras.

Beberapa saat kemudian, di tepi lumpur, ia melihat seorang anak kecil sedang membersihkan tanah di sekitar puing, menggenggam ranting kecil. Mata anak itu memancarkan keberanian dan harapan. Tanpa banyak kata, ia mulai menanam ranting itu di tempat yang lebih tinggi.

Arga menunduk, tersenyum tipis:

“Kau mengerti sesuatu yang bahkan aku masih belajar.”

Ia membantu anak itu menanam, merasakan tanah di tangan, air di sela jari, dan menyadari: manusia sempurna bukan yang tak pernah jatuh, melainkan yang tetap menanam harapan di tengah kehancuran.


Angin yang Membisik

Musim berganti, hujan datang dan pergi. Pohon kecil yang ditanam anak itu mulai menembus lumpur, daun hijau tipisnya rapuh tapi tegar.

Arga duduk di dekatnya, menatap pertumbuhan yang lambat namun pasti. Setiap daun yang muncul mengingatkannya bahwa kesadaran dan harapan membutuhkan waktu untuk tumbuh, sama seperti pohon ini.

Angin berhembus, membawa pesan:

“Kesempurnaan bukan gelar, tapi kesetiaan jiwa pada irama semesta.”

Arga tersenyum. Kini ia tak lagi mencari pengakuan. Ia hanya ingin menjadi bagian kecil dari keseimbangan alam, berjalan seiring waktu, menyatu dengan kesadaran yang tenang dan bercahaya.


Epilog — Jiwa yang Menyapa Langit

Setiap jiwa datang dan pergi. Tapi cahaya kesadaran tetap berjalan di antara reruntuhan waktu. Bencana, kehilangan, penderitaan — semuanya pintu menuju pemahaman.

Ketika manusia berhenti melawan dan mulai mendengar, barulah ia mengerti:
kesempurnaan bukan soal tubuh atau jabatan, melainkan kemampuan jiwa untuk kembali ke sumbernya.

Arga menatap langit yang kini cerah. Ia berbisik pelan:

“Aku tidak sempurna. Tapi aku mau berjalan dalam cahaya.”

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement