Dari Bengkel ke Alam, Terbitlah “Trilogi Teater Alam”

 Dari Bengkel ke Alam, Terbitlah “Trilogi Teater Alam”
Trilogi Teater Alam: Azwar AN Manusia Teater, Teater Alam di Panggung Zaman, dan Potret Teater Alam, Warna-warni Testimoni. (dok. Teater Alam)

Dalam beberapa hal, Teater Alam adalah bagian tak terpisahkan dari Bengkel Teater. Dalam beberapa hal pula, Teater Alam adalah sebuah penyempurnaan –jika tak mau dibilang koreksi—atas Bengkel Teater. Penerbitan buku “Trilogi Teater Alam”, juga lahir dari usaha menyempurnakan apa yang tidak dilakukan Bengkel Teater.

Sebagai kelompok teater paling dihormati di tanah air, Bengkel Teater lupa membukukan segala aktivitasnya menjadi buku. Buku Bengkel Teater baru terbit Agustus 2014, lima tahun pasca kematian Rendra. Penerbitnya Burung Merak Pers, dengan editor Edi Haryono dan Bela Studio. Bela Studio mengumpulkan 10.000 klipingan berupa guntingan koran, esai-esai yang tercecer, hasil wawancara, dan lain-lain hingga buku ini disusun seperti sebuah almanak.

Isinya menjadi potret media massa merekam langkah Bengkel Teater sampai pada pementasannya yang terakhir. Buku setebal 800 –an halaman ini berisi catatan lengkap dokumentasi media massa soal pementasan-pementasan Bengkel Teater. Buku itu berjudul “Menonton Bengkel Teater Rendra”.

Teater Alam menyempurnakannya dengan menerbitkan buku “Trilogi Teater Alam”. Mengapa trilogi? Jawabnya, mengapa harus menyusahkan pembaca dengan membaca buku yang teramat tebal? Sebab, jika harus disatu-bukukan, maka Trilogi Teater Alam bisa mencapai 900 halaman. Karenanya, buku lantas dibagi menjadi judul.

Buku satu berisi autobiografi Azwar AN serta testimoni sahabat dan orang-orang dekat. Buku kedua “Teater Alam di Panggung Zaman”. Isinya, narasi panjang sejarah teater modern, teater modern di Indonesia, teater modern di Yogyakarta, dan Teater Alam itu sendiri. Buku ketiga “Warna-warni Testimoni”. Isinya celoteh anggota Teater Alam lintas generasi, dalam penuturan aneka gaya. Ada yang “nyablak”, ada yang ja’im, ada yang malu-malu, dan warna-warni testimoni lain yang menggambarkan bagaimana pengalaman masing-masing digembleng di kawah candradimuka Teater Alam.

Tiga-dalam-satu buku itu rencana diluncurkan jelang ulang tahun Teater Alam ke-47, yang jatuh tanggal 4 Januari 2018. “Tanggal persisnya, masih kami koordinasikan dengan Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, sebagai pendukung penerbitan ini,” ujar Edo Nurcahyo, pimpro proyek penerbitan dan pementasan Teater Alam.

Trilogi Teater Alam dalam kemasan boks, terbitan Teater Alam dan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (foto: yudiaryani)

Dukungan Jurnalis

Apa yang dilakukan Azwar AN dalam menjaga bendera Teater Alam tetap berkibar di angkasa Yogyakarta, adalah membangun “human relation”. Itu pendapat Oka Kusumayudha, jurnalis senior Yogyakarta, dalam testimoninya dalam buku Trilogi Teater Alam. Salah satunya, membina hubungan baik dengan komunitas jurnalis dan penulis. Di luar keperluan publikasi, Azwar berkawan baik untuk banyak hal. Oka punya pengalaman menarik tentang cerutu yang didapat dari dalam keraton bersama Azwar.

