• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Jangan Mudah Diadu Domba: Sejarah Tidak Pernah Menunggu Semua Orang Setuju

Jangan Mudah Diadu Domba: Sejarah Tidak Pernah Menunggu Semua Orang Setuju

June 19, 2026
Kasus Penyalahgunaan Beras SPHP: BULOG Nonaktifkan 6 Karyawannya dan Bentuk Satgas Khusus

Kasus Penyalahgunaan Beras SPHP: BULOG Nonaktifkan 6 Karyawannya dan Bentuk Satgas Khusus

October 30, 2026
PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

Kiki Syahnakri Urai Sejarah PPAD, Organisasi Purnawirawan TNI AD yang Lahir Pascareformasi 1998

October 29, 2026
PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

October 29, 2026
Update Pembunuhan Sadis di Madiun! Terungkap Ibu-Anak Dimutilasi dan Dibakar

Update Pembunuhan Sadis di Madiun! Terungkap Ibu-Anak Dimutilasi dan Dibakar

October 29, 2026
Garin Nugroho Sebut TIFF 2026 Bagian Penting dalam Karirnya

Garin Nugroho Sebut TIFF 2026 Bagian Penting dalam Karirnya

October 29, 2026
Geger! 600 Ton Beras SPHP Dioplos Jadi Premium, Mentan Ngamuk: Ini Berpotensi Ganggu Tata Niaga Beras

Geger! 600 Ton Beras SPHP Dioplos Jadi Premium, Mentan Ngamuk: Ini Berpotensi Ganggu Tata Niaga Beras

October 28, 2026
Dirut BULOG: Pengadaan Setara Beras Hasil Panen Dalam Negeri Capai 87 Persen dari Target 4 Juta Ton

Dirut Ahmad Rizal Ramdhani: BULOG Siap Jadi Penyangga Jagung Nasional

October 28, 2026
Soasialisasi SMK Go Global! Target CPMI 300 Ribu Lulusan SMK dan 200 Ribu Peserta Umum

Soasialisasi SMK Go Global! Target CPMI 300 Ribu Lulusan SMK dan 200 Ribu Peserta Umum

October 28, 2026
Tim Dirresnarkoba Polda Kalteng Gerebek Kampung Puntun, 6 Orang dan 56 Paket Narkoba Diamankan

Tim Dirresnarkoba Polda Kalteng Gerebek Kampung Puntun, 6 Orang dan 56 Paket Narkoba Diamankan

October 28, 2026
Mengabaikan Perlindungan CPMI, Kegiatan Usaha PT. Ceger Sari Buana Dihentikan

Mengabaikan Perlindungan CPMI, Kegiatan Usaha PT. Ceger Sari Buana Dihentikan

October 28, 2026
BPS Sebut Produksi Beras 2025 Diperkirakan Capai 34,7 Juta Ton

BULOG Pastikan Kesiapan Beras Nataru Aman: Stok 25 Juta Ton dan Cadangan 4,5 Juta Ton

October 28, 2026
Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

October 27, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Friday, October 30, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel
    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Jangan Mudah Diadu Domba: Sejarah Tidak Pernah Menunggu Semua Orang Setuju

by admin
June 19, 2026
in Kolom
0
Jangan Mudah Diadu Domba: Sejarah Tidak Pernah Menunggu Semua Orang Setuju
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Anugrah Arifianto

Dalam setiap gerakan publik, selalu muncul satu pola komunikasi yang berulang: ketika substansi kritik sulit dibantah, yang diserang adalah legitimasi pembawa kritik. Karena itu, ketika muncul narasi, “Mahasiswa itu meng-ATASNAMA-kan siapa sih? Aku sebagai mahasiswa gak merasa terwakili, malah aku malu,” publik perlu membaca kalimat itu secara jernih.

Kalimat tersebut sah sebagai ekspresi pribadi. Setiap mahasiswa berhak merasa tidak terwakili oleh aksi tertentu. Namun, masalahnya muncul ketika pengalaman personal itu dipakai untuk membatalkan keseluruhan gerakan mahasiswa. Di titik inilah publik mudah “diadu domba”: dari yang semula membahas isi tuntutan, tiba-tiba bergeser menjadi debat identitas, seragam, gerudukan, atau siapa yang paling berhak bicara atas nama mahasiswa.

Dalam sejarah Indonesia, hampir tidak ada perubahan besar yang dimulai oleh persetujuan total. Yang ada justru minoritas aktif yang berani merumuskan keresahan zaman, lalu mengucapkannya dengan risiko politik yang besar.

Soekarno-Hatta, misalnya, tidak pernah menggelar referendum nasional sebelum membacakan Proklamasi. Namun, teks itu tetap berbunyi, “Kami bangsa Indonesia…” dan ditutup dengan “Atas nama bangsa Indonesia.” Teks tersebut bukan klaim pribadi dua orang semata, melainkan tindakan politik-historis untuk menghadirkan bangsa yang saat itu belum mungkin hadir secara prosedural satu per satu. Kementerian Sekretariat Negara juga mencatat bahwa Sukarni mengusulkan naskah proklamasi cukup ditandatangani Soekarno-Hatta “atas nama bangsa Indonesia”, dan usul itu diterima.

Pertanyaannya: apakah semua rakyat Indonesia saat itu sudah merasa terwakili? Tentu tidak sesederhana itu. Ada elite lokal, pejabat kolonial, kelompok yang takut, kelompok yang menunggu, bahkan kelompok yang lebih nyaman dengan status quo. Kajian Yulia Sofiani tentang bupati di Priangan menunjukkan bahwa pada masa kolonial, bupati berperan ganda sebagai pemimpin tradisional sekaligus aparat pemerintah kolonial. Mereka berada dalam posisi dilematis: harus patuh kepada pemerintah kolonial, tetapi juga memikul posisi sebagai pemimpin pribumi. Pemerintah kolonial bahkan memberi kedudukan, kekuasaan, kekayaan, dan simbol kebesaran untuk mengikat elite lokal.

Artinya, sejak awal sejarah kebangsaan kita, representasi tidak pernah identik dengan semua orang merasa nyaman. Kadang, justru tindakan yang paling menentukan lahir ketika sebagian orang masih takut, sebagian lagi diam, dan sebagian lainnya menikmati tatanan lama.

Museum Sumpah Pemuda mencatat Kongres Pemuda II dihadiri sekitar 750 peserta dari berbagai organisasi, antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi.

750 orang itu jelas bukan seluruh pemuda Nusantara. Mereka sebagian besar adalah elite muda terdidik yang berkumpul di Batavia. Tetapi dari forum yang terbatas itulah lahir ikrar yang mengubah arah sejarah: “bertumpah darah yang satu”, “berbangsa yang satu”, dan “menjunjung bahasa persatuan.” Museum Sumpah Pemuda mencatat isi ikrar itu sebagai keputusan Kongres Pemuda II yang kemudian menjadi fondasi simbolik kebangsaan Indonesia.

Jadi, jika logika “saya tidak merasa terwakili” dipakai secara mentah, maka Sumpah Pemuda pun bisa dipersoalkan: apakah semua pemuda Nusantara hadir? Tidak. Apakah semua pemuda daerah saat itu langsung sepakat? Belum tentu. Apakah itu membuat Sumpah Pemuda tidak sah secara sejarah? Tidak.

Di sinilah kita perlu membedakan antara representasi total dan representasi historis. Representasi total menuntut semua orang setuju. Representasi historis lahir ketika sekelompok orang mampu merumuskan kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dalam teori representasi politik, Hanna Pitkin menyebut representasi sebagai “make present again”, yakni menghadirkan suara, kepentingan, dan perspektif warga yang tidak hadir langsung dalam ruang pengambilan keputusan.

