Ada Senyuman Asyura Penuh Asa di Sumur Jati

 Ada Senyuman Asyura Penuh Asa di Sumur Jati
Teguh Raharjo (tengah kiri berblangkon) dan Budi Sugiarto (tengah kanan berblangkon), saat memberikan santunan kepada yatim piatu dan dhuafa, (foto-Nanang.S)

Tanggal 11 September 2018, umat islam memasuki tahun baru Hijriyah 1440H, atau disebut bulan Muharram, dan orang-orang jawa menyebutnya dengan nama bulan Suro, merupakan bulan yang sangat sakral karena dianggap bulan yang suci atau bulan untuk melakukan peruntungan, bertafakur dan berintrospeksi.

Dibulan ini pula oleh masyarakat dijadikan momentum untuk membahagiakan hati anak-anak yatim, sehingga dari tradisi tersebut muncul istilah Idul Yatama (hari raya anak yatim). Juga waktu yang tepat untuk mengingatkan orang yang selama ini acuh tak acuh, agar terbuka mata hatinya sehingga mau memperhatikan nasib anak-anak yatim. Namun demikian momen 10 Muharram tidak pula dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada hari tersebut, karena menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun.

Seperti halnya yang dilakukan oleh keluarga Teguh Raharjo dan keluarga Budi Sugiarto, mereka mengadakan acara bersama menyantuni anak-anak yatim dan kaum dhuafa di lingkungan warga kampung Cisalak, Kelurahan Sumur Batu, Bantargebang,Bekasi,Jawa Barat, 23 September 2018.

Senyuman ratusan anak yatim dan dhuafa menghiasi suasana karena ini merupakan hari lebaran bagi mereka sebagai Idul Yatama (hari raya anak yatim). Acara bertambah hikmat dengan isian ceramah agama bersama Majelis Zikir Munajat Sumur Jati, selain masyarakat setempat, acara juga dihadiri oleh anggota Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), dan ditutup dengan makan bersama dan pembagian santunan.

Kegiatan  tersebut sudah menjadi program rutin bagi keluarga besar Teguh Raharjo, tidak hanya sebatas di bulan Muharram saja, namun juga dilakukan pada saat peringatan hari besar islam lainnya seperti bulan Maulid serta pada saat ada kegiatan hajatan keluarga.

Jika selama ini kegiatan santunan dilakukan di wilayah Kebayoran lama, Jakarta Selatan, untuk kegiatan tahun ini dialihkan ke lingkungan Sumur Batu, Bekasi. Hal ini juga bertujuan untuk dapat memberikan motivasi kepada warga sekitar untuk dapat lebih peduli kepada sesama yang sedang membutuhkan, terutama kepada anak-anak yatim dan dhuafa yang berada di lingkungan setempat, karena ada hal yang berhak menerima melalui orang-orang yang mampu dan mau, karena orang yang mampu belum semua mau peduli kepada sesamanya, ujar pria kelahiran Klaten ini.

Sejumlah anggota dari Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), turut hadir dalam acara pemberian Santunan Anak Yatim dan Dhuafa. (foto : Nanang.S)

Sementara itu Budi Sugiarto, lebih banyak berharap bahwa muharam ini merupakan salah satu bulan yang dikeramatkan oleh Allah, di bulan muharam ini ada anak-anak yatim piatu,para duafa,dan fakir miskin. Alangkah seyogyanya untuk belajar mengasihi dan menyayangi kepada orang-orang yang masih perlu diperhatikan untuk membantu, agar mereka ikut sedikit tersenyum, paling tidak kita menjadi sentuhan kasih sayang sebagai bapaknya, paling tidak kalau kepada yatim antara kita dan mereka dapat merasakan hubungan batin yang dekat sebagaimana kita mempunyai keluarga, jadi tidak cukup sampai disini pemberian itu, setiap saat kita pun harus bisa membagikan apapun yang mereka perlukan, dan sebenarnya kita pun juga ada sebagian harta kita yang harus diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, mudah-mudahan dengan adanya yatim piatu,kaum dhuafa,fakir miskin dan orang-orang jompo yang perlu dibantu, menjadi suatu keseimbangan di dunia ini.

Dengan adanya rejeki yg kita bagikan kepada orang orang yang membutuhkan, mudah-mudahan dapat  menjaga harta dan keluarga kita dari suatu musibah dan menjadi amal ibadah yang dapat menolong kita di yaumil akhir nanti. Jadi kebahagian yang sejati itu adalah yang dapat membahagiakan orang lain, jadilah kita menjadi manusia yg bermanfaat walaupun sedikit tapi dirasakan oleh orang lain.

Rasa terima kasihpun tidak luput disampaikan oleh Achmad selaku Ketua RT setempat, karena dengan adanya kegiatan ini, sedikit banyak dapat membantu warganya yang membutuhkan, dan berharap ke depannya kegiatan seperti ini bisa dilakukan lebih luas dan lebih meriah lagi. (nanang s.)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.