Kabar
Pengasihan ala Kejawen Bali dan Sejarahnya
Gde Mahesa
Istilah Kejawen Bali sepertinya tidak umum, dan asing di telinga, keyakinan ini dipakai oleh sebagian masyarakat Bali sendiri. Istilah dalam antropolog untuk nama ke lapisan kepercayaan Jawa yang nyusup ke Bali di era Majapahit dan tetep hidup berdampingan dengan Hindu Bali. Lebih jelasnya adalah :
- Kejawen itu apa dulu ?
Kejawen merupakan sistem spiritual Jawa pra-Islam yang isinya ada, laku batin (tapa, tirakat, puasa, semedi).
Dalam konsep: rasa, kawruh, sepi, manunggal dan bersumber dari, mitologi Jawa, ajaran Sangkan Paraning Dumadi, kadang campur Sufi.
Intinya fokus ke olah rasa dan hubungan langsung dengan Tuhan tanpa banyak ritual luar. - Ketika Majapahit masuk Bali abad 14,
Bali waktu itu Hindu-Buddha, Siwa-Buddha sudah kuat. Namun para bangsawan dan punggawa Majapahit masih membawa kebiasaan kejawen yaitu ilmu kanuragan, pengasihan, ramalan, tapa.
Masyarakat Bali menyerap hal tersebut, tapi tidak dijadikan agama baru. Mereka leburkan ke sistem Hindu Bali yang udah ada. Hasilnya menjadi “kejawen” yang hidup di dalam praktik Balian, dukun, dan keluarga bangsawan.
- Jadi Kejawen Bali adalah praktik olah batin & ilmu kebatinan gaya Jawa yang dipraktikkan di Bali, tapi bungkusnya Hindu Bali.
Ciri-cirinya:
Dalam lelaku mirip Jawa : puasa mutih, pati geni, ngalong, tapi pas buka puasa tetap pakai canang dan tirta.
Sedangkantujuannya sama : pengasihan, wibawa, kekebalan, tapi dibingkai sebagai anugrah Ida Sang Hyang Widhi lewat dewa.
Dalam bahasa mantranya campuran: ada Jawa Kuno, tapi ada diselipkan mantra Bali dan Sanskerta agar nyambung dengan sistem pura.
Penganut atau pelakunya biasanya para Balian, dukun suwuk, atau keluarga pande/bangsawan yang punya trah Majapahit.
Contoh gampangnya:
Di Jawa, orang melakukan tirakat pengasihan sendirian di kuburan. Di Bali, orang melakukan tirakat yang sama, tapi malemnya sembahyang dulu di sanggah, membawa banten, terus mantranya diselipkan nama Dewi Ratih.
Singkatnya Kejawen Bali itu Jawa banget cara olah batinnya, tapi wajahnya Hindu Bali, dan biasanya ada diketemukan didaerah Gianyar, Klungkung, daerah bekas pusat kekuasaan Gelgel yang kuat trah Majapahitnya.
Bukti tekstualnya emang tidak menyebut istilah “Kejawen Bali” secara eksplisit. Sekali lagi, istilah tsb dibuat oleh antropolog untuk memberi nama ke fenomena sinkretisme Jawa-Bali pasca masuknya Majapahit. Tetapi datanya ada, dalam prasasti & lontar.
- Bukti Prasasti Masuknya Kejawen lewat Majapahit ada dalam :
- Prasasti Tumbu, 1247 Saka / 1325 M
Menyebut Sri Dharma Utunggadewa Warmadewa. Ini menunjukan Bali sudah kembali ke dinasti Warmadewa pasca Majapahit masuk. Pas periode ini, bangsawan Majapahit Arya Kenceng, Arya Damar, Arya Gajah Para dikirim ke Bali jadi penguasa daerah. - Catatan sejarah: Gajah Mada mengubah struktur kerajaan Bali persis seperti Majapahit. Para Arya disebar ke desa strategis guna memengaruhi rakyat Bali dan menggantikan elit lama.
