Cawapres yang Dibilang Presisi Dampingi Jokowi Bertarung di Pilpres 2019

 Cawapres yang Dibilang Presisi Dampingi Jokowi Bertarung di Pilpres 2019
Presiden Joko Widodo dan Menko Polhukam Wiranto

JayakartaNews – Dinamika politik di internal Parpol koalisi pemerintah terus bergerak dalam tanya: siapa sesungguhnya yang paling presisi dipilih oleh Presiden Jokowi menjadi Cawapresnya pada Periode II Pilpres 2019-2024?

Analis masalah politik, Rahman Sabon Nama, memastikan Presiden Jokowi memiliki rasio dan intuisi politik yang mumpuni menjatuhkan pilihannya kepada Cawapres yang bakal mendampinginya nanti. “Saya meyakini naluri politik Presiden Jokowi juga paling tajam. Tidak hanya rasio dan intuisi politiknya,” tutur Rahman Sabon , Senin subuh (29/7).

Alumnus Lemhanas RI ini mengatakan pilihan Presiden Joko Widodo tentu tidak sebatas pada kriterium kapasitas dan kapabalitas yang dimiliki oleh sosok Cawapres yang akan mendampininya. “Tetapi juga harus memiliki loyalitas, integritas, dan kecocokan (chemistry) secara lahir dan batin dengan Presiden Jokowi,” katanya.

Ditanya, siapa yang tepat memenuhi kriteria itu, Rahman Sabon Nama, merujuk pada hasil observase-riset dan analisis lapangan tentang pergerakan politik nasional dari dua organisasi yang dia pimpin. Yaitu,Organisasi prefesi Orsinalmas APT2PHI (Asosiasi Pedagang Dan Tani Tanaman Pangan Indonesia) dan Ormas Persatuan Pengamal Tharekat Islam (PPTI)–Ormas Kino Kino Pendiri Sekber Golkar).

Observasi itu dilakukan selama tiga bulan sejak paruh April sampai Juli 2018. Hasilnya secara analisis, kata Rahman, kriterium secara paripurna meliputi kapasitas, kapabilitas, loyalitas, integtitas, dan chemistry lahir-batin dengan Presiden Jokowi terdapat dan melekat pada Jend (Pur) H. Wiranto, SH Menkopolhukam di Kabinet Kerja Presiden Jokowi.

“Itu hasil analisis atau kajian rasionalitas. Kajian spiritualitas (batiniah/langit) dari beberapa ulama Mursyid dan Majelis Tinggi Tharikat Islam yang ia temui, juga kajian berbagai aspek, pun menyimpulkan: Jend. (Pur) H. Wiranto,SH lebih presisif menjadi Cawapres dari Presiden Jokowi sebagai Capres untuk Periode II,” terang Rahman Sabon.

Oleh sebab itu, menurut Rahman, Presiden Jokowi dengan enam Parpol koalisi perlu secara matang mempertimbangkan bahwa Jend (Pur) H. Wiranto merupakan Cawapres yang betul-betul tepat bagi Presiden Joko Widodo sebagai Capres pada Pilpres 2019.

“Itu tak berarti saya menafikan kapasitas, kapabalitas dan kriterium lainnya dari beberapa bakal Cawapres yang lagi ramai di media publik untuk disandingkan dengan Pak Jokowi. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin agar Pak Jokowi menjatuhkan pilihan secara benar-benar tepat dan presisif,” terang Rahman Sabon di Jakarta menjelang subuh pagi tadi.

Alasan lain Rahman, bahwa Jend (Pur)H.Wiranto yang juga berlatar belakang akademis ilmu hukum merupakan figur yang matang, senior dan mumpuni dalam urusan pertahanan, keamanan , ketertiban, dan hukum yang menjadi kebutuhan penting dan strategis pada era Periode II kepemimpinan Jokowi.

Wiranto, kata Rahman, juga piawai, lugas dan lentur dalam membangun komunikasi politik dengan semua pemimpin dan senior partai politik, tak terkecuali Parpol non koalisi atau oposisi.

Dari hasil komunikasi yang dilakukan Rahman dengan beberapa ulama ckhos di Jawa, Sulawesi, Sumatra dan Nusa Tenggara, dikatakannya bahwa pribadi Wiranto lebih diterima di kalangan umat Islam, habaib dan ulama berpengaruh. Juga dengan kalangan agama lainnya lantaran cara komunikasinya yang populis, tidak eletis.

Soal loyalitas dan integritas, Rahman mengatakan bahwa bagi Jend (Pur) Wiranto, hal tersebut sudah menjadi sikap mental dan moral Wiranto sebagai prajurit. Baik terhadap pimpinan di atasnya, terhadap negara, maupun Pancasila dan UUD 1945″ Ini merupakan komitmen yang tak bisa ditawar-tawar dari seorang prajurit yang mencapai pangkat jenderal dan menjadi panglima TNI” kata Rahman Sabon.

Wiranto juga, menurut cucu dari pahlawan Kapitan Lingga Ratu Loli NTT ini, dari aspek usia sudah relatif sepuh pada 2024, akhir Periode ke-2 pemerintahan Jokowi. Dengan sikapnya yang tidak lagi ambisius, maka urusan untuk melompat jadi Presiden lagi, sudah pupus. “Artinya, untuk kontestasi pada Pilpres 2024 pasca Pak Jokowi, akan berlangsung bebas tanpa inkumben,” kata Rahman Sabon Nama mengakhiri. (Leste)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *