Konsumsi Minyak Dunia Hampir 100 juta bpd, Sudah Dipuncak?

 Konsumsi Minyak Dunia Hampir 100 juta bpd, Sudah Dipuncak?

 

Konsumsi dunia akan minyak bumi sudah hampir mencapai 100 juta barel sehari (bpd). Konsumsi setinggi ini sebenarnya sudah dua kali lipat dari 50 tahun yang lalu. Selain itu, sama sekali belum terlihat permintaan minyak akan turun.

Meski saat ini upaya membangun infrastruktur energi baru dan terbarukan terus digalakkan, seperti tenaga angin, tenaga surya, geothermal atau panas bumi, juga tenaga air. Tetap saja permintaan terhadap minyak bumi naik 1,5 persen setiap tahunnya.

Dalam isu ini terselip Perjanjian Perubahan Iklim Paris 2015 lalu, yang menetapkan peningkatan suhu bumi 2 C dan lebih ambisius lagi 1,5 C dari angka pra-industri. Artinya, dunia harus mengurangi secara drastis penggunaan energi fosil — minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Sebanyak 195 negara sudah menandatangani perjanjian ini, termasuk Indonesia yang menetapkan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sampai 29% dan dengan bantuan internasional 41% dari emisi jika tidak ada tindakan atau Business As Usual.

Sejauh ini tidak ada konsensus dari para ahli mengenai kapan permintaan minyak mencapai puncaknya. Mungkin saja permintaan akan turun jika masyarakat dunia merespon isu pemanasan global, menurut pandangan Badan Energi Internasional (IEA – International Energy Agency). Lembaga ini selalu mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi mengenai kebijakan energi.

Bassam Fattouh dan Anupama Sen, Oxford Institute for Energy Studies, mengatakan perdebatan atas puncak permintaan minyak memperlihatkan pentingnya perubahan persepsi dari kelangkaan kepada kelimpahan, yang sudah mengubah perilaku seluruh pemain pasar minyak dunia, termasuk negara-negara eksportir.

Melihat argumen-argumen mengenai puncak permintaan akan minyak bumi, terlihat dunia sedang berada ditepian transisi energi. Sumber-sumber konvensional seperti minyak bumi pada akhirnya akan digantikan oleh sumber-sumber energi rendah emisi atau energi baru dan terbarukan. Disebutkan, industri minyak bumi sudah pada posisi seperti matahari terbenam.

Sekjen OPEC, Mohammad Barkindo, dalam konferensi pers di Afsel tanggal 5 September lalu, menyebutkan konsumsi minyak dunia akan mencapai 100 juta barel sehari (bpd) tahun ini — jauh lebih cepat dari perkiraan.

Dari 100 juta barel sehari sebanyak 60 juta akan dikonsumsi oleh transportasi. Sementara sistem alternatif lain seperti mobil listrik pangsa pasarnya masih kecil. Apalagi infrastruktur global untuk ekstrasi minyak bumi, gas, dan batu bara masih menjadikan bahan bakar fosil lebih murah dan efesien dibandingkan dengan energi terbarukan. Satu catatan kecil lain, pesawat terbang kemungkinan besar masih akan sangat bergantung pada bahan bakar minyak.

Kemudian, industri petrokimia, didalamnya termasuk plastik, masih jauh lebih murah diproduksi dan dibutuhkan dunia —- kendati menjadi salah satu penyebab polusi berat. Sementara alternative lain masih sedikit.

Karena itulah, meskipun banyak tekanan dari pemerintah dan penggiat lingkungan tetap saja konsumsi minyak bumi, gas, dan batu bara sangat sukar untuk turun pada dekade mendatang.

IEA sendiri memperkirakan permintaan minyak akan terus naik paling tidak selama 20 tahun kedepan mencapai 125 juta barel per hari (bpd) pada pertengahan abad ini. Namun permintaan minyak akan naik lebih sedikit jika negara-negara bertindak mulai melepaskan diri dari energi fosil (minyak, gas, batu bara), terutama jika negara-negara ini menerapkan rencana pengurangan emisi GRK-nya sesuai dengan komitmen Perjanjian Paris 2015.

Disisi lain, anggota IEA— ada 30 negara maju dan hanya ada beberapa negara berkembang— sudah tidak jadi sumber utama kenaikan konsumsi minyak. Permintaan minyak di negara-negara maju, anggota OECD, sudah tidak naik. Sedangkan negara-negara non-OECD permintaannya naik sampai dua kali lipat dalam waktu dua puluh tahun terakhir. Negara industri baru di Asia — termasuk Indonesia, Amerika Selatan dan Tengah, serta Afrika

Sementara, China National Petroleum Corp, unit risetnya, memperkirakan permintaan minyak Tiongkok akan berada pada posisi puncak dengan 13.8 juta barel perhari (bpd) pada tahun 2030 nanti.

 

Beberapa pengamat berargumentasi permintaan minyak dunia akan turun lebih cepat jika kendaraan menggunakan mesin lebih efesien dan panetrasi pasar lebih masif mobil listrik dikombinasikan dengan pertumbuhan ekonomi lebih lambat dan harga bahan bakar minyak yang mahal. Namun di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang tinggi – diperkirakan sekitar 7 persen — sangat dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja yang berlebih. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, disisi lain, mensyaratkan harga energi yang murah – tidak heran proyek listrik 35.000 MW di Indonesia sebagian besar menggunakan batu bara.

Investasi tenaga surya juga sudah meningkat tajam. Bahkan Arab Saudi – pemimpin de facto OPEC – mendukung industri ini dan membangun proyek tenaga surya terbesar di dunia.

Bagaimanapun juga konsumsi minyak dunia pasti sampai pada puncaknya — bukan soal kemungkinan tapi kapan terjadinya. Kemudian akan diikuti oleh penurunan konsumsi digantikan dengan sumber energi baru dan terbarukan.

Sumber berita: reuters.com

 

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.