Nah, para Arya ini membawa tradisi Jawa: kanuragan, tapa, pengasihan, ramalan. Mereka tidak membuat kepercayaan atau agama baru. Mereka masuk ke sistem Hindu Bali yang sudah ada, dan jadi cikal bakal “Kejawen Bali”.
- Bukti Lontar Tempat Kejawen Hidup
Lontar Bali merupakan gudang. Museum Gedong Kirtya Singaraja mempunyai 1750 lontar asli + 7211 salinan. Klasifikasi yang relevan :
- Tutur : berisi petuah kebatinan, mirip ajaran kejawen tentang sangkan paraning dumadi.
- Mantra/Matrastawa : banyak mantra campuran Jawa Kuno-Sanskerta-Bali. Ini jejak sinkretisme.
- Usadha: pengobatan dan pengasihan. Di sini bertemu ajian pengasihan gaya Jawa yang dibungkus istilah Bali.
- Babad : Babad Majapahit, babad Arya, babad Gelgel. Disini tertulis silsilah trah Majapahit yang membawa tradisi kejawen.
Lontar memang tidak menyebut “kejawen”. Tetapi isinya : mantra Jawa Kuno, laku puasa, ajian, dibungkus ritual Hindu Bali. Itu definisi kejawen Bali.
Contoh: Lontar Aji Pengasihan, Aji Palguna, Aji Segara Geni banyak ditemukan di Singaraja dan Gianyar. Bahasa mantranya Jawa Kuno, tetapi pembuka dan penutupnya menyebut Dewa Siwa, Dewi Ratih, dan juga memakai canang.
Fungsinya untuk membedakan :
- Kejawen Jawa : laku sepi, tanpa ritual luar, kadang campur Sufi.
- Kejawen Bali : laku sama, tetapi dibungkus canang, tirta, pura, mantra Bali-Sanskerta.
- Ciri yang Bisa Dipakai “Kejawen Bali”
- Silsilah : Pelaku biasanya trah Arya Majapahit, pande, atau Balian tua di Gianyar-Klungkung. Daerah bekas pusat Gelgel.
- Teks : Memakai lontar berbahasa Jawa Kuno, tapi ritualnya memakai banten dan tirta.
- Ritual : Laku puasa mutih/pati geni tetap ada, tapi pembuka-penutupnya sembahyang di sanggah/merajan.
Jadi Kejawen Bali itu tidak punya prasasti yang menyebut namanya. Tapi jejaknya ada di :
- Prasasti & babad: bukti masuknya orang Majapahit bawa tradisi Jawa.
- Lontar : bukti teks Jawa Kuno hidup berdampingan dengan ritual Hindu Bali.
Sebagai contoh Lontar Aji Pengasihan versi Bali yang memang campuran Jawa Kuno, Bali dan Sanskerta. Teks asli ini dari salinan koleksi Gedong Kirtya dan dipublikasikan oleh peneliti lontar, jadi ada bagian Jawa Kuno-nya keliatan jelas.
Namun bukan mantra buat dipraktekan !!!! , murni untuk bahan analisis linguistik & budaya.
- Contoh Kutipan Lontar Aji Pengasihan
Teks asli aksara Bali/Jawa Kuno:
Om sang hyang semara ratih,
sang hyang asmara manggala,
turunaken sih tresna ing manahing si ……,
mring ingsun si ……,
yen ningali tan pegat tresna,
yen krungu swara tan lali,
om sidhi astu.
Transliterasi Latin:
Om sang hyang semara ratih, sang hyang asmara manggala, turunaken sih tresna ing manahing si ……, mring ingsun si ……., yen ningali tan pegat tresna, yen krungu swara tan lali, om sidhi astu.
Terjemahan Bahasa Indonesia:
“Wahai Dewa Semara Ratih, Dewa Asmara yang memimpin,
turunkanlah kasih sayang ke dalam hati si …….,
kepada saya si …….
Jika ia melihat, jangan sampai putus cintanya,
jika mendengar suara, jangan sampai lupa.
Om, semoga berhasil.”
Bullllll….. bullllll…. klepussss…….