Maka, mahasiswa yang turun aksi tidak harus mengklaim seluruh mahasiswa Indonesia satu suara. Itu mustahil. Data yang dikutip Mahkamah Konstitusi dari BPS 2025 menunjukkan pendidikan tinggi di bawah Kemendiktisaintek terdiri dari 2.840 perguruan tinggi, 267.775 dosen, dan 9.241.945 mahasiswa. Sementara pendidikan tinggi keagamaan di bawah Kemenag terdiri dari 1.001 perguruan tinggi, 44.288 dosen, dan 1.194.344 mahasiswa.

Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 10 juta jika dua rumpun itu digabung, tidak mungkin satu aksi mewakili semua orang secara psikologis. Tetapi demokrasi tidak bekerja dengan syarat semua orang harus merasa diwakili dahulu baru kritik boleh disampaikan. Demokrasi memberi ruang bagi warga untuk menyuarakan kepentingan publik sepanjang tuntutannya bisa diuji, metodenya dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak menabrak prinsip hukum.

Karena itu, kalimat “Aku sebagai mahasiswa gak merasa terwakili” tidak otomatis membatalkan aksi mahasiswa. Ia hanya menunjukkan adanya mahasiswa yang tidak setuju. Itu wajar. Yang tidak wajar adalah ketika testimoni personal itu dijadikan alat komunikasi untuk mengerdilkan seluruh gerakan, seolah-olah satu orang yang malu lebih sah daripada ribuan orang yang turun menyampaikan keresahan.

Dalam kajian komunikasi gerakan sosial, Robert D. Benford dan David A. Snow menjelaskan bahwa framing gerakan bekerja dengan membangun pemahaman bersama atas kondisi yang dianggap bermasalah, menunjuk penyebab, menawarkan perubahan, dan mengajak orang bertindak. Karena itu, serangan terhadap gerakan biasanya juga memakai framing tandingan. Bukan membantah inti masalah, tetapi menggoyang legitimasi aktornya.

Narasi “mahasiswa itu mengatasnamakan siapa?” adalah contoh framing tandingan. Ia tidak langsung menjawab: apakah tuntutan mahasiswa benar? Apakah ada masalah kebijakan? Apakah ada anggaran yang perlu dikritisi? Apakah ada penyimpangan kekuasaan? Fokusnya dipindah ke soal identitas: siapa mereka, seragamnya apa, organisasinya apa, gerudukannya seperti apa, dan apakah semua mahasiswa merasa terwakili.

Di era media sosial, teknik seperti ini sangat efektif. DataReportal mencatat Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet pada akhir 2025, dengan penetrasi 80,5 persen. Indonesia juga memiliki sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial pada Oktober 2025. Dalam ekosistem sebesar itu, satu unggahan, satu video gerudukan, atau satu kalimat “aku mahasiswa tapi malu” dapat dipotong, diperbesar, lalu dipakai untuk membentuk persepsi publik bahwa gerakan mahasiswa tidak solid.

Padahal, tidak solid bukan berarti tidak sah. Tidak semua setuju bukan berarti tuntutan salah. Tidak semua merasa terwakili bukan berarti gerakan kehilangan makna.

Secara psikologi komunikasi, narasi seperti itu juga rentan terkena false consensus effect. Lee Ross, David Greene, dan Pamela House menjelaskan kecenderungan orang melihat “false consensus” atas “relative commonness” dari sikapnya sendiri. Dengan kata lain, seseorang mudah mengira pendapat pribadinya lebih umum daripada kenyataan. Ketika seseorang berkata, “Aku mahasiswa dan aku malu,” ia bisa tergelincir pada asumsi bahwa sebagian besar mahasiswa juga malu. Padahal, itu belum tentu benar tanpa data.

Ada pula spiral of silence. Elisabeth Noelle-Neumann menyatakan, “Most people are afraid of social isolation.” Dalam konteks media sosial, orang yang berbeda pendapat bisa memilih diam karena takut diserang, dicap, atau diisolasi. Akibatnya, opini yang terlihat dominan di linimasa belum tentu benar-benar dominan di masyarakat. Ia bisa dominan karena algoritma, buzzer, tekanan sosial, atau karena kelompok lain memilih diam.

Maka, publik perlu hati-hati. Jangan sampai narasi “saya tidak terwakili” berubah menjadi alat untuk membungkam kritik. Dalam demokrasi, orang boleh tidak setuju dengan aksi mahasiswa. Orang boleh mengkritik metode demonstrasi. Orang boleh bertanya soal representasi. Tetapi kritik yang sehat harus kembali ke substansi: apa tuntutannya, apa datanya, apa dasar hukumnya, dan apa relevansinya bagi kepentingan publik.

Jika tuntutan mahasiswa salah, bantah dengan data. Jika aksinya melanggar hukum, proses sesuai hukum. Jika framing-nya keliru, luruskan dengan argumentasi. Tetapi jangan menolak kritik hanya karena ada mahasiswa lain yang merasa tidak terwakili.

Sejarah Indonesia mengajarkan bahwa bangsa ini tidak lahir dari semua orang yang serempak setuju. Ia lahir dari orang-orang yang berani berbicara lebih dulu. Sumpah Pemuda tidak menunggu semua pemuda hadir. Proklamasi tidak menunggu semua rakyat memberi mandat tertulis. Reformasi pun tidak menunggu semua mahasiswa turun ke jalan.

Karena itu, pertanyaan “mahasiswa mengatasnamakan siapa?” sebaiknya dijawab dengan lebih jernih: mereka tidak harus mengatasnamakan semua mahasiswa. Mereka cukup mengatasnamakan keresahan publik yang bisa diuji kebenarannya.

Yang harus kita waspadai bukan perbedaan pendapat antarmahasiswa. Perbedaan itu sehat. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan itu sengaja dipelintir untuk mengadu domba, memecah solidaritas, dan mengalihkan perhatian dari substansi kritik.

Jangan mudah diadu domba oleh postingan gerudukan dan seragam. Jangan buru-buru menilai gerakan hanya dari satu video, satu testimoni, atau satu kalimat viral. Dalam sejarah, perubahan besar sering dimulai dari minoritas yang dianggap mengganggu kenyamanan zamannya. Tetapi justru dari suara-suara yang semula kecil itulah bangsa ini belajar bergerak maju.

𝗦𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗥𝘂𝗷𝘂𝗸𝗮𝗻

  • Museum Sumpah Pemuda/Kementerian Kebudayaan: sejarah Kongres Pemuda II, jumlah peserta, organisasi peserta, dan isi keputusan Sumpah Pemuda.
  • Kementerian Sekretariat Negara RI dan arsip teks Proklamasi: proses perumusan, penandatanganan, serta frasa “Atas nama bangsa Indonesia.”
  • Mahkamah Konstitusi RI: data BPS 2025 tentang jumlah perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa.
    DataReportal, Digital 2026: Indonesia: data pengguna internet dan identitas pengguna media sosial Indonesia.
  • Yulia Sofiani, “Perubahan Kedudukan dan Kekuasaan Bupati di Priangan pada Tahun 1800–1916”: analisis kedudukan bupati dalam struktur kolonial.
  • Stanford Encyclopedia of Philosophy: konsep representasi politik Hanna Pitkin, “make present again.”
  • Robert D. Benford dan David A. Snow, “Framing Processes and Social Movements”: teori framing gerakan sosial.
  • Elisabeth Noelle-Neumann: teori spiral of silence dan ketakutan terhadap isolasi sosial.
  • Lee Ross, David Greene, dan Pamela House: false consensus effect dalam persepsi sosial.
Tags: gerakan mahasiswakongres pemudapolitik adu dombasumpah pemuda
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Kasus Penyalahgunaan Beras SPHP: BULOG Nonaktifkan 6 Karyawannya dan Bentuk Satgas Khusus

Kasus Penyalahgunaan Beras SPHP: BULOG Nonaktifkan 6 Karyawannya dan Bentuk Satgas Khusus

October 30, 2026
PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

Kiki Syahnakri Urai Sejarah PPAD, Organisasi Purnawirawan TNI AD yang Lahir Pascareformasi 1998

October 29, 2026
PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

October 29, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version