Tak heran, jika banyak jurnalis dan penulis selain Oka, yang akhirnya berkawan baik dengan Azwar. Dalam berbagai sudut pandang, mereka berpartisipasi mengisi bagian dari buku Trilogi Teater Alam. Di antara mereka, ada Ashadi Kartunis, Ashadi Siregar, Bambang JP, Butet Kertarajasa, Daru Mahelsdaswara , Idham Samawi, Indra Tranggono, Kamal Firdaus, Mustofa W. Hasyim, Purwadmadi, Putu Wijaya, Roso Daras, Seno Gumira Ajidarma, Sigit Sugito, Sutomo Parastho, Yudhistira ANM Massardi, dan beberapa nama lain. Mereka adalah para jurnalis dan penulis, yang tak lain adalah saksi mata proses dinamika kebudayaan di Yogyakarta.

Buku ini diharapkan memenuhi harapan banyak pihak. Setidaknya sudah dua-tiga tahun wacana penulisan buku tentang Azwar AN dan Teater Alam mengemuka. “Alhamdulillah, gagasan ini mengerucut pasca halal bihalala Teater Alam Juni 2018. Teater Alam memiliki sejumlah penulis buku, dan merekalah yang kami minta menyusun,” ujar Edo, teaterawan berambut putih gondrong itu, seraya menambahkan, “sebagai kurator dan editor, Roso Daras dan Yudiaryani.”

Roso Daras dan Yudiaryani, kurator dan editor buku Trilogi Teater Alam. (foto: bambang wartoyo)

Penyempurna Bengkel

Mengilas balik ke dua manusia teater: Rendra (alm) dan Azwar AN. Bengkel Teater lahir dari kesepakatan mereka pada tahun 1967. Dengan berbagai versi alasan, Azwar kemudian meninggalkan Bengkel Teater akhir tahun 1971. Tak sampai seminggu kemudian, 4 Januari 1972, Azwar mengerek bendera Teater Alam.

Rendra, dengan eksplosivitas berkesenian, harus menerima risiko “dibungkam” rezim Orde Baru. Rendra membawa Bengkel Teater jalan mbedudu dan tidak peduli jika akhirnya menabrak tembok besar. Tak pelak, untuk sekian lama aktivitas Bengkel Teater yang kemudian diboyong ke Jakarta, lalu ke Depok itu, vakum. Mati suri. Tiada aktivitas berteater lagi.

Azwar menyempurnakannya dengan memainkan naskah-naskah Barart. Ia berkelak-kelok gesit menghindari karang rezim semi-totaliter. Dalam beberapa hal, ia sama sekali tidak keberatan jika naskahnya harus dicabik-cabik aparat kepolisian dan dinas politik (saat itu), agar “aman”, dari kritik kepada penguasa. Beberapa kali Azwar AN mendekam di balik jerajak besi, lebih karena unjuk solidaritas. Seperti saat Rendra digelandang ke tahanan, Azwar yang nota bene tidak dibidik, justru memaksa diri untuk ikut ditahan.

Pendek kalimat, Teater Alam terus pentas, terus melahirkan karya, terus mengembangkan sayap, justru pada saat Bengkel Teater vakum. Panggung Taman Izmail Marzuki (TIM) Jakarta, menjadi ajang langganan pementasan Teater Alam. Juga Pasar Seni, Ancol. Di samping, gedung-gedung kesenian di kotanya sendiri, Yogyakarta. Sesekali, tampil ke luar kota seperti Bandung, Malang, Lampung, sampai ke Malaysia.

Panembahan Reso menandai kebangkitan Bengkel Teater, tahun 1986. Rendra memerankan Panembahan Reso. Adi Kurdi dan sejumlah aktor gaek Bengkel Teater turun gunung. Sayang, repertoar-repertoar Bengkel Teater selanjutnya, tidak berkelanjutan. Sebaliknya, Teater Alam, justru tengah berada pada puncaknya. Tiada tahun berlalu tanpa produksi. Tidak satu, ada kalanya dua, bahkan lebih.

Sedikit-banyak, buku Trilogi Teater Alam menyinggung persinggungan, pertautan, Teater Alam dan Bengkel Teater. Memotret kelindan Rendra dan Azwar. Dus, Trilogi Teater Alam, pada galibnya adalah potret akar teater modern Indonesia. Bukankah sebuah referensi yang sangat penting? (